Senin, April 12, 2021

Kalau Mardani Ali Sera Melambai, Memangnya Kenapa?

Saat UI Takut Pada Ade Armando

Seperti sudah saya duga, saya akhirnya ditolak menjadi guru besar di Universitas Indonesia. Sebenarnya tidak ada kata resmi ‘ditolak’, tapi Dewan Guru besar UI...

#10YearsChallenge dan Kondisi Penegakan HAM Kita

Warganet sedang ramai merayakan #10YearsChallenge. Sebuah tantangan di mana kita menyajikan foto diri 10 tahun lalu dan hari ini. Tujuannya untuk melihat sejauh mana...

Data dan Bagaimana Tempurung Kepala Kita Memprosesnya

Laporan dari Reuters ini dan laporan-laporan dari New York Times yang saya baca beberapa saat setelah bencana di Palu sungguh membuat saya berpikir. Bukan...

Penggalangan Dana Prabowo Subianto dan Partisipasi Politik

Prabowo Subianto membuat satu terobosan baru. Dia menggalang dana untuk kepentingan partainya, Gerindra, yang akan berlaga dalam Pilkada. "Saya mohon bantuanmu, berapa banyak itu tergantung...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Kemarin, saya melihat beberapa akun di media sosial yang menyebarkan video Mardani Ali Sera yang sedang bicara. Deskripsi video itu menyiratkan sebuah gejala yang mengkhawatirkan: Orang-orang itu menyebut Mardani sebagai sosok yang melambai, ngondek, gemes, dan bences.

Untuk kalian yang tidak paham apa itu melambai, ngondek, dan bences, ini adalah istilah-istilah yang dimaksudkan untuk menyebut laki-laki yang feminin. Citra yang melekat pada para banci atau homoseksual. Ini stigma, tentu saja, dan tidak ada yang salah dari seorang laki-laki yang ingin tampil lembut, ngondek, atau bences. Yang salah adalah anggapan bahwa ngondek dan bences sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Politik hari ini telah jatuh pada titik yang mengkhawatirkan. Kelompok pendukung Prabowo, melalui Ferdinand Hutahaean, ngotot menuntut dilakukan tes DNA PKI bagi capres-cawapres dan ini jelas luar biasa bebalnya. Sementara di sisi lain, beberapa pendukung Jokowi menyerang ekspresi dan gestur Mardani Ali Sera yang dianggap ngondek.

Pertanyaan saya, kalau ngondek kenapa? Apakah kalau gondek ia melanggar hukum? Kan tidak. Lagi pula apa sih yang hendak dicapai dengan menggoreng isu bahwa Mardani Ali Sera melambai? Bahwa ia homoseksual? Atau banci?

Di negeri yang memiliki kebencian terhadap homosekualitas, melabeli seseorang dengan sebutan banci, ngondek, dan sejenisnya punya dampak serius. Melabeli lawan politik dengan sebutan banci dan ngondek adalah tradisi maskulin yang mengerikan. Seolah-olah mutu seseorang diukur dari betapa macho dan gagahnya dia.

Memang kenapa kalau Mardani Ali Sera melambai? Apakah ia tidak boleh punya ekspresi feminin? Apakah sebagai laki-laki ia melulu harus gagah dan macho? Saat kita membela hak seseorang untuk ngondek, kita tak sedang mempromosikan LGBT, tapi hak dasar manusia yang memilih ekspresi gender secara partikular.

Mungkin para pendukung Jokowi lupa bahwa lelaki, seperti juga perempuan, berhak memilih ekspresi gender yang membuatnya nyaman. Jika seorang lelaki lebih suka pakai bedak daripada mendaki gunung, ya, itu haknya. Atau seorang lelaki lebih suka memasak daripada angkat barbel, itu juga haknya.

Memang kenapa kalau Mardani Ali Sera gemes-gemes bences? Apakah maskulin adalah satu-satunya ekspresi gender yang wajib dimiliki laki-laki? Apakah laki-laki tidak boleh sensitif, mudah menangis, perasa, dan penuh kasih sayang? Apakah lelaki melulu harus tampak gagah, beringas, dan gahar? Lebih dari itu, apakah seorang lelaki mesti menjadi maskulin?

Usaha mendiskreditkan sosok Mardani Ali Sera dengan tuduhan atau kecurigaan bahwa dia feminin adalah tindakan yang buruk. Stigma hanya akan merusak, dan politik yang berintegritas semestinya tak masuk dalam ranah personal seperti orientasi seksual atau ekspresi gender seseorang.

Apa urusan kita dengan orientasi seks atau ekspresi gender orang lain?

Dalam surat yang ditujukan kepada James Baldwin, Hannah Arendt menulis bahwa cinta adalah orang asing dalam politik; dan ketika ia mengganggu kepentingan seseorang, tidak ada yang dapat dilakukan untuk mencapai kepentingan tadi kecuali dengan kemunafikan.

Surat itu ditulis Hannah pada 21 November 1962, tiga tahun sebelum peristiwa berdarah 1965 di Indonesia. Kita tahu, pada akhir September 1965, pembunuhan beberapa Jendral di Indonesia berakhir menjadi dalih untuk melakukan persekusi. Orang-orang yang dicap kiri diburu, disiksa, dan dibantai.

Saat itu, hanya dengan prasangka, tuduhan menjadi kader komunis, seseorang bisa dipenjara, haknya dikebiri, dan disembelih. Bertahun-tahun kemudian, prasangka, tuduhan, dan stigma, masih digunakan untuk melenyapkan yang liyan, yang berbeda.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.