OUR NETWORK

Kubah di Angkasa Vienna

Toh, saya meyakini menjadi Muslim yang baik itu adalah beyond Sunni dan Syi’ah.

Tahun 2017, saya mendapatkan sebuah anugerah dan kehormatan: terpilih sebagai international fellow di King Abdullah bin Abdulaziz International Center for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID). Lembaga ini berdiri atas kerjasama empat negara: Saudi Arabia, Spanyol, Vatikan dan Austria.

Dengan Saudi Arabia sebagai sponsor utama, KAICIID berkantor di Vienna, Austria. Sebagai fellow, ada sejumlah aktivitas yang harus saya jalani. Di antaranya adalah beberapa kali pelatihan dan dialog di kantor pusat KAICIID di kawasan Schottenring, Vienna.

Selama persinggahan di Vienna, tentu saya mengikuti pelatihan dan dialog dengan seksama. Tetapi di luar agenda formal itu, perhatian saya banyak tersita pada bangunan dan gaya arsitektur Eropa.

Dari lantai tinggi sebuah hotel, hampir setiap pagi saya menyempatkan menengok keluar jendela menikmati pemandangan pagi yang berubah-ubah. Ada kalanya semburat sinar mentari pagi yang ranum menerobos sela-sela bangunan di angkasa Vienna. Di pagi yang lain, butiran salju berwarna kristal yang jatuh menghiasi.

Di antara pemandangan itu, mata saya tertuju pada beberapa sudut. Di depan saya terhampar aneka bangunan dengan kubah sebagai ciri utamanya. Pemandangan ini mengejutkan. Pada umumnya, kubah adalah ciri masjid. Namun, kubah yang saya saksikan di Vienna bukanlah masjid, tentu saja. Kubah itu adalah bagian dari gedung-gedung penting. Lalu, pemandangan ini meninggalkan sejumlah tanya bagi saya.

Mungkin karena selama ini saya mengetahui kubah adalah ciri utama masjid, sebagai seorang Muslim saya serta-merta menghubungkan aneka kubah di berbagai sudut Vienna itu dengan Islam.

Bagi saya, mahakarya peradaban yang agung seperti karya arsitektur di berbagai kota Eropa, termasuk di Vienna, tak mungkin lahir dalam keterasingan. Karya besar pastilah merupakan hasil dari “tambal-sulam” dan adopsi dari berbagai peradaban dan masyarakat. Apalagi untuk karya arsitektur yang rumit dan kompleks, tidak mungkin berasal dari satu sumber tunggal. Tegasnya, dalam kubah, saya menangkap pengaruh peradaban lain pada Eropa. Dan, itu adalah Islam.

Seorang penulis Eropa yang memiliki minat tentang pengaruh arsitektur Islam di Eropa, Augustas Makrickas Arfu, menyebut bangunan pertama yang menggunakan kubah adalah Qubbah al-Sakhra atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Dome of the Rock, “Kubah Emas” atau “Kubah Batu” di Jerusalem.

Bagi umat Islam dan Yahudi, tempat ini memiliki makna historis dan religius yang penting. Diyakini, di dalam bangunan tersebut terdapat batu yang menjadi pijakan bagi Nabi Muhammad dalam perjalanan Isra’ Mi’raj. Sementara, bagi penganut Yahudi, batu itu diyakini sebagai tempat Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, Ishak. Nabi Daud juga diyakini lahir di tempat ini.

Pada saat Islam menyebar di berbagai wilayah, termasuk di Eropa, dengan sendirinya umat Islam membangun gedung-gedung baru, dan tentu saja masjid. Kubah merupakan salah satu ciri teknik arsitektur yang dibawa oleh umat Islam ke Eropa itu.

Maka, dalam catatan  Augustas Makrickas Arfu, masyarakat Eropa lalu mengadopsi dan mengadaptasi model arsitektur ini dan mempertahankannya sampai sekarang. Gereja di sebagian tempat di Eropa menggunakan kubah sebagai elemen aristekturalnya sejak sekitar abad ke-7, karena pengaruh eksodus para pekerja pembelah batu dari Syiria.

Kubah di Eropa sesungguhnya hanya satu fragmen kecil dalam sejarah hubungan Islam dan Eropa. Atau lebih khusus lagi kontribusi peradaban Islam terhadap peradaban Eropa atau Barat. Ini perdebatan lama.

Tetapi, nyatanya tak mudah mengungkapkan fakta sejarah ini. Kedigdayaan peradaban Barat hari ini, dengan Eropa dan Amerika sebagai sumbunya, seringkali menjadikan Barat lupa bahwa peradaban mereka juga mengambil manfaat dari peradaban-peradaban lain.

