OUR NETWORK

Kenapa Ada Buzzer Sukarela yang Tidak Dibayar?

Russell (2019:9) menulis, “Apabila orang bersedia mengikuti seorang pemimpin, mereka berbuat demikian agar kelompok yang ia menjadi anggotanya memperoleh kekuasaan, dan mereka merasa kemenengan pemimpin sebagai kemenangan mereka juga.”

Saya kira, ada banyak karakteristik buzzer dalam dunia politik kita. Ada buzzer yang punya tujuan materi (profesi buzzer), ada yang memang memiliki moralitas right and wrong, ada pula yang menjadi buzzer karena nilai-nilai tertentu yang diyakininya (misalnya nilai agama atau ideologis), dsb.  Bagi saya, yang paling menarik untuk dibahas adalah: kenapa ada buzzer yang dengan senang hati meluangkan waktunya untuk membela sang junjungan tanpa dibayar –bahkan tanpa kepentingan apapun selain “senang membela dan memuja”?

Filsuf Bertrand Russell sudah pernah “meramalkan” fenomena ini. Kata Russell, “haus akan kekuasaan” merupakan sikap alamiah manusia. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki peralatan dan perlengkapan untuk memperoleh kekuasaan dalam arti “jabatan”.

Lalu bagaimana jika seluruh manusia dianggap secara alamiah menginginkan kekuasaan, sedangkan cara dan alat memperoleh kekuasaan itu sendiri terbatas? Maka, lahirlah sekelompok makhluk yang disebut buzzer. Russell (2019:9) menulis, “Apabila orang bersedia mengikuti seorang pemimpin, mereka berbuat demikian agar kelompok yang ia menjadi anggotanya memperoleh kekuasaan, dan mereka merasa kemenengan pemimpin sebagai kemenangan mereka juga.”

Katakanlah ada individu yang berisik sekali di masa kepemimpinan presiden sebelumnya, lantas di periode sekarang dengan jabatan baru sebagai komisaris BUMN ia menjadi berisik juga tetapi dengan fungsi baru sebagai corong penguasa. Kenapa si komisaris BUMN ini tidak “ribut” menggugat istana seperti dulu, padahal masalah yang muncul adalah masalah yang sama seperti di periode sebelumnya –yang dulu ia kritisi tak kenal ampun? Ya jawabannya jelas. Ia telah dibayar dengan jabatan tersebut. Buzzer tipe ini tidak bisa dikatakan sebagai sukarelawan. Dia pamrih dengan sebenar-benarnya pamrih.

Buzzer yang saya bahas di tulisan ini yang sebagaimana diisyaratkan Russell adalah buzzer dengan followers sedikit, yang dengan sadar dia tidak akan mendapatkan keuntungan riil apapun dari junjungannya, juga tanpa pengetahuan politik yang mapan, tanpa kepentingan nilai, tapi sedia menghajar teman-temannya yang mengkritik penguasa dan menjadi tim hore jika sang penguasa menang atau menyelesaikan sesuatu. Anda mungkin pernah punya pengalaman berhadapan dengan “buzzer” tipe ini. Lucu sekali mereka, bukan?

Dulu di dalam satu grup WhatsApp yang saya terlibat, seorang anggota menuduh siapa saja yang mengirim suatu kritik terhadap penguasa sebagai “penyebar hoaks”. Dia tidak memberikan informasi alternatif sama sekali yang seharusnya ia sampaikan kalau memang menuduh orang lain menebar berita bohong. Pokoknya ya, hajar saja. Masih orang yang sama, dia juga terang-terangan bangga menjadi anggota timses. Mestinya dia ditanya, “Kamu kenapa mau jadi timses? Atas dasar kepentingan apa atau atas dasar nilai apa? Kalau tidak untung apapun, mending jualan nasi goreng di depan rumah.”

Kalau Anda penasaran bagaimana “bodohnya” kaum jahiliyah yang dihadapi Nabi Muhammad SAW dulu, mungkin Anda akan sedikit punya gambaran jika melihat fenomena buzzer tanpa pamrih ini. Atau jangan-jangan kelompok buzzer sekarang ini lebih bodoh dibandingkan mereka? Setahu saya orang Arab saat itu pandai bersyair, sedangkan buzzer ini buruk sekali dalam tata cara menyusun kata. Terus terang saya cringe membaca atau mendengarnya.

