Sabtu, Desember 5, 2020

Konstruksi Lebaran di Indonesia

Konvensi dan Wawancara Panelis Independen PSI

Salah satu alasan saya masuk politik adalah untuk membangun kota Tangerang Selatan (Tangsel), kota di mana tempat tinggal saya selama hidup ini, sudah 33 tahun....

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Meneliti Livi Zheng (Bagian 3)

KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU, menyampaikan kabar pada 25 Juli 2019 tentang sebuah film yang belum ada: The Santri. Di sebelahnya Livi...

Ramadhan Pergi, Pandemi Masih

Bulan ramadhan tahun ini akan berakhir. Puasa ramadhan ini terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Berpuasa di tengah wabah pandemi covid-19. Bahkan, beberapa masyarakat...
Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.

Ramadan telah berjalan satu minggu. Bulan yang dinantikan oleh banyak umat muslim di seluruh dunia, salah satunya para muslim di Indonesia. Menahan lapar, haus, atau lebih dari itu pun dilakukan selama masa Ramadan berlangsung. Setelah itu, umat muslim akan merayakan Idul Fitri atau lebaran.

Lebaran sendiri merupakan salah satu hari raya umat muslim, di mana momentum lebaran didefinisikan sebagai hari kemenangan yang suci atau kembali bersih, yang dibarengi dengan kegiatan berkunjung ke sanak saudara.
Setelah merayakan kemenangan, manusia diibaratkan kembali menjadi suci. Namun, makna suci apakah yang dipahami oleh kebanyakan orang?

Sepenglihatan saya, setiap menjelang hari raya Idul  Fitri, banyak orang selalu berbondong-bondong menyerbu pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian baru yang akan mereka kenakan pada saat hari raya Idul Fitri tiba.

Kemudian hal yang tidak aneh dalam budaya masyarakat konsumtif pun terjadi — pusat perbelanjaan menjadi sangat membeludak dengan pembeli.

Hal ini membuat saya miris, karena makna kembali suci dalam hari raya seperti lebaran hanya diartikan sebatas materi yang serba baru. Memang, disunahkan bagi umat muslim yang akan merayakan lebaran untuk berhias, tetapi ada kekeliruan di sini, berhias bukan berarti harus menggunakan pakaian serba baru, namun berhias dalam lebaran adalah mengenakan pakaian yang terbaik.

Lebaran yang diidentikkan serba baru ini sudah terkonstruksi dalam masyarakat Indonesia, walhasil dalam budaya masyarakat konsumtif, budaya tersebut menjadi target pasar yang menggiurkan. Memasarkan barang sebanyak-banyaknya. Lagi-lagi untuk keuntungan (bukan sesuai kebutuhan).

Pemilik modal memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk para pekerjanya, memberikan diskon besar-besaran disetiap momentum hari raya, tapi sadarkah kita? THR yang mereka berikan akan kembali ke kantong-kantong para pengusaha tersebut, karena adanya pemahaman bahwa “lebaran serba baru”.

Mulanya THR

Berbicara mengenai THR, saya kembali teringat tentang sejarah THR yang saya baca, yakni karena adanya aksi buruh yang mogok kerja pada tanggal 13 Februari tahun 1952 silam, dengan tuntutan agar buruh diberikan tunjangan dari pemerintah menjelang lebaran.  Karena dulu saat era kabinet Soekiman Wirjosandjojo yang dilantik pada tahun 1951 pada masa kepemimpinan Soekarno, THR hanya diperuntukkan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dulu dikenal dengan sebutan Pamong Pradja, THR ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi penerimanya.

Awalnya THR ini hanya diberikan kepada aparatur negara saja, dan perlu diketahui bahwa pemberian THR ini pun sebagai salah satu strategi agar para PNS tersebut memberi dukungan kepada kabinet yang sedang berlangsung saat itu. Kebijakan tersebut pun menuai pelbagai protes dari kelas buruh, mereka merasa tidak adil karena pemberian THR hanya untuk pegawai pemerintah yang diketahui saat itu, aparatus pemerintah Indonesia masih diisi oleh kaum priyayi, ningrat dan kalangan atas lainnya. Maka terlaksanalah mogok kerja oleh kelas buruh sebagai bentuk penolakan mereka terhadap kebijakan yang hanya menguntungkan aparatus negara tersebut tanpa memikirkan kelas buruh.