Keresahan ini rupanya dirasakan oleh Mustafa Akyol, seorang jurnalis dan kolumnis senior asal Turki. Dalam sebuah artikelnya di New York Times (04/06/2019) berjudul: Who’s Afraid of Arabic Numerals? Akyol bercerita tentang ego kelompok (untuk tidak menyebut primordialisme) yang seringkali menjadi penghalang untuk mengakui pencapaian kelompok lain.

Akyol menuturkan ulang hasil sebuah jajak pendapat di Amerika Serikat tentang apakah “angka Arab” harus diajarkan di sekolah-sekolah di Amerika Serikat? Mungkin karena ada kata “Arab”, 56 persen responden menjawab “tidak.”

Fakta ini menyedihkan. Karena sesungguhnya “angka Arab” yang dimaksudkan adalah sepuluh angka yang berlaku universal dan secara revolusioner menggantikan sistem angka Romawi yang rumit, dan tentu saja itu telah diajarkan di Amerika Serikat. Ya, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0. Itulah angka Arab.

Sebenarnya fakta ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Dalam banyak kesempatan mengajar Sejarah Peradaban Islam, saya sering melontarkan tanya kepada mahasiswa tentang “angka Arab” ini. Jawabannya menyedihkan, rupanya tak banyak mahasiswa yang menyadari bahwa 1, 2, 3 dan seterusnya itu adalah angka Arab. Mereka menyangka angka Arab adalah: ١, ٢, ٣, ٤, ٥, ٦, ٧, ٨, ٩. Dalam kajian sejarah, angka yang tertulis terakhir ini lebih dikenal sebagai “angka Hindi.”

Atas fakta itu, John Dick, chief executive lembaga yang mengadakan jajak pendapat itu terperanjat. Ia berkomentar: “the saddest and funniest testament to American bigotry we’ve ever seen in our data.” John layak kaget, karena rupanya sebagian besar responden ini tidak mengetahui dengan pasti apakah yang dimaksud dengan “angka Arab” itu?

Ketika disebut Arab dan Islam, mereka pada umumnya menghubungkan dengan radikalisme, keterbelakangan, dan sistem pemerintahan non-demokratis. Sikap anti-Arab dan Islam lalu punya turunan. Salah satunya adalah sikap ahistoris.

Masyarakat Barat (akademis maupun umum) memang seringkali menampakkan sikap ahistoris ketika berbicara tentang sejarah dunia. Salah satunya ekspresi sikap ahistoris itu adalah narasi tentang dark age (masa kegelapan). Narasi ini menyebutkan bahwa setelah runtuhnya peradaban Romawi, peradaban dunia berhenti sekitar satu millennium, dan baru bangkit kembali pada masa Eropa Modern.

Ehsan Masood menyebut narasi ini sebagai mitos. Karena mitos ini, tak sedikit sejarawan yang melewatkan masa Islam, ketika membicarakan tentang alur kronologis sejarah peradaban (dan pengetahuan) dunia.

Tentu semua orang tahu tentang pencapaian peradaban Yunani dan Romawi. Tak sedikit sejarawan Barat yang membangun narasi bahwa dari masa Romawi-Yunani pendulum peradaban dunia langsung berada di tangan Eropa Barat. Lalu, di mana pencapaian Islam?

Ini ahistoris, karena antara masa Romawi-Yunani dan Barat Modern, terdapat masa Islam. Masa kejayaaan Islam ini berlangsung cukup lama, antara 800 hingga 1000 tahun. Tak hanya di Dunia Arab, tetapi juga di Eropa. Di Dunia Arab, masa keemasan Islam berada di tangan Dinasti Abbasiyah, berpusat di Baghdad.

Sementara di Eropa, sisa-sisa kekuatan Dinasti Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran tentara Abbasiyah berhasil mendirikan politi baru (Bani Umayyah II) dan membangun kejayaan peradaban lewat, antara lain, kepeloporan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dengan Andalusia sebagai basisnya.

Kembali ke Akyol, sembari menekankan peran Islam dalam peradaban Eropa Modern, Akyol membandingkannya dengan Kristen Eropa. Ia menulis: between the eighth and 12th centuries, the Muslim world whose lingua franca was Arabic, was much more creative than Christian Europe… Muslims were the pioneers in mathematics, geometry, physics, astronomy, biology, medicine, architecture, trade and most important, philosophy.”

