OUR NETWORK

Ketika Wakil NU-Muhammadiyah Bertemu Paus

Secara pribadi, saya sangat senang membaca pemberitaan seperti ini

Belum lama ini saya membaca berita di portal Republika berjudul “Wakil NU dan Muhammadiyah Temui Paus”. Dalam pemberitaan itu dikabarkan bahwa ada dua orang utusan dari Indonesia memenuhi undangan Pontifical Academy for Life dari Vatikan.

Keduanya adalah Dr. KH Marsudi Syuhud, sebagai wakil dari Nahdlatul Ulama, dan Prof. Syamsul Anwar, sebagai wakil dari Muhammadiyah. Keduanya mendapat kesempatan bertemu dengan Paus Fransiskus di Istana Kepausan, Vatikan pada Senin lalu (28/10).

Secara pribadi, saya sangat senang membaca pemberitaan seperti ini. Saya berpikir bahwa di tengah banyaknya ujian terhadap kerukunan antar-umat beragama yang marak terjadi di negara kita belakangan ini, kita butuh sesuatu yang bikin adem. Dan, tidak harus melalui hal yang besar dan heboh; hanya dengan membaca berita seperti ini saja rasa-rasanya sudah cukup.

Saya kira dengan membaca berita seperti ini, saya dan Anda menjadi sadar bahwa ternyata keberagaman itu indah. Bahwasanya, Tuhan menciptakan kita berbeda-beda. Tidak ada orang yang Tuhan ciptakan sama persis, bahkan anak kembar sekalipun. Mereka mungkin saja mirip, tetapi tidak sama. Perbedaan adalah Mahakarya dari Tuhan.

Justru saya heran ketika ada orang yang begitu anti terhadap keberagaman. Dan, jangan dikira orang seperti itu tidak ada di sekitar kita. Justru banyak. Pemberitaannya juga sudah bertebaran di mana-mana. Entah apa yang ada di benak mereka. Saya sendiri juga tidak tahu.

Kalau kita mau jujur, dan memang harus jujur, perbedaan itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Jangan dikira bahwa di rumah tidak ada perbedaan. Antara ayah, ibu, dan anak-anak, misalnya, tentu saja mempunyai banyak perbedaan dalam hal selera makan, pilihan warna, hobi, film kesukaan, dan sebagainya.

Nah, jika di rumah sendiri saja demikian adanya, apa lagi di luar rumah. Maka, jangan heran jika pada saat kita membuka pintu rumah kita, sudah terbentang di depan mata kita beraneka ragam perbedaan. Lalu, apakah kita menolak perbedaan-perbedaan itu? Tentu saja jawabannya: tidak. Menolak perbedaan bukan sikap yang pantas.

Suka atau tidak suka, para pendiri bangsa ini, lewat semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ – Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, sudah mengakui adanya keberagaman di negara ini. Sedari awal mereka sudah menyadari bahwa perbedaan dan keberagaman itu merupakan suatu keniscayaan; artinya tidak bisa tidak, harus ada.

Justru kalau kita memaksakan diri untuk membuat semuanya sama, itu sama saja kita menista Tuhan.  Maka, sebagai bagian dari bangsa ini, sudah sepatutnya kita mengamalkan semboyan tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jangan sampai kita menolak adanya perbedaan. Lagipula, sekalipun kita menolaknya, perbedaan itu tetap ada. Maka, sikap yang tepat dalam menyikapi perbedaan adalah dengan mensyukurinya. Kita bersyukur karena kita berbeda; sebab dengan adanya perbedaan itu, makanya hidup kita menjadi berwarna; dan sesuatu yang berwarna itu sudah pasti indah. Bukankah begitu?

Lagipula, justru karena kita bhinneka, makanya sila ketiga Pancasila, yaitu ‘Persatuan Indonesia’ menjadi benar-benar bisa terwujud. Kita bersatu karena kita berbeda. Jika saja kita tidak berbeda, dalam artian sama semuanya, buat apa disatukan? Tidak ada yang perlu disatukan jika semuanya sama saja. Laki-laki dan perempuan bersatu karena mereka berbeda; dan persatuan mereka itu melahirkan sesuatu yang indah, yaitu kelahiran anak. Kira-kira begitu.

Jika saja dunia ini hanya terdiri atas laki-laki semuanya atau perempuan semuanya, maka saya sulit membayangkan apa yang akan terjadi. Mungkin yang akan terjadi hanyalah ‘jeruk makan jeruk’; dan sudah pasti kita semua tidak menginginkan hal itu terjadi. Karenanya, sekali lagi, perbedaan itu jangan pernah ditolak, tetapi sebaliknya, disyukuri.

Apalagi, kita ini adalah orang-orang beriman. Bukankah bangsa kita dikenal luas sebagai bangsa yang religius? Nah, sebagai orang yang beriman, kita harus saling mengasihi meski kita berbeda.

Jangan mengaku beriman jika kita tidak mau mengasihi satu terhadap yang lain. Justru sebaliknya, semakin kita beriman kepada Tuhan, seharusnya kita semakin mengasihi sesama; sebab Tuhan adalah kasih. Dia yang Mahakasih itu mengasihi semua orang tanpa tebang pilih. Ia menurunkan hujan baik kepada orang benar, maupun kepada orang jahat.

Jika ada orang mengaku beriman, tapi dalam kehidupan sehari-harinya ternyata membenci sesamanya manusia, itu berarti bahwa orang bersangkutan sebenarnya tidak sungguh-sungguh beriman –alias beriman secara setengah-setengah, atau mungkin saja mengaku beriman tapi ternyata tidak beriman sama sekali.

Karena itu, mari kita hentikan segala macam caci maki, hujatan, dan fitnah. Jangan sampai ada lagi permusuhan di antara kita, hanya karena kita berbeda suku, agama, dan ras. Ingat, bumi ini diperuntukkan bagi semua, siapa saja tanpa terkecuali. Itulah yang dikehendaki oleh Tuhan. Jika Tuhan tidak menghendaki adanya perbedaan di antara kita, tentulah Ia tidak pernah menciptakan kita secara berbeda-beda.

Nah, kalau kita masih saja terus mempersoalkan perbedaan di antara kita, itu tandanya kita perlu secara sungguh-sungguh merenungkan apakah selama ini kita benar-benar mengimani Tuhan atau tidak. Sekiranya kita sungguh mengimani Tuhan, kita tidak akan pernah melawan kehendak-Nya.

Ingat, kebhinnekaan adalah kehendak Tuhan sendiri. Dialah yang menginginkan dunia ini bhinneka. Maka, anti terhadap kebhinnekaan berarti menyangkal kehendak Tuhan. Siapa kita untuk menolak kehendak Tuhan?

Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Aktif di media sosial dan merupakan pendiri JalaPress.com.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…