Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Kedewasaan Umat Beragama dan Toleransi Anak TK

Diplomasi Jokowi dan Peluang Perdamaian Israel-Palestina 

Presiden Joko Widodo – Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah mengumumkan formasi Kabinet Indonesia Maju pada 23 Oktober 2019 lalu. Beberapa wajah baru muncul dengan...

Kiagus Wafat, Apa Kabar Jiwasraya dan Asabri?

Kabar Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya positif virus corona membuat para menteri ikut "gemetar". Bahkan kabarnya Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto menjadi sorotan setelah...

Aji Mumpung Keluarga Jokowi

“Jangan sia-siakan kesempatan pertama, karena kesempatan berikutnya bukan lagi kesempatan pertama dan belum tentu ada lagi atau belum tentu lebih baik~dm Beberapa hari belakangan ini...

Politikus Sontoloyo, Nusron Wahid, dan Gejala-gejala Mengkhawatirkan

Presiden Jokowi beberapa hari lalu menyebut adanya politikus sontoloyo. Menurutnya, politikus macam ini memakai "cara-cara politik adu domba, cara-cara politik yang memfitnah, cara- cara...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Berita ini bertubi-tubi menghiasi lini masa saya. Banyak teman saya menangis terharu karenanya. Tapi, siapa yang tidak? Anak-anak dari TK Katolik mengunjungi saudara-saudaranya sesama TK yang Muslim. Lalu mereka saling berpelukan. Seperti lazimnya anak-anak.

Koran yang memberitakan ini memulainya dengan sebuah cliché, “Toleransi antarumat beragama sudah sepatutnya diajarkan sejak dini.”

Benarkah demikian?

Sepanjang ingatan saya, dan juga dari pengalaman hidup di beberapa negara, orang hanya akan bicara toleransi jika ada masalah. Pada dasarnya, orang tidak terlalu peduli dengan perbedaan-perbedaan seperti ras, warna kulit, agama, dan sebagainya itu. Orang akan jauh lebih sensitif pada perbedaan sosial ekonomi.

Masalah toleransi dan intoleransi sesungguhnya berakar pada faktor-faktor sosiologis, politis, dan ekonomis. Anda bicara masalah ras, misalnya, hanya jika masalah warna kulit ini masuk ke dalam politik, ke hidup sosial, dan ke ketimpangan ekonomi. Pendeknya, dia menjadi masalah struktural.

Seperti ini misalnya. Kalau Anda berkulit putih maka kemungkinan Anda akan lebih makmur, lebih berpendidikan, hidup di keluarga yang stabil, gizi Anda pun lebih baik dan sehat.

Jika Anda berkulit coklat atau hitam, Anda adalah kebalikannya. Anda miskin, kurang terdidik, dari keluarga yang berantakan, dan Anda kemungkinan kurang makan atau kelebihan makan karena makanan sehat itu mahal.

Kemudian ada politisi yang mengeksploitasi isu ini. Di tangan para politisi, isu yang absah (legitimate) harus dirubah menjadi kemarahan. Hanya orang marah yang gampang termobilisasi. Tentu, arahnya adalah supaya politisi ini mendapat dukungan. Entah lewat pemilihan atau hanya sekedar opini publik bahwa ia memang penguasa yang sah.

Toleransi pun tidak jauh dari soal ini. Kita menghadapi masalah. Di negeri ini, paling gampang membuat orang marah karena soal agama. Politisi dengan pintar memanfaatkan situasi ini.

Para politisi, baik yang berjubah, bersarung, berdasi, maupun hanya berbaju putih atau biru, berlomba-loma melakukannya. Ada yang melakukannya dengan telanjang. Ada pula dengan sarung tangan beludru.

Kita membutuhkan toleransi karena kita tidak sanggup menyelesaikan masalah-masalah besar kita: kemiskinan, ketimpangan sosial, keadilan, dan sejenisnya itu lewat sarana-sarana yang kita miliki. Ekonomi kita membela yang kuat. Keadilan kita menindas yang lemah. Politik kita dikuasai para plutokrat.

KIta mengalihkan masalah-masalah besar itu dan menjadikannya masalah agama. Mulailah kita memerlukan toleransi. Dan, jangan salah, toleransi bahkan menjadi industri tersendiri. Begitu banyak lembaga didirikan. Begitu banyak intelektual, akademisi, dan (tentu saja) agamawan, dilibatkan. Mereka bisa bicara yang hebat-hebat.

Adakah dia menyelesaikan masalah intoleransi? Tentu tidak. Berharap demikian, ibaratnya kita menyembuhkan sakit kanker dengan Yodium Tincture.

Hasilnya adalah sebagian masyarakat yang gumunan, yang gampang terharu. Kita terkejut mendapati bahwa satu Vihara di utara Jakarta telah bertahun-tahun menyediakan makanan buka puasa gratis untuk mereka yang berpuasa. Apa yang normal menjadi sangat istimewa. Ini sendiri adalah symptom ketidaknormalan kita.

Saya tidak mau menjadi sinis. Namun inilah yang terjadi. Sekarang keadaan bahkan makin menguat. Kalau kita melihat kembali hasil Pemilu kemarin, kita segera tahu bahwa kita semakin terbelah. Hampir pasti, kita akan semakin kuat merindukan toleransi. Sekalipun bukan disana pokok soalnya.

Tingkah laku anak-anak TK ini menjadi luar biasa karena orang dewasa tidak mampu melakukannya. Padahal hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang normal belaka. Anak-anak akan bermain tanpa bertanya apa agama teman bermainnya.

Ironisnya adalah bahwa hanya dalam beberapa tahun saja, anak-anak ini akan dikenalkan dengan dunia kafir – non kafir. Mulailah anak-anak ini dikumpulkan dalam kubunya masing-masing.

Toleransi sesungguhnya adalah berakar dalam masalah-masalah struktural dan politik kita sebagai masyarakat dan sebagai bangsa.

Jika demikian halnya, hilangnya toleransi tidak akan pernah bisa bisa disembuhkan dengan peluk-pelukan anak-anak TK.

Juga, Anda tidak akan bertambah toleran hanya dengan terharu setiap kali melihat pemuka-pemuka agama itu saling bersalaman dan kemudian saling menikam di belakang karena mereka pun berebut penganut.

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.