Rabu, Oktober 28, 2020

Kekeliruan Argumentasi Diplomat Silvany Pasaribu

Ahok: PSI Partai Kecil Omong Gede?

Ahok adalah "manusia kontroversial abadi". Kapan dan di mana pun dia berada, pikiran dan mulutnya tak berjarak. Bahkan, untuk sedikit menimbang manfaat dan mudaratnya,...

Kedewasaan Umat Beragama dan Toleransi Anak TK

Berita ini bertubi-tubi menghiasi lini masa saya. Banyak teman saya menangis terharu karenanya. Tapi, siapa yang tidak? Anak-anak dari TK Katolik mengunjungi saudara-saudaranya sesama...

Perempuan Tionghoa Melihat Rusuh Jakarta

“Matiin semua lampunya. Lampu depan rumah juga. Sekalian tutup gordennya,” kata mamiku. Malam itu ulang tahunku 21 tahun lalu. “Tapi, Papi kan belum pulang, Mi,”...

Saatnya Bung Fahri Jadi Jubir Jokowi

Fahri Hamzah—Selanjutnya saya sebut Bung Fahri—adalah satu dari sedikit politisi berkarakter di Indonesia, setidaknya menurut saya. Semasa dia menjabat Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019,...
Ghozian Aulia Pradhana
Ph.D student in Media and Communication Studies, University of Malaya

Disadari atau tidak, berargumentasi menyisipkan banyak kekeliruan, dan itu berbahaya. Dalam ruang publik misalnya, ketika argumentasi kita tercatat dan dimaknai kembali oleh publik, belum tentu akan menghasilkan logika berpikir yang sama dengan kebenaran yang kita pahami.

Dalam setiap argumen, kita mengajukan alasan (premis) bagi kesimpulan yang dianggap benar. Seringkali, premis yang diajukan keliru dan tidak berhubungan secara logis dengan kesimpulan yang dimaksud. Dengan demikian, argumentasi kita keliru sehingga gugur dalam sebuah perdebatan.

Beberapa waktu lalu, kita menyaksikan keriuhan pemberitaan seorang diplomat muda di Sidang Majelis PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) yang berargumentasi ketika Perdana Menteri Republik Vanuatu Bob Loughman mengungkit soal isu pelanggaran HAM. Vanuatu terbilang cukup sering mengkritik catatan HAM Indonesia di Papua dan Papua Barat.

Bagi Indonesia yang diwakili oleh Silvany, Vanuatu terlalu ikut campur negara lain, Vanuatu juga bukan bagian dari representasi rakyat Papua. Jelasnya Silvany mengatakan “memalukan bahwa suatu negara terus memiliki obsesi tidak sehat yang berlebihan tentang bagaimana seharusnya Indonesia bertindak atau memerintah sendiri. Sebelum hal itu dilakukan, tolong jangan menceramahi negara lain”.

Tentu tulisan ini tidak akan membahas dalam perspektif hubungan internasional danproses diplomasi antarbangsa, atau mengenai isu HAM dan separatisme yang membutuhkan data konkret dan mendalam. Tulisan ini hanya akan memeriksa kesahihan argumentasi dalam hak jawab Indonesia di Sidang PBB tersebut. Perlu kita pahami aspek penting dasar dalam konteks ini.

Apa yang dipertanyakan oleh PM Vanuatu adalah ranah ontologi (hakikat realitas), sedangkan jawaban diplomat kita justru cenderung aksiologis (etika). Selain itu, PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) dibentuk dengan semangat menjaga perdamaian dan keamanan dunia. Memajukan dan mendorong hubungan persaudaraan antarbangsa melalui penghormatan hak asasi manusia. Berikut kita akan memeriksa apa saja kesalahan logika dalam argumentasi Indonesia melalui diplomat muda Silvany Pasaribu.

Ketika berargumen Indonesia terjebak dalam kesalahan logika Ad Hominem, atau menyerang identitas personal penyampai argumen. Kesalahan logika ini memandang bahwa argumen yang diajukan lawan tidak valid karena sosok penyampaiannya tidak memenuhi kriteria menurut kita. Vanuatu bagi Indonesia bukanlah bagian dari Papua, sehingga dikatakan tidak berhak ikut campur untuk urusan pelanggaran HAM di Papua. Artinya, Vanuatu dianggap tidak kredibel oleh Indonesia, ini termasuk ke dalam kesalahan logika ad hominem.

Dalam contoh Vanuatu versus Indonesia, terlihat bahwa Indonesia tidak membantah argumen Vanuatu dengan menggunakan data tandingan. Alih-alih mementahkan argumen Vanuatu dengan mengungkitnya sebagai pihak yang tak pantas ikut campur urusan negara lain, bahasa bias lainnya yang digunakan Indonesia melalui Silvany adalah Vanuatu “berfantasi” menjadi bagian dari Papua.

