Selasa, Maret 9, 2021

Apakah Kulkas Halal Dibikin Para Buruh yang Hak-haknya Terpenuhi?

Fenomena Aktivis di Era 4.0

Perkembangan teknologi informasi tidak dapat dihindarkan dari generasi muda. Kemajuan teknologi membawa sebuah perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat. Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku...

Penggalangan Dana Prabowo Subianto dan Partisipasi Politik

Prabowo Subianto membuat satu terobosan baru. Dia menggalang dana untuk kepentingan partainya, Gerindra, yang akan berlaga dalam Pilkada. "Saya mohon bantuanmu, berapa banyak itu tergantung...

Apa Salah Menghina Presiden?

Negeri ini penuh muslihat. Itulah yang saya tangkap dari cerita RJ Lino tentang control room yang dikutip Rhenald Kasali. Isinya begini. Menjelang akhir Juni...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Kulkas Halal itu baik. Pada tataran niat, ia hendak bicara bahwa sesuatu yang profan bisa jadi sakral dengan syarat tertentu. Sebuah kulkas dibuat dengan bahan-bahan yang dijamin halal oleh syariat, prosesnya juga sesuai syariat (mungkin memuliakan buruhnya?) atau yang paling penting, tidak dibuat melalui rekayasa teknologi yang menyalahi ajaran agama.

Tapi apakah teknologi yang haram itu? Ya enggak tahu saya. Tapi, begini, saya kira ada yang lebih penting daripada meyakini bahwa produk yang kita pakai itu halal. Yaitu, apakah proses untuk menggunakan produk itu juga halal. Misalnya, sebelum membeli kosmetik, jilbab, dan kulkas halal, apakah kita yakin bahwa uang yang kita pakai itu halal?

Ini penting. Sebuah sarung yang baru dicuci, wangi, dan bersih bisa jadi percuma jika saat salat kita memakainya dengan kemeja pakaian yang najis. Atau, sebuah benda yang awalnya tak punya noda apa pun, jadi percuma dan haram karena prosesnya. Misal mencuri atau didapat dari suap.

Untungnya MUI atau badan sertifikasi halal tak pernah menggunakan ini sebagai standar halal. Bayangkan jika asal usul uang dijadikan syarat sebuah benda jadi halal atau tidak, kira-kira berapa santunan anak yatim, sumbangan masjid, beasiswa, atau musala sumbangan koruptor yang akan jadi haram hukumnya?

Kita bisa saja berkilah, “Kan tidak semua yang menyumbang masjid itu koruptor, ada yang bener-bener halal penghasilannya.” Tentu saja benar. Tapi kan kalau mau ngotot bahwa setiap aspek dalam hidup kita harus suci, halal, dan terjamin sumbernya, maka perlu kita yakini bahwa segala yang kita terima harus bersih dan halal dulu asalnya.

Jika mau, MUI atau lembaga standarisasi halal lain perlu melakukan penyelidikan terhadap para koruptor yang terbukti bersalah. Berapa banyak uang hasil korupsi yang mereka terima digunakan untuk pembangunan masjid, menyantuni anak yatim, umrah, atau naik haji. Kalau perlu dibikin sidang fikih, apa hukumnya naik haji dengan uang hasil korupsi.

Dalam tradisi Islam, ada sebuah hikayat tentang pengembara yang menemukan buah di sungai. Ia memakan buah itu lantas merasa menyesal setelahnya. “Aku memakan buah yang bukan milikku dan karena itu ia menjadi haram,” pikir si pengembara. Lantas si pengembara menyusuri sungai untuk menemukan si pemilik buah.

Si pemilik buah mengaku bahwa ia tidak rida buahnya dimakan, agar si pengembara mengganti. Buah yang dimakan si pengembara tidak haram bukan karena sifatnya, tapi karena prosesnya. Kemudian kita tahu, si pengembara mengabdi pada pemilik buah yang lantas memperoleh rezeki berupa jodoh istri yang cantik, harta yang banyak, dan pahala karena keinginannya memperoleh sesuatu yang halal.

Akrobat agama yang terobsesi dengan kesalihan artifisial boleh jadi menggelikan, tapi bagi banyak orang, ia adalah sumber keyakinan dan tak ada yang salah dari hal ini. Syariat agama lebih penting dari undang-undang negara, pemimpin politik lebih baik yang seagama daripada yang tidak, ini adalah hal yang sah dalam demokrasi, selama tidak mengajak orang lain melakukan tindakan kriminal.

Hanya saja, jika kamu percaya bahwa segala yang sakral lebih penting dari yang profan, maka konsistensi adalah harga mati. Kalau terobsesi dengan kulkas halal, susu halal, makanan kucing halal, kaos kaki halal, atau apa pun dengan label halal, maka sebelum ke sana, perlu kita yakinkan pada diri sendiri. Sudahkah segala yang kita miliki sumbernya halal?

Tapi bagi saya, mungkin, yang halal akan punya nilai lebih jika ia punya sertifikasi lain. Misalnya: produk yang anda beli ini (kulkas, ponsel, konsol gim) tidak dibuat oleh buruh anak, dibuat dari bahan-bahan yang aman bagi lingkungan, memberdayakan komunitas, serta punya andil dalam menyelamatkan alam.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Berita sebelumnyaGaduh Student Loan
Berita berikutnyaElegi Pendidikan Tinggi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.