Sekarang, kita kembali ke bahasan utama kita. Tulisan Russell yang saya kutip di atas memberi penjelasan bahwa buzzer tipe ini sebagai orang yang ingin turut merasakan kekuasaan. Dengan menghardik orang lain sebagai pihak yang kalah, dengan menyerang pribadi pihak lawan, dengan menuduh orang sebagai “penganggu kinerja”, dengan melontarkan kalimat pujian buta terhadap sang junjungan, mereka merasakan bahwa dirinya telah menang atau berkuasa atas orang lain. Manusiawi bukan?

Oleh sebab itu, saya mengajak kepada pembaca untuk tidak “menyiksa” buzzer tipe ini. Alasannya karena mereka tidak memiliki kapabilitas untuk memperoleh bentuk kekuasaan sendiri. Mereka memang sangat miskin sumberdaya. Mereka sudah tersiksa dengan bentuk kekurangan tersebut. Tolong jangan ditambahkan lagi penderitaan mereka.

Russell (2019) dalam bukunya Kekuasaan: Sebuah Analisis Sosial Dan Politik tidak membatasi bentuk kekuasaan sebagai kekuasaan politik saja, tetapi ia juga menyebut bentuk lain di antaranya adalah kekuasaan ekonomi, kekuasaan atas pendapat, kekuasaan religius, dsb. Jadi sebenarnya, kesempatan manusia memenuhi kebutuhan alamiahnya untuk berkuasa itu sangat luas.

Seorang tauke yang menguasai pemasokan barang sebuah pasar tradisional mungkin telah selesai dengan kebutuhan alamiahnya dan dia tidak membutuhkan lagi bentuk kekuasaan lain. Begitu juga misalnya seorang ketua ormas agama atau seorang dosen pembimbing yang memiliki kuasa atas mahasiswa-mahasiswanya. Tapi bagaimana halnya dengan orang yang tidak memiliki bentuk kekuasaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan naluriahnya? Maka, mengikuti logika Russell, Ia menjadi buzzer tanpa pamrih dan tanpa “kapabilitas berargumentasi” untuk menjadi seorang buzzer.

Sementara ia membela “dewa”-nya, sang dewa sama sekali tidak kenal dengan buzzer tersebut, apalagi sempat memberikan reward. Kalau kata pepatah, wujuduhu ka’adamihi, ada-nya sama seperti ketidakberadaannya.

Maksud saya, dengan followers sedikit, atau jumlah anggota grup WhatsApp yang tidak sampai tiga puluh orang, ditambah dengan argumen yang tidak rasional pula, dia menjunjung atau tidak menjunjung sang dewa, sang dewa tetaplah sang dewa. Anda boleh tidak setuju dengan tesis Russell soal kekuasaan sebagai naluri manusia, tapi Anda pasti setuju bahwa para buzzer itu memang tidak punya akal yang semestinya digunakannya dengan baik.

Sebagai penutup, saya kembali mengingatkan untuk jangan tambah derita para buzzer tanpa pamrih dengan hinaan-hinaan kita. Justru, kita harus membantu mereka. Bagaimana caranya? Yaitu dengan tidak menghiraukannya.

Sebab, dengungan yang mereka bunyikan tidak akan berhasil jika tidak ada yang mengaku mendengarnya. Tapi ya, saya sendiri juga kadang-kadang iseng membalas “gaya argumentasi” mereka yang lucu. Saya juga kadang tidak tahan, karena mereka sungguh-sungguh “menghibur” sekali. Tulisan ini sendiri adalah bukti bahwa saya memang masih mendengarkan dengungan para lebah itu.

Referensi 

Russell, Bertrand. 2019. Kekuasaan: Sebuah Analisis Sosial Dan Politik. Jakarta, Indonesia: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Urang Banjar, Mahasiswa Sosiologi FISIP UI, dan Santri Pesma Al-Hikam Depok.

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.