Pertanyaannya, selain kesalahan ad hominem, jika kita merujuk semangat pendirian PBB, untuk apa didirikan PBB jika mengkritik dan mempertanyakan sikap Indonesia dalam penyelesaian HAM di Papua tidak boleh oleh negara lain sesama Asia Pasifik? Oke, anggap Vanuatu belum meratifikasi konvensi internasional tentang penghapusan diskriminasi rasial dan menandatangani perjanjian internasional, tetap kembali merujuk pada kesalahan logika ad hominem.

Seperti yang sudah dibahas di atas, pertanyaan Perdana Menteri Vanuatu adalah ranah ontologi, mempertanyakan substansi penyelesaian HAM di Papua. Namun, sayangnya Indonesia lagi-lagi melalui Silvany menjawabnya dalam ranah aksiologi, etika, atau kepantasan. Indonesia menjelaskan bahwa Vanuatu tidak pantas meributkan HAM di Papua sebab bukan bagian dari rakyat Papua.

Vanuatu juga dianggap tidak menjalani tugasnya dalam ratifikasi konvensi internasional soal diskriminasi rasial dan penandatanganan perjanjian internasional. Sehingga pertanyaan substantif (ontologis) soal HAM di Papua teralihkan ke hal-hal aksiologis. Itulah yang disebut kesalahan berpikir red herring, membawa topik yang tidak relevan dengan perdebatan demi mengalihkan pembicaraan.

Masih dalam pernyataan “Vanuatu bukan representasi dari Rakyat Papua, maka tidak berhak mempertanyakan penanganan HAM di Papua.” Apa yang tampak dalam pernyataan tersebut adalah kesalahan logika false dichotomy. Yakni kesalahan berlogika ketika kita menganggap bahwa hanya ada dua kemungkinan (hitam-putih) yang dapat terjadi, dan mengabaikan segala kemungkinan lain yang ada.

Jika benar Vanuatu memang bukan representasi rakyat Papua, dan itu diungkapkan dalam forum Persatuan Bangsa-Bangsa, lalu untuk apa keikutsertaan Vanuatu dan Indonesia sebagai anggota PBB? Sebuah kontradiksi. Selain kesalahan dalam tata logika, ia juga membuat prasangka terhadap bangsa lain sebagai pihak lawan.

Vanuatu bukan representasi rakyat Papua! Statement itu tergolong dalam kesalahan logika no true scotsman. Menganggap Vanuatu bukan bagian dari Indonesia khususnya Papua untuk menyerang argumentasi lawan adalah sebuah kesalahan berpikir untuk mempertahankan sebuah generalisasi. Kesalahan ini muncul ketika satu pihak menolak bentuk kritik valid yang ditujukan kepada satu kelompok. Fungsinya adalah untuk mementahkan segala bentuk bukti yang diajukan lawan bicara.

Terakhir adalah kesalahan logika yang disebut strawman. Strawman bermaksud memelintir argumentasi yang dibangun oleh lawan. Strawman menuduh kita melalui argumen kita sendiri. Artinya, pihak lawan sengaja memelintir argumen kita seolah-olah itu keluar dari argumen kita.

Indonesia menuduh apa yang dilakukan Vanuatu dalam kritiknya adalah palsu (artifisial), tujuannya tidak lain adalah mendukung separatisme dan memprovokasi pada isu Papua. Indonesia berupaya menerjemahkan argumen Vanuatu, lalu menyerang Vanuatu berdasarkan tafsirannya sendiri. Strawman sangat sulit dideteksi karena kita membutuhkan kejernihan argumentasi agar tidak terjebak dalam logika strawman.

Membangun argumen berdasarkan logika adalah sebuah seni. Upaya yang tidak hanya teknikal atau sekedar retorika, namun membutuhkan kecakapan dan pemahaman agar dialektika komunikasi menjadi lebih efektif. Selain itu perlu kiranya mempertimbangkan kegagalan menangkap makna dari proses dialektika tersebut, agar tidak tersulut dalam perdebatan alot yang dapat memicu keretakkan hubungan antarbangsa.

Pada akhirnya contoh kasus Indonesia dan Vanuatu dalam forum sidang PBB adalah momen kita memahami dan mempelajari isu yang lebih kompleks dan rumit, sehingga secara utuh dapat menghindari kesalahan berargumen juga menalar persoalan bangsa di mata dunia internasional.

Ghozian Aulia Pradhana
Ph.D student in Media and Communication Studies, University of Malaya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.