Senin, Maret 1, 2021

Jangan Jual Nama Relawan dan Influencer Medsos ke Jokowi, Kami Bukan Komoditi

Yeo Bee Yin, Syed Saddiq, dan Rongsokan Politik Kita

Malaysia sedang mabuk kepayang dengan demokrasinya. Kemenangan Pakatan Harapan menaikkan politisi umur 92 tahun, Mahathir Muhammad, menjadi perdana menteri. Dia menjadi politisi tertua di...

Ternyata Singapura Tak Ada Apa-apanya Dibandingkan Indonesia

Senang juga kembali menyambangi negeri mungil ini sepanjang pekan. Banyak yang bisa dikomentari soal negeri ini, terutama bila dibandingkan negeri raksasa yang jadi tempat...

Babiku Sayang, Babiku Malang di Danau Toba

Ada-ada saja ulah manusia untuk sekadar kelihatan bekerja. Tak terlepas apakah dia seorang rakyat biasa ataupun dari kalangan pemimpin. Tindakan populis semata, atau ada...

Politik Dukungan Milenial. Milenial yang Mana?

Menjelang Pilpres 2019 ini, baik Kubu Joko Widodo maupun Prabowo Subianto sama-sama giat mengadakan acara dengan jargon milenial. Itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka...
Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Apa yang hendak saya sampaikan sebenarnya tidak pantas dibicarakan. Ini aib bagi kerelawanan. Tapi saya lihat, fenomena ini terus terjadi. Oknum-oknum penyambung lidah istana ternyata tidak amanah.

Beberapa orang influencer, relawan, die hard Jokowi, baru saja diundang ke istana. Tapi mereka menolak. Aneh? Tidak. Relawan pada dasarnya independen, mereka bisa menolak siapa saja. Termasuk Jokowi.

Beberapa orang influencer bahkan diketahui berkali-kali menolak undangan istana. Bukan karena tak mau menemui Jokowi. Tapi belakangan mereka sadar, ternyata mereka telah dimanfaatkan oleh oknum. Nama mereka dijual.

Sebenarnya sejak awal ada kebiasaan istana mengundang blogger dan influencer medsos ke istana. Tujuannya untuk membantu pemerintah memberikan pemahaman kepada publik, mengenai beberapa hal mendesak.

Bahasa lainnya adalah, para pemegang pengaruh opini itu diminta untuk memadamkan api. Kebakaran politik telah terjadi, baik disengaja atau tidak. Para politikus itu tidak punya kekuatan untuk memadamkannya, itu karena mereka berjarak.

Maka digunakanlah tangan ketiga. Para influencer, relawan tanpa nama, pegiat medsos. Mereka juru pemadam kebakaran. Sayangnya, orang-orang ini tidak terkoneksi langsung ke istana.

Ada beberapa oknum yang berfungsi sebagai penyambung lidah istana. Mereka yang mengagendakan dan menyiapkan segala sesuatunya.

Sebelumnya, katakanlah menjelang Pilpