Sabtu, Januari 23, 2021

Kondisi Psikologis Pelaku Hijrah Radikal

Ihwal Gumlao dan Gumsa

Dalam dunia pemikiran Barat, kita mengenal dua prinsip, yaitu monarki dan republik. Mereka memiliki struktur sosial yang berbeda. Sebenarnya, perubahan rezim dari monarki ke...

#10YearsChallenge dan Kondisi Penegakan HAM Kita

Warganet sedang ramai merayakan #10YearsChallenge. Sebuah tantangan di mana kita menyajikan foto diri 10 tahun lalu dan hari ini. Tujuannya untuk melihat sejauh mana...

Politik Sehat, Panggung Politik Milenial

Kata iklan, gak semua yang lo denger itu bener! Tak kecuali ihwal milenial. Stereotype generasi milenial yang dicirikan oleh watak mudah bosan, instan, dan...

Humanisme Radikal Gus Erich Fromm

Akhir pekan yang mewah ini telah membawa saya menyelesaikan satu buku karya Erich Fromm, You Shall be as Gods. Bagi kalangan kutu buku dan aktivis...
Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.

Cerita tentang orang-orang Indonesia yang pergi Suriah untuk bergabungdengan ISIS makin banyak diberitakan media massa. Majalah Tempo edisi pekan ini menjadikan hasil liputan terhadap orang-orang itu sebagai laporan utama. Setelah ISIS porak poranda di Suriah sana, mereka ingin kembali ke Indonesia. Menyesalkah mereka? Apa yang membuat mereka sampai nekat pergi ke sana?

Ada dua kelompok orang yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Kelompok pertama adalah kelompok pejuang. Mereka bergabung ke sana untuk menjadi tentara. Ada sejumlah orang Indonesia yang menjadi tentara ISIS yang cukup terkenal, di antaranya anak muda bernama Bachrun Naim, yang dikabarkan telah tewas. Tidak hanya menjadi tentara, orang-orang ini juga menyodorkan anak-anaknya yang masih kecil untuk dilatih sebagai calon tentara ISIS.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang pergi ke sana untuk bergabung sebagai rakyat. Ada yang pergi sendiri, ada yang pergi sekeluarga. Polanya beragam. Ada keluarga yang dibawa oleh bapak. Tapi ada pula keluarga yang pergi karena dorongan atau ajakan anggota keluarga, baik istri maupun anak.

Apa yang ada dalam pikiran orang-orang itu sampai mereka memutuskan untuk bergabung dengan ISIS? Dari sejumlah cerita yang saya baca, yang pergi bergabung umumnya adalah orang-orang awam. Mereka tak pernah belajar agama secara khusus dan mendalam. Mereka baru belajar setelah dewasa atau remaja, dari orang yang berasal dari kelompok-kelompok tertentu.

Saya dulu pernah berada dalam posisi yang mirip. Saat kuliah di Yogya sejak akhir dekade 80-an, saya bergabung dalam pengajian halaqah Ikhwanul Muslimin. Apa yang dikaji di situ? Karena saya lulusan madrasah tsanawiyah, saya tidak lagi diajari hal-hal dasar, seperti soal ibadah dan hukum-hukum fiqh. Yang diajarkan adalah materi pergerakan Islam, yang mereka sebut harakah.

Selama bertahun-tahun belajar agama, baik secara tradisional melalui ayah saya, maupun selama sekolah serta di berbagai pengajian, saya tidak pernah mendapat materi ini. Hanya di halaqah ini saya temukan materi ini. Inti ajarannya adalah, menjadi muslim itu tidak cukup hanya dengan beribadah, salat, puasa, zakat, dan haji saja. Muslim punya kewajiban untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi. Wujud nyatanya adalah dengan mendirikan khilafah.

