Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Kekonyolan demi Kekonyolan Amien Rais

Jokowi, Anies, Terawan, Korona dan Otonomi Daerah

"Dalam force major, tema utama yang perlu dibincangkan adalah tentang kewajiban. Sangat tidak adil jika semua masalah ditudingkan pada satu atau segelintir orang" Ini bukan...

Perjuangan The Villas Bertahan di Premier League

Aston Villa. Sebuah tim yang mungkin sudah dilupakan, kisahnya tidak se menyedihkan Sunderland atau Persegres Gresik, Tapi Aston Villa juga sudah kehilangan sayap kejayaan...

Kecemasan Membaca Berita Bencana Covid-19

Idealnya kegiatan membaca informasi berita akan menambahkan wawasan baru dalam bertindak menentukan sikap. Tetapi, bisa juga berdampak sebaliknya, justru menimbulkan kecemasan. Terutama pada informasi...

Golkar Unggul di Pilkada 2018? Yang Benar Saja

Gambar dengan tabel warna-warni ini muncul berkali-kali di akun media sosial saya. Setidaknya, saya ketemu gambar ini di grup WhatsApp group, Facebook, dan Instagram. Pembuat...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Setidaknya sudah tiga kali saya menulis tentang Amien Rais di sini. Sebabnya sederhana, orang tua itu gemar betul membuat pernyataan konyol. Saya kira dia sedang bercanda atau memang hendak memulai polemik. Belakangan upaya Amien Rais itu seperti terpola, ia tidak sedang berbuat konyol, ia sengaja membuat pernyataan bombastis agar ditulis wartawan, menyebar, dan jadi perbincangan.

Kalau sekadar perbincangan, semua orang bisa; bahkan Vicky Prasetyo atau Syahrini gemar melakukan itu. Tapi kenapa Amien Rais juga melakukan hal itu? Barangkali karena ia ingin didengar, menggunakan dog-whistle politics, Amien Rais menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh pendengarnya. Siapa pendengarnya? Kelompok masyarakat yang selama ini merasa diperlakukan tidak adil, menjadi korban, atau dipinggirkan oleh penguasa.

Amien bicara dengan retorika-retorika yang absurd dan nyeleneh. Misalnya Partai Allah dan Partai Setan, Allah malu tidak mengabulkan doa, dan yang paling baru sinyal dari langit. Retorika ini adalah bahasa yang digunakan oleh para televangelis di Amerika. Kelompok agamawan konservatif yang membuai umat dengan imaji bahwa kondisi negara sedang gawat, umat sedang dalam keadaan didesak, dan hanya Tuhan yang bisa menolong.

Sebagai intelektual jebolan Chicago, Amien Rais pada era 90-an punya banyak penggemar. Dan para pemuja Amien Rais tentu tidak semuanya berpikir menggunakan tempurung lutut. Beliau dulu memberikan pengantar cendikiawan muslim Syiah Ali Syariati, menulis banyak buku tentang modernisasi islam. Tapi kenapa saat ini nyaris tidak ada yang berani mengoreksi pernyataan beliau? Jawabannya sederhana. Jika kamu diam saat ada sesuatu yang salah. Kemungkinannya dua, kamu diuntungkan kondisi salah itu atau merasa tak ada yang salah.

Mengapa Amien Rais perlu mencari perhatian? Di era media sosial, volume perbincangan digital bisa jadi sesuatu yang penting. Makin banyak dibicarakan, makin luas pihak yang akan membaca dan mendengar. Tidak penting apakah pesan itu benar atau tidak, tidak penting juga apakah yang disampaikan punya nilai atau tidak, yang penting adalah seberapa luas jangkauan berita itu menyebar.

Ada beberapa alasan mengapa penyebaran berita itu penting. Misalnya begini, bagi mereka yang percaya bahwa Indonesia sedang mengalami pendangkalan akidah, pernyataan Amien Rais tentang Partai Allah dan Partai Setan bisa jadi sebuah kebenaran. Maka menyerukan ada partai yang berkomitmen pada umat, dengan simbol partai Allah, maka orang-orang yang merasa jadi korban itu akan menemukan teman.

Alasan lainnya adalah tidak ada yang namanya publikasi buruk. Publikasi adalah publikasi. Semakin besar volume perbincangan digital, semakin banyak orang yang membicarakan kita, maka pesan, visi, dan keinginan kita akan mudah tersebar. Mau tidak mau dengan menulis ini saya sedang mempromosikan sikap politik Amien Rais, siapa pun yang membaca ini bisa jadi setuju pada saya, atau menganggap saya salah dan membenarkan Amien Rais.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk meredam itu semua?

Ya enggak perlu diredam. Saya percaya bahwa ide dilawan ide. Kalau kamu enggak bisa melawan ide dan sibuk mendiskreditkan lawan, sebenarnya kamu lebih cocok jadi admin meme edgy daripada penulis. Selama ini yang saya lakukan adalah berusaha memberikan perspektif bahwa ada logika yang kacau dari pernyataan Amien Rais, dampaknya akan selalu sama, bagi yang setuju akan mendukung, yang tidak setuju ya akan tetap menolak.

Amien Rais punya tradisi panjang dalam memanfaatkan momen. Pada 1998, ia menggunakan poros tengah untuk menjegal Megawati sebagai presiden dan menaikkan Gus Dur. Sikapnya ini membuat dirinya dianggap sebagai bapak reformasi. Jangan lupa Sutrisno Bachir yang digadang-gadang jadi pemimpin, eh malah dikadalin dan hari ini nyaris tak ada suaranya. Amien punya banyak cara untuk membuat orang merasa istimewa, membaca situasi, sampai memanfaatkan kelemahan itu.

Amien Rais tentu bisa dilawan, salah satu caranya adalah membuatnya tak lagi relevan. Misalnya memberikan analisis serius betapa pernyataannya itu salah dan perlu dikoreksi. Usaha semacam ini akan membuat dia sibuk memberi klarifikasi daripada membuat pernyataan yang bombastis. Lalu pada tataran yang lebih serius menantang pernyataan-pernyataan itu sebagai usaha adu domba publik. Kita lawan ide dengan ide, agitasi dengan agitasi, dan pernyataan konyol dengan pernyataan yang lebih konyol.

Usaha melawan ide dengan ide memang melelahkan, bisa jadi cuma perang mulut. Tapi ia jadi penting untuk merawat akal sehat.

Amien Rais memang pernah menjadi satu sosok intelektual muslim yang membentuk satu generasi pemikir. Meski belakangan ia lebih sering jadi komedian dengan segala statemen yang ia bikin.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.