Sikap Akyol ini rupanya direspons negatif. Oleh seorang penulis Eropa John Grondelski pernyataan Akyol dianggap sebagai sikap Kristiano-fobia. Menurut Grondelski, sama sekali tidak ada masalah ketika Akyol mengungkapkan fakta kontribusi Islam pada peradaban Barat.

Tetapi, menurutnya, tidak seharusnya Akyol juga membangun sikap anti-Kristiani. Sejujurnya, saya agak sulit menerima keberatan Grondelski ini. Saya sama sekali tidak melihat adanya sikap Kristiano-fobia dalam pernyataan Akyol.

Sikap Akyol dinilai sebagai Kristiano-fobia, saya menduga, karena Akyol ia membandingkan kontribusi Islam dan Kristen dalam peradaban Eropa. Sementara, Grondelski yakin kontribusi Islam dan Kristen pada peradaban Eropa juga sama-sama besar.

Sebenarnya, perbandingan seperti ini bukan khas Akyol. Michael Frassetto dan David R Blank ketika memberikan pengantar buku Western View of Islam in Medieval and Early Modern Eirope (1999) menulis pengakuan seperti ini: 

During the Middle Ages, Islamic civilization was far ahead of its Christian rival, offering enticing advances in architecture, law, literature, philosophy, and, indeed, in most areas of cultural activity. It was therefore from a position of military and, perhaps more importantly, cultural weakness that Christian Europe developed negative images, some of which survive to the present day. In part, this hostility was the result of continued political and military conflict, but it likewise ensued from a Western sense of cultural inferiority. 

Bahkan, Pangeran Charles dalam sebuah ceramah di Oxford University pada tahun 1993, menyatakan dengan sangat jelas: “If there is much misunderstanding in the West about the nature of Islam, there is also much ignorance about the debt our own culture and civilisation owe to the Islamic world. It is a failure which stems, I think, from the strait-jacket of history which we have inherited.”

Dalam membaca fenomena sejarah, ideologi seorang penutur sejarah memang menjadi problem cukup serius. Kasus perdebatan Mustafa Akyol dan John Grondelski hanyalah contoh kecil perdebatan itu. Jika lebih dalam menelisik topik ini, akan dengan sangat mudah kita temukan perdebatan ala Akyol dan Grondelski ini.

Meskipun pernyataan-pernyataan positif dan objektif juga tak kalah banyak. Bacalah karya-karya George Saliba, Abelhamid Sabra, David King, atau Jamil Ragep; maka pembacaan positif atas peran Islam dalam peradaban Eropa modern dengan sangat gamblang ditemukan.

Memang diperlukan sikap hati-hati dan objektif dalam membaca sejarah. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana ideologi seseorang tidak masuk terlalu jauh dalam memberikan justifikasi pada fakta sejarah.

Hal yang sama sangat mungkin terjadi dalam dunia Islam. Maksud saya adalah pembacaan sejarah Islam oleh sejarawan Muslim yang berbeda afiliasi ideologis. Misalnya, saya pernah mendapatkan protes keras di dalam sebuah forum ketika saya menyitir data sejarah bahwa Universitas al-Azhar di Kairo, sebuah universitas yang menjadi kiblat Sunni paling otoritatif saat ini didirikan oleh seorang Khalifah Syi’ah dari Dinasti Fatimiyah bernama al-Muizz. Saya terjebak dilema ketika hendak menjawab protes itu.

Jika saya bersikukuh dengan data itu, saya yakin label Syi’ah akan disematkan ke saya dengan mudah. Tetapi jika tidak dijawab, ketidaktahuan sejarah akan terus-menerus terpelihara, dan sikap fanatik atas dasar ketidaktahuan itu akan semakin mengkhawatirkan. Kendati demikian, saya tetap memilih menjelaskan fakta itu dengan sumber-sumber terpercaya.

Soal label Syi’ah yang mungkin dilekatkan karena mengungkap sedikit kontribusi Syi’ah dalam dunia Sunni, bagi saya tidak terlalu penting. Toh, saya meyakini menjadi Muslim yang baik itu adalah beyond Sunni dan Syi’ah. Tetapi lebih dari itu, membaca sejarah dengan benar dan kritis, mengajarkan kita untuk keluar dari dilema-dilema seperti ini. Kubah di angkasa Vienna hanyalah pintu masuk kecil untuk mengarungi misteri sejarah yang lebih luas.

Pradana Boy ZTF
*) Dosen Universitas Muhammadiyah Malang. Pengasuh Lembaga Bait al-Hikmah, Malang. Asisten Staf Khusus Presiden Republik Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…