Apakah mendirikan khilafah itu wajib? Hukumnya jauh lebih keras dari itu. Ada hadis-hadis yang dibacakan, yang menyatakan bahwa seseorang akan mati dalam keadaan jahiliyah bila tidak berbuat kepada suatu jamaah. Jamaah apa? Yaitu jamaah yang bertujuan menegakkan khilafah tadi. Intinya, tidak bergabung dalam gerakan untuk mendirikan khilafah, tidak tunduk kepada suatu khilafah adalah kekafiran.

Pada saat yang sama juga diajarkan tentang sesatnya pemerintah sekarang, maupun kondisi sosial. Pemerintah yang korup. Pemerintah juga zalim kepada rakyat, khususnya umat Islam. Keadaan sekarang sering digambarkan seperti keadaan umat Islam di Mekkah, sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Orang-orang kafir Mekkah menindas umat Islam. Seperti itulah kondisi umat Islam saat ini.

Lalu apa solusinya? Umat Islam wajib hijrah, pindah ke suatu tempat untuk mendirikan khilafah. Dari situ mereka akan berjuang, membesarkan khilafah, dengan menaklukkan wilayah-wilayah lain, sehingga suatu saat kelah khilafah Islam akan berjaya, menguasai banyak wilayah, memayungi seluruh umat Islam dalam suatu kekuasaan negara, tidak terpecah-pecah dalam banyak negara.

Yang tidak mau hijrah lagi-lagi diancam dengan status kafir. Ada ayat yang menceritakan bahwa orang-orang yang mati dalam keadaan terzalimi akan ditanyai alasan kenapa mereka tidak hijrah, padahal bumi Allah ini luas. Pada akhirnya mereka akan ditempatkan di dalam neraka.

Bisakah Anda bayangkan kondisi psikologis mereka? Mereka dihantui oleh rasa takut. Mereka merasa sangat bersalah. Selama ini mereka mengira sudah menjadi muslim yang baik. Ternyata mereka keliru. Mereka ternyata berada dalam status yang mendekati kekafiran. Bila tidak hijrah, mereka kafir, dan terancam siksa neraka.

Kengerian terhadap ancaman siksa neraka itu sudah melekat di benak orang Islam pada umumnya. Kengerian siksa neraka sudah ditanamkan di benak mereka sejak kecil. Kengerian itulah yang membuat banyak orang takut melakukan keburukan, dan mengikuti suatu ajaran. Mereka harus berjuang keras untuk tidak masuk neraka.

Kesadaran baru soal kewajiban hijrah, dan ikut berjuang mendirikan khilafah tadi menjadi rongrongan dalam pikiran. Hidup yang dijalani sekarang akan menjadi sia-sia bila tidak segera hijrah. Karena itu mereka ingin hijrah. Apapun akan dilakukan demi menghindar dari siksa neraka tadi.

Benarkah dalil-dalil yang dipakai tadi? Benar. Semuanya bersumber dari ayat-ayat Quran dan hadis-hadis sahih. Itu memberi tekanan tambahan. Ayat-ayat dan hadis-hadis ini amat jarang dibahas dalam kajian-kajian umum yang terbuka. Mereka merasa seakan dalil-dalil ini disembunyikan oleh ulama-ulama di luar sana. Ulama-ulama tidak memberi penerangan soal khilafah, padahal dalil-dalilnya sangat jelas. Ulama-ulama ini adalah ulama-ulama sesat, enggan berjihad untuk menegakkan kalimah Allah, dan menyesatkan umat. Pikiran ini membuat mereka tidak lagi percaya pada ulama-ulama di luar kelompok mereka.

Orang-orang ini dicuci otak dengan memberi mereka beban rasa bersalah,ditakut-takuti dengan ancaman siksa neraka. Ditambah dengan iming-iming janji soal indahnya khilafah Islam. Sebagian juga dijanjikan dengan kemakmuran, diberi gaji puluhan juta bila bergabung dalam khilafah. Ancaman ketakutan mencengkram lebih kuat, membuat mereka memilih untuk melakukan tindakan-tindakan yang bagi kita tidak masuk akal.

Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.