OUR NETWORK

Konvensi dan Wawancara Panelis Independen PSI

PSI, disamping bersih dan toleran juga menghargai ide gagasan, meritokrasi atau melihat orang bukan dari usia (senioritas), kerabat (nepotisme), atau dari harta kekayaan (korupsi) melainkan dari keahlian ataupun prestasinya adalah dasar politik PSI.

Salah satu alasan saya masuk politik adalah untuk membangun kota Tangerang Selatan (Tangsel), kota di mana tempat tinggal saya selama hidup ini, sudah 33 tahun. Saya langsung ikut setelah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengumumkan membuka konvensi untuk menjaring bakal calon walikota Tangsel.

Ada juga alasan lain yang membuat saya tertarik. Tanpa sadar saya ketagihan menjalani proses wawancara dengan panelis independen. Dan benar saja, karena excited-nya saya, viewers live wawancara 16 ribu lebih, terbanyak, mengalahkan Bu Siti Azizah putri Wapres Kyiai Ma’aruf Amin. Ada juga salah satu panelis Philips J. Vermonte, Direktur Eksekutif Center of Strategic and International Studies (CSIS) yang menyatakan saya layak jadi peneliti tata kota CSIS setelah membaca materi presentasi saya.

Ini memang bukan kali pertama saya menjalani proses wawancara panelis independen PSI. dulu saya pernah juga diwawancara saat seleksi menjadi caleg PSI dalam Pemilu 2019. Dan boleh saya bilang prosesnya selalu “ngeri-ngeri sedap” karena memang menegangkan ditanya oleh para ahli di bidangnya, namun selalu ada proses pencerahan (enlightenment) yang membuat pemikiran saya bertumbuh.

Dulu saat Pemilu 2019 setelah proses wawancara dan mendapatkan banyak masukan saya memberanikan diri menyusun Draft Rancangan Undang Undang (RUU) Metropolitan yang mungkin menjadikan saya satu satunya caleg yang membawa RUU dalam proses pencalegan. Dan jika RUU Metropolitan berhasil disusun dan diterapkan mungkin banjir Jabodetabek tidak akan separah yang kita alami kemarin.

Namun berbeda dengan yang lalu wawancara kali ini saya membawa konsep yang lebih holistik (menyeluruh), dan jika dulu saya kebanyakan berkerja sendiri menjahit pemikiran para ahli, pada kesempatan ini saya mengajak banyak orang berpikir bersama untuk Kota Tangerang Selatan.

Untuk menyiapkan materi presentasi saya berpikir bersama sekitar 160 orang warga dalam dan luar Tangsel, yang saya kristalkan pemikirannya lewat 6 diskusi dengan berbagai tema mulai dari transportasi, tata ruang, lingkungan hidup, budaya, kesehatan, pendidikan dan ekosistem digital seperti Esports dan Startup. Narasumber diskusi sebanyak 12 orang merupakan ahli di bidangnya yang inline dengan topik diskusi dengan latar belakang pendidikan S1 (on going) sampai lulusan S3 dari Jepang.

Saya boleh dibilang seorang pemikir, atau setidaknya itulah pesan dan kesan rekan seperjuangan saya bro Surya Tjandra, yang saat ini menjadi Wakil Menteri Kementerian Agraria Tata Ruang (ATR). Jadi meski saya tidak suka dengan pola pikir mekanistik ala Rene Descartes, namun ungkapan cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada) mungkin yang paling dekat menggambarkan hidup saya.

Oleh karena itu, proses wawancara yang menguji ide gagasan juga merupakan proses yang paling menarik bagi saya dalam semua aspek politik yang pernah saya jalani, dan itu hanya terjadi di PSI. Karena itu juga saya tidak pernah tertarik untuk bergabung dengan partai politik manapun, namun langsung bergabung saat melihat PSI dan malah saat ini memilih untuk menjadi pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI.

Seorang pemikir seperti saya dalam dunia politik praktis merupakan minoritas, boleh dibilang kami ini tidak tertarik keluar dari laboratorium kami untuk masuk dunia politik yang bagi kami lebih misterius dan dinamis dari fisika quantum sekalipun.