Hal tersebut menjadi titik awal bagi pemerintah untuk menggodok anggaran gaji ke-13. Tahun 1994, pemerintah secara resmi mengatur tentang THR secara khusus yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja  RI No.  04/1994 tentang Tunjangan Hari Raya keagamaan bagi para pekerja, yang besaran THR nya disesuaikan dengan masa kerja. Di mana pekerja yang telah mempunyai  masa kerja 12 bulan atau lebih, menerima THR sebesar satu bulan gaji. Sementara pekerja yang memiliki masa kerja tiga bulan secara terus menerus namun kurang dari 12 bulan, diberikan THR secara proporsional dengan masa kerjanya, yaitu dengan perhitungan masa kerja/12 x 1 bulan gaji.

Namun di tahun 2016 lalu, pemerintah melalui Menteri Ketenagakerjaan merevisi peraturan mengenai  THR tersebut. Perubahan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.6/2016, yang  berbunyi bahwa pekerja yang memiliki masa kerja minimal satu bulan sudah berhak mendapatkan THR, selain itu kewajiban pengusaha untuk memberikan THR tidak hanya diperuntukkan bagi karyawan tetap, melainkan juga untuk pegawai kontrak.

Lebaran dan Mudik

Selain hiruk pikuk lebaran dengan budaya THR bagi para pekerja dan budaya konsumtif dalam perayaan hari lebaran. Lebaran juga tidak bisa di pisahkan dengan tradisi mudik — tradisi pulang dari perantauan ke kampung halaman untuk menikmati lebaran bersama keluarga tersayang.

Mudik menjadi tradisi di Indonesia untuk mengunjungi sanak saudara atau pulang ke rumah orang tua. Dari tahun ke tahun, jumlah pemudik mengalami peningkatan. Contohnya, seperti pada tahun 2018, jumlah pemudik lebaran mencapai angka 19,5 juta orang. Angka tersebut menerangkan bahwa terjadi peningkatan sebanyak 15 persen dari jumlah pemudik tahun sebelumnya.

Hal ini menandakan peralihan besar-besaran masyarakat perdesaan, yang semakin hari sulit menjaminkan hidupnya di perdesaan dan beralih ke perkotaan untuk mencari pekerjaan. Hal tersebut tersebut di karena terkonsentrasinya perputaran ekonomi hanya di kota saja. Lebih dari itu, terjadinya urbanisasi juga disebabkan dengan adanya proletarisasi masyarakat desa yang bertani diguncangkan dengan perampasan tanah secara besar-besaran pula, serta penguasaan lahan tani produktif oleh segelintir orang.

Dan sampai hari ini permasalahan kehidupan di perdesaan belum menemukan titik terang penyelesaiannya, Reforma Agraria Jokowi hanya berkutat di sertifikasi tanah, belum menyentuh terhadap pokok persoalan, yakni ketimpangan kepemilikan tanah.

Berbarengan juga dengan konflik agraria yang semakin meningkat. Persoalan klasik seperti tidak produktifnya hasil pertanian bagi para petani kecil dan sedang, juga disebabkan karena belum terselesaikannya persoalan di bidang pertanian, seperti menjamurnya tengkulak, minimnya saprotan dll. Jadi hal yang wajar jika setiap tahun angka pemudik semakin meningkat.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu pedagang angkringan, ia mengatakan tahun ini tidak dapat mudik karena tidak memiliki cukup uang untuk kembali ke kampung halaman. Selain itu ia juga merasa malu kalau pulang tanpa membawa cukup uang yang akan dibagikan untuk sanak saudaranya. Kondisi ini semakin memperkuat fakta bahwa mudik seakan-akan hanya diperuntukkan bagi orang yang memiliki cukup uang, bagi mereka yang tidak memiliki cukup uang maka ia tidak dapat pulang kekampung halaman. Hal ini jelas menjadi sanksi sosial bagi mereka yang pulang tanpa membawa cukup uang untuk dibagikan ke sanak saudara.

Kian tahun lebaran dirasa semakin sulit dan mencekik orang-orang yang tertindas, adanya konstruksi yang dipertahankan oleh kebanyakan orang, kini seakan-akan menjadi patokan bahwa lebaran yang seharusnya dijalani dengan penuh suka, cita dan sederhana, diubah menjadi harus serba mewah dan ada segalanya.

Selanjutnya bagaimana tindakan yang perlu kita lakukan?

Mengapa tidak menjalani hari raya dengan sederhana? Tidak perlu memaksakan agar memiliki pakaian baru untuk dikenakan di hari raya. Karena bukan pakaian baru yang menghangatkan suasana lebaran, tapi kebersamaan. Lebih dari itu, semoga kita tetap setia pada garis perjuangan untuk merebut alat produksi agar terlepas dari belenggu kapitalisme, agar tak ada lagi yang malu jika mudik tak bawa banyak uang, agar reforma agraria sejati segera terwujud.

Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.