Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Joker, Penjahat yang Lemah Iman

Belajar dari Ketangguhan Jepang Melawan Bencana

Bencana di Jepang akibat terjangan topan Hagibis pada 15 Oktober lalu mampu meluluhlantakan bangunan infrastruktur pemukiman, industri, dan jalan-jalan di 7 wilayah. Diperkirakan 72...

Perkasa Tidak Perlu Perkosa: Tanggapan Untuk Ulama yang Suka Memaksa

“Kalau hasrat sudah mau, ya mesti.” – Tengku Zulkarnain, seorang laki-laki, dalam debat tentang Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) di kanal iNews...

Politik Dukungan Milenial. Milenial yang Mana?

Menjelang Pilpres 2019 ini, baik Kubu Joko Widodo maupun Prabowo Subianto sama-sama giat mengadakan acara dengan jargon milenial. Itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka...

Kalau Mardani Ali Sera Melambai, Memangnya Kenapa?

Kemarin, saya melihat beberapa akun di media sosial yang menyebarkan video Mardani Ali Sera yang sedang bicara. Deskripsi video itu menyiratkan sebuah gejala yang...
Avatar
Dicky Edwin Hindarto
Penggila film; pencinta kuliner yang juga Head of Indonesia Joint Crediting Mechanism Secretariat.

Suatu hal yang disengaja atau bukan, atau mungkin tanpa kesengajaan sama sekali, film Joker diputar bersamaan dengan naiknya tensi politik dan banyaknya demo di Indonesia.

Dan sebagai orang yang lemah iman yang tak tahan godaan, saya akhirnya ikutan menonton Joker, sendiri. Iya beneran sendiri, karena partner utama saya menonton, anak saya sendiri, sedang jauh nun di New York, sementara istri saya lebih seneng nonton film di rumah via HBO atau Netflix. Banyaknya iklan, berita di linimasa, sampai resensi di media elektronik yang akhirnya menjadikan saya pertama kali beli tiket online dan menonton di deret paling belakang di sebuah studio di kawasan Cibubur.

Bagaimana filmnya sendiri?

Bagi saya yang memang penggemar super villain, bahkan saya punya 3 kaos bergambar Joker, film ini cukup unik dari pendekatan ide. Joker yang digambarkan sebagai pemuda telat kawin, di bawah garis kemiskinan BPS, dan masih tinggal dengan ibunya, mau enggak mau mengingatkan saya ke beberapa tetangga saya di kampung dulu. Menyedihkan dan ngenes.

Terlebih lagi Joker yang nama kampungnya Arthur Fleck ini juga jomblo dan demen halu kelas berat. Jadi, kombinasi ngenes berat.

Yang kemudian menurut saya terlalu didramatisasi adalah proses Joker jadi penjahat super sadis dan akhirnya jadi musuh masyarakat, juga musuh Batman.

Joker, menurut cerita di filmnya, memang di-bully, dihajar, dipukuli, dan dihina. Itulah yang akhirnya menjadikan dia sadis. Tapi, kalau cuma segitu akhirnya menjadikan Arthur Fleck berubah menjadi Joker, sungguh suatu pendekatan yang dangkal.

Bayangkan, dulu di Indonesia, rakyat kita, nenek dan kakek juga ayah dan paman kita, di-bully, dihina, disiksa, dipukuli, bahkan dipenjara bertahun-tahun, tapi tidak ada seorang pun yang akhirnya jadi penjahat sadis senang tertawa seperti Joker.

Hampir semua pahlawan kita kenyang di-bully, disiksa, dan dipenjara. Tak kurang dari Soekarno, Tan Malaka, Agus Salim, dan banyak lagi. Tapi, mereka malah jadi pahlawan, jadi pejuang!

Sebenarnya tak adanya imanlah yang akhirnya menjadikan film yang saya tonton tadi berlarut sampai 2 jam. Coba bayangkan kalau akhirnya Arthur Fleck bertemu kyai, pendeta, romo pastur, pedanda, atau brahmana bahkan orang bijak, pasti si Arthur ini akan diajari tentang kebaikan, ikhlas, dan bagaimana mengenal cahaya.

Arthur bahkan akhirnya akan menikah dengan tetangga satu lantainya dan membentuk keluarga sakinah ma waddah wa rahmah. The End. Tapi, ini bukan ending yang disukai sutradara Hollywood, tak ada yang akhirnya super villain jadi keluarga samawa. Sebaliknya justru dia jadi Joker!

Balik ke awal cerita, saya sebenarnya lebih mengkhawatirkan timing pemutaran film ini di tengah maraknya demo.

Seperti juga Arthur, anak-anak muda kita, para mahasiswa, anak STM, dan pelajar, mengalami pemukulan, penendangan, dilempar gas air mata, dan lain-lain. Apalagi, berdasar pengalaman saya, biasanya yang paling depan dan hobi berantem sama polisi ini adalah para jomblo, persis sama dengan Arthur Fleck.

Semoga para anak muda kita itu jauh lebih kuat iman dari si Arthur, sehingga kita tidak akan direpotkan dengan lahirnya Joker-Joker muda, justru dari kalangan pandai dan terdidik.

Semoga juga pengalaman berantem, demo, dan dihajar di jalanan akan menjadikan mereka kuat dan tegar seperti para pahlawan kita dulu. Karena, kalau mereka akhirnya meniru Joker, saya tak bisa membayangkan nasib mereka nanti.

Berdasar dari film lain yang saya tonton, durhaka ke orang tua saja nanti kalau mati perutnya penuh belatung, dan kuburan tak mau menerima, apalagi niru-niru jadi Joker.

Hiiiiii, taakkuuttt…..

Cibubur, 6 Oktober 2019

Saya, Stand up comedian nanggung, badut gagal

Baca juga

Jokerisme

Joker dan Kita: Antara Tragedi dan Komedi

Realitas Joker dan Situasi Jalanan Kita

Joker Adalah Sengkuni Ala Eropa

Joker Politik

Avatar
Dicky Edwin Hindarto
Penggila film; pencinta kuliner yang juga Head of Indonesia Joint Crediting Mechanism Secretariat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.