Saya sendiri juga seperti itu dulunya, asik melakukan kajian, menyusun dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang canggih namun tidak diterapkan karena proses politik di pemerintah daerah. Melihat kenyataan bahwa Pak Ahok lebih berperan membersihkan sungai Jakarta dan Bu Risma lebih berperan dalam menghijaukan Surabaya dibanding saya yang lulusan S2 Ilmu Lingkungan UI membuat saya lalu berpikir untuk masuk politik.

Untung ada PSI yang disamping bersih dan toleran juga menghargai ide gagasan, meritokrasi atau melihat orang bukan dari usia (senioritas), kerabat (nepotisme), atau dari harta kekayaan (korupsi) melainkan dari keahlian ataupun prestasinya adalah dasar politik PSI.

Menariknya para pemikir atau akademisi seperti saya, yang biasanya “ogah ikutan politik” mau terlibat dalam wawancara panelis independen yang saat ini hanya dilakukan oleh PSI. Selepas wawancara banyak sekali teman teman saya sesama akademisi yang menghubungi saya dan memberi masukan, banyak juga yang berkomentar langsung di halaman Facebook PSI.

Di jajaran panelis juga muncul nama akademisi seperti Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si yang mau berpartisipasi tanpa dibayar menjadi panelis. Oke kalau kita anggap Prof. Hamdi mau bergabung karena expertise-nya memang di Psikologi Politik, lalu bagaimana kita menjelaskan mengapa Prof. Sulfikar Amir seorang Profesor dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura mau menjadi panelis?

Jika dalam jajaran pemerintahan dikenal istilah teknokrat, para akademisi yang turun masuk ke pemerintahan. Ciri mereka jelas tidak terlalu pintar berorasi, namun kerjaannya beres, karena mereka tau persis apa yang ingin mereka kerjakan. Sebut saja Prof. Emil Salim orang yang membuat saya banting setir dari kerja di tambang jadi aktifis lingkungan, mantan Dekan Fakultas Ekonomi UI yang pernah menjadi Menteri di berbagai era kekuasaan, presiden boleh berganti tapi seorang teknokrat selalu berbakti untuk negeri.

Ditempatkan dimanapun teknokrat itu hanya tahu kerja, kerja, kerja, mereka adalah yang paling saya banggakan dalam politik, karena tidak menghamba uang dan kekuasaan. Karakter lain yang saya banggakan dari teknokrat adalah longlife learning (belajar sepanjang hayat) mereka yang gelarnya makin banyak namun tidak sombong dan mau mendengarkan dan berdiskusi dengan siapapun.

PSI sejauh ini sudah menyumbangkan dua orang teknokrat, Surya Tjandra, S3 lulusan Universitas Leiden (Belanda) dan S2 di Universitas Warwick (Inggris) dan Dini Purwono, S2 lulusan Harvard (Amerika) dan keduanya punya kualitas teknokrat yang saya banggakan. Dan saya pikir Pak Jokowi adalah Presiden yang paling meritokratis dan memberikan ruang gerak yang sangat luas bagi para teknokratik, sehingga Indonesia saat ini bisa bangkit menjadi negara G 20 negara dengan pertumbuhan ekonomi 20 terbaik di dunia.

Dari sisi partai politik ada PSI yang dengan sistem wawancara terbuka menjadi pintu masuk bagi para anak muda yang kaya ide gagasan seperti saya dan anda untuk masuk ke dunia politik.

Saya sendiri bermimpi, bahwa warga kota dapat bahu membahu merencanakan sampai dengan mengelola kotanya, saya pikir hanya teknologi informasi saat ini dan partai terbuka macam PSI yang bisa mewujudkannya.

Jika saya diizinkan menjadi teknokrat dalam jabatan Walikota Tangerang Selatan maka itulah yang saya kejar, menggerakan para cendikiawan kota untuk turut berdiskusi dengan seluruh warga kota dalam kanal teknologi informasi untuk menghasilkan solusi kreatif yang cocok dengan kebutuhan warga Kota Tangerang Selatan.

Sebuah ilmu yang paripurna adalah ilmu yang tepat guna sehingga dapat membantu memecahkan masalah kehidupan di sekitarnya.

Seorang Geograf, suka psikologI dan filsafat, berjuang untuk kemanusiaan dan lingkungan hidup. Politisi PSI

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…