Kamis, November 26, 2020

Kondisi Psikologis Pelaku Hijrah Radikal

Remaja Mabuk dan Salah Persepsi tentang Minuman Keras

Setiap kali ada kejahatan oleh remaja, yang didahului dengan kegiatan minuman keras, orang-orang langsung bereaksi dengan menyalahkan minuman keras. Minuman keras dianggap sebagai setan,...

Megawati Sang Matriarch

Terus terang, ada seorang politisi yang tidak pernah saya perhatikan serius. Dia adalah Megawati Sukarnoputri. Saya akui, saya tidak pernah melihatnya sebagai politisi yang...

KPAI vs PB Djarum: Ada Tangan Asing?

Banyak yang tidak paham bahwa pendapatan cukai kita dari rokok sangat besar. Tahun 2018 saja, pendapatan dari cukai rokok mencapai 153 triliun rupiah. Ini...

Surat Penting untuk Jokowi, Pendidikan Karakter Era Disrupsi

Bapak Presiden Joko Widodo yang terhormat, era disrupsi ini perubahannya sangat cepat. Mampu mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru. Kehidupan menjadi sangat dinamis, tidak...
Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.

Cerita tentang orang-orang Indonesia yang pergi Suriah untuk bergabungdengan ISIS makin banyak diberitakan media massa. Majalah Tempo edisi pekan ini menjadikan hasil liputan terhadap orang-orang itu sebagai laporan utama. Setelah ISIS porak poranda di Suriah sana, mereka ingin kembali ke Indonesia. Menyesalkah mereka? Apa yang membuat mereka sampai nekat pergi ke sana?

Ada dua kelompok orang yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Kelompok pertama adalah kelompok pejuang. Mereka bergabung ke sana untuk menjadi tentara. Ada sejumlah orang Indonesia yang menjadi tentara ISIS yang cukup terkenal, di antaranya anak muda bernama Bachrun Naim, yang dikabarkan telah tewas. Tidak hanya menjadi tentara, orang-orang ini juga menyodorkan anak-anaknya yang masih kecil untuk dilatih sebagai calon tentara ISIS.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang pergi ke sana untuk bergabung sebagai rakyat. Ada yang pergi sendiri, ada yang pergi sekeluarga. Polanya beragam. Ada keluarga yang dibawa oleh bapak. Tapi ada pula keluarga yang pergi karena dorongan atau ajakan anggota keluarga, baik istri maupun anak.

Apa yang ada dalam pikiran orang-orang itu sampai mereka memutuskan untuk bergabung dengan ISIS? Dari sejumlah cerita yang saya baca, yang pergi bergabung umumnya adalah orang-orang awam. Mereka tak pernah belajar agama secara khusus dan mendalam. Mereka baru belajar setelah dewasa atau remaja, dari orang yang berasal dari kelompok-kelompok tertentu.

Saya dulu pernah berada dalam posisi yang mirip. Saat kuliah di Yogya sejak akhir dekade 80-an, saya bergabung dalam pengajian halaqah Ikhwanul Muslimin. Apa yang dikaji di situ? Karena saya lulusan madrasah tsanawiyah, saya tidak lagi diajari hal-hal dasar, seperti soal ibadah dan hukum-hukum fiqh. Yang diajarkan adalah materi pergerakan Islam, yang mereka sebut harakah.

Selama bertahun-tahun belajar agama, baik secara tradisional melalui ayah saya, maupun selama sekolah serta di berbagai pengajian, saya tidak pernah mendapat materi ini. Hanya di halaqah ini saya temukan materi ini. Inti ajarannya adalah, menjadi muslim itu tidak cukup hanya dengan beribadah, salat, puasa, zakat, dan haji saja. Muslim punya kewajiban untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi. Wujud nyatanya adalah dengan mendirikan khilafah.

Apakah mendirikan khilafah itu wajib? Hukumnya jauh lebih keras dari itu. Ada hadis-hadis yang dibacakan, yang menyatakan bahwa seseorang akan mati dalam keadaan jahiliyah bila tidak berbuat kepada suatu jamaah. Jamaah apa? Yaitu jamaah yang bertujuan menegakkan khilafah tadi. Intinya, tidak bergabung dalam gerakan untuk mendirikan khilafah, tidak tunduk kepada suatu khilafah adalah kekafiran.

Pada saat yang sama juga diajarkan tentang sesatnya pemerintah sekarang, maupun kondisi sosial. Pemerintah yang korup. Pemerintah juga zalim kepada rakyat, khususnya umat Islam. Keadaan sekarang sering digambarkan seperti keadaan umat Islam di Mekkah, sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Orang-orang kafir Mekkah menindas umat Islam. Seperti itulah kondisi umat Islam saat ini.

Lalu apa solusinya? Umat Islam wajib hijrah, pindah ke suatu tempat untuk mendirikan khilafah. Dari situ mereka akan berjuang, membesarkan khilafah, dengan menaklukkan wilayah-wilayah lain, sehingga suatu saat kelah khilafah Islam akan berjaya, menguasai banyak wilayah, memayungi seluruh umat Islam dalam suatu kekuasaan negara, tidak terpecah-pecah dalam banyak negara.

Yang tidak mau hijrah lagi-lagi diancam dengan status kafir. Ada ayat yang menceritakan bahwa orang-orang yang mati dalam keadaan terzalimi akan ditanyai alasan kenapa mereka tidak hijrah, padahal bumi Allah ini luas. Pada akhirnya mereka akan ditempatkan di dalam neraka.

Bisakah Anda bayangkan kondisi psikologis mereka? Mereka dihantui oleh rasa takut. Mereka merasa sangat bersalah. Selama ini mereka mengira sudah menjadi muslim yang baik. Ternyata mereka keliru. Mereka ternyata berada dalam status yang mendekati kekafiran. Bila tidak hijrah, mereka kafir, dan terancam siksa neraka.

Kengerian terhadap ancaman siksa neraka itu sudah melekat di benak orang Islam pada umumnya. Kengerian siksa neraka sudah ditanamkan di benak mereka sejak kecil. Kengerian itulah yang membuat banyak orang takut melakukan keburukan, dan mengikuti suatu ajaran. Mereka harus berjuang keras untuk tidak masuk neraka.

Kesadaran baru soal kewajiban hijrah, dan ikut berjuang mendirikan khilafah tadi menjadi rongrongan dalam pikiran. Hidup yang dijalani sekarang akan menjadi sia-sia bila tidak segera hijrah. Karena itu mereka ingin hijrah. Apapun akan dilakukan demi menghindar dari siksa neraka tadi.

Benarkah dalil-dalil yang dipakai tadi? Benar. Semuanya bersumber dari ayat-ayat Quran dan hadis-hadis sahih. Itu memberi tekanan tambahan. Ayat-ayat dan hadis-hadis ini amat jarang dibahas dalam kajian-kajian umum yang terbuka. Mereka merasa seakan dalil-dalil ini disembunyikan oleh ulama-ulama di luar sana. Ulama-ulama tidak memberi penerangan soal khilafah, padahal dalil-dalilnya sangat jelas. Ulama-ulama ini adalah ulama-ulama sesat, enggan berjihad untuk menegakkan kalimah Allah, dan menyesatkan umat. Pikiran ini membuat mereka tidak lagi percaya pada ulama-ulama di luar kelompok mereka.

Orang-orang ini dicuci otak dengan memberi mereka beban rasa bersalah,ditakut-takuti dengan ancaman siksa neraka. Ditambah dengan iming-iming janji soal indahnya khilafah Islam. Sebagian juga dijanjikan dengan kemakmuran, diberi gaji puluhan juta bila bergabung dalam khilafah. Ancaman ketakutan mencengkram lebih kuat, membuat mereka memilih untuk melakukan tindakan-tindakan yang bagi kita tidak masuk akal.

Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Diego Maradona Abadi, Karena Karya Seni Tak Pernah Mati

Satu kata dalam bahasa Indonesia yang paling menyebalkan buat saya adalah “andai”. Ia hadir dengan dua konsekuensi: (1) memberikan harapan, sekaligus (2) penegasan bahwa...

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang...

Tips Menjaga Kesehatan Saat Tidak WFH di Saat Pandemi COVID-19

Beberapa kantor di Indonesia sudah menerapkan sistem kerja work from home, di mana karyawan bekerja di rumah tanpa perlu ke kantor. Namun, tidak sedikit...

Dampak Video Asusila yang Beredar bagi Remaja

Peristiwa penyebaran video asusila di media sosial masih seringkali terjadi, pemeran dalam video tersebut tidak hanya orang dewasa saja bahkan dikalangan remaja juga banyak...

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya,...

ARTIKEL TERPOPULER

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Nyesal, Makan Sop Kambing di Rumah Habib

Hadist-hadist yang mengistimewakan habaib atau dzuriyat (keturunan Nabi Muhammad) itu diyakini kebenarannya oleh sebagian umat Islam. Sebagian orang NU percaya tanpa reserve terhadap hadist...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.