Minggu, Januari 17, 2021

Kasus Klorokuin, Bukti Gegabahnya WHO

Beberapa Catatan untuk Martin Suryajaya dan Pendukung Jokowi

Pada 6 September lalu Martin Suryajaya, penulis buku dan salah satu kolumnis Indoprogres, datang ke acara Klub Buku Jambu. Saat itu ia bersama Airlangga...

Ujaran Kebencian Era Kebebasan Berpendapat

Pada akhir Juni lalu beberapa perusahaan multinasional mulai berhenti memasang iklan di Facebook. Perusahaan tersebut antara lain adalah Pepsi, Unilever,Coca Cola dan lain sebagainya....

Game of Thrones dan Kita

April menjadi bulan yang dinantikan oleh banyak penggemar serial Game of Thrones. Tentu saja, karena mereka akhirnya bisa melepaskan rasa rindu atas keberlanjutan kisah...

Stop Aborsi

Kondisi kejiwaan anak sekolah dan mahasiswa, termasuk remaja yang belum siap untuk berumah tangga, tetapi mereka mengalami “kecelakaan”, sangatlah menyedihkan. Mereka sangat gundah dengan...
Faqihul Muqoddam
Seorang pegiat psikologi sains

Kabar terbaru menginfokan bahwa lembaga kesehatan internasional, World Health Organization (WHO), kembali melanjutkan serangkaian ujicoba hidroksiklorokuin atau klorokuin yang sebelumnya sempat dihentikan karena disebabkan berbagai faktor, salah satunya dari temuan Mandeep R. Mehra, dkk.

Temuan dengan judul “Hydroxychloroquine or chloroquine with or without a macrolide for treatment of COVID-19: a multinational registry analysis” sempat membuat WHO mengambil keputusan pelik di tengah dorongan dari berbagai pihak dalam memunculkan vaksin untuk wabah covid-19. Sempat menyetop ujicoba obat tersebut, WHO kembali melanjutkan ujicobanya baru-baru ini yang diikuti oleh negara-negara lain.

Penelitian yang terbit di Jurnal kredibel seperti “The Lancet” dan “New England Journal of Medicine” tersebut banyak memberikan sumbangsih atas keputusan yang selama ini diambil oleh WHO, khususnya tentang penggunaan obat malaria jenis klorokuin sebagai obat dalam membantu pasien covid-19.

Tepat pada tanggal 22 Mei 2020 kemarin, penelitian tersebut terbit dan mengejutkan seluruh publik bahwa klorokuin yang selama ini diyakini dapat berkontribusi pada penyembuhan pasien covid-19 ternyata salah.

Sebaliknya, temuan dari jurnal tersebut menyebutkan bahwa obat tersebut dapat meningkatkan risiko kematian bagi pasien covid-19 dengan penurunan kelangsungan hidup serta peningkatan frekuensi ventricular arrhythmias di rumah sakit. Hal ini menarik perhatian WHO. Pasalnya, WHO sedang melakukan ujicoba terhadap obat klorokuin, namun tiba-tiba dihentikan akibat temuan terbaru tersebut.

Namun hal itu tidak berlangsung lama. Pasalnya, saat ini WHO kembali melanjutkan ujicoba tersebut setelah penelitian yang dipimpin oleh Mandeep R. Mehra dkk diketahui bermasalah dan ditemukan di lapangan bahwa penggunaan obat klorokuin tidak meningkatkan risiko kematian bagi pasien covid-19 yang meminumnya.

Penelitian yang menjadi dasar WHO dalam memutuskan pemberhentian ujicoba pada akhir bulan lalu diketahui tidak memiliki validitas yang kuat dalam penelitiannya. Hal ini disebabkan oleh Sugisphere, perusahaan kecil di Amerika Serikat sebagai penyedia basis data di penelitian tersebut memiliki validitas data yang bermasalah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini sontak mengejutkan berbagai pihak, tak terkecuali WHO pun tak lepas dari kelalaian riset yang dipimpin oleh peneliti dari Harvard Medical School ini.

Dari kasus diatas, terdapat dua poin penting yang perlu kita cermati. Pertama, WHO terlalu gegabah dalam mengambil sebuah keputusan. Sebagai Lembaga kesehatan terbesar di dunia, WHO sejatinya harus memiliki beberapa pilihan yang dapat dijadikan landasan dalam segala kebijakannya, seperti proyek riset-riset kredibel baik dari internal organisasi maupun berafiliasi dengan lembaga terpercaya lainnya.

Dengan berbagai pilihan tersebut, WHO tentu tidak asal memutuskan suatu kebijakan di tengah ketidakpastian wabah pandemi ini, tetapi masih bisa memprediksi hal-hal yang diyakini bermanfaat atau tidaknya melalui pertimbangan berbagai riset-riset tadi. Selain itu, factor keakuratan data juga menjadi perhatian penuh, bukan hanya WHO, tapi juga bagi setiap orang dalam merespon temuan sebuah penelitian.

Hal ini perlu dilakukan mengingat Sugisphere, penyedia basis data di penelitian yang menjadi pedoman WHO sebelumnya merupakan sebuah perusahaan Pendidikan kedokteran yang menerbitkan buku pelajaran dan memiliki basis data yang internasional yang kuat, namun bukan termasuk lembaga basis data yang kredibel dan cenderung kurang dikenal.

Faktanya, The Guardian (3/6/2020) dalam penyelidikannya menemukan bahwa beberapa pekerja hanya memiliki sedikit bahkan tidak ada yang memiliki latar belakang ilmiah. Perusahaan ini mengaku memiliki total 11 pekerja.

Uniknya, salah satu pekerjanya yang terdaftar sebagai editor keilmuan adalah seorang penulis fiksi ilmiah dan seniman fantasi dan pekerja lain yang terdaftar sebagai eksekutif pemasaran adalah seorang model dewasa dan pembawa acara. Tentu fakta-fakta ini menjadi bukti dari terlalu gegabahnya WHO dalam mengambil keputusan.

Poin kedua, kasus diatas mencederai sebuah kredibilitas riset, melanggar etika ilmiah. Sains yang dari awal diyakini mampu memberikan kontribusi pada kasus ini ternyata tidak mampu berbuat banyak, bahkan sains mencederai dirinya sendiri dan belum bisa menjawab persoalan, khususnya terkait wabah pandemi ini. Jika sedari awal penelitian tersebut didesain secara tidak valid atau didasari atas kepentingan politik, maka hal ini bisa dibilang sebagai kebohongan publik.

Hal ini juga berdampak pada integritas dua jurnal terkemuka “The Lancet” dan “New England Journal of Medicine” yang sempat menerbitkan penelitian kontroversi tersebut. Perlu diketahui bahwa “The Lancet” merupakan jurnal terindeks scopus kuartil 1 (Q1) dengan Impact Factor (IF) sebesar 59.

Sedangkan “New England Journal of Medicine” adalah jurnal yang juga terindeks scopus kualtil 1 (Q1) dengan IF sebesar 70. Artinya, kedua jurnal tersebut merupakan jurnal besar dan terkemuka di dunia dengan integritas yang cukup tinggi.

Dengan tingginya kredibilitas jurnal yang dimilikinya, seharusnya jurnal-jurnal seperti mereka dapat melakukan penilaian yang cukup ketat di setiap artikel-artikel yang masuk. Meskipun sempat mendapat ungkapan kekecewaan dari berbagai pihak, kedua jurnal tersebut menarik kembali penelitian bermasalah tersebut dan mengakui keprihatinan pada kasus yang sudah terjadi.

Beredarnya kasus ini tentu menjadi pelajaran bagi semua pihak, khususnya pihak yang bergelut di bidang penelitian selama pandemi ini. Diperlukan pertimbangan yang matang bagi organisasi kesehatan dunia seperti WHO dalam membuat kebijakan serta perlu kehati-hatian dalam melakukan riset ilmiah agar dapat menjaga konsistensi etika ilmiah yang selama ini dijunjung tinggi dalam memberikan sumbangsing besar bagi kehidupan manusia, terutama terkait keselamatan di tengah ketidakpastian penyebaran pandemi ini.

Faqihul Muqoddam
Seorang pegiat psikologi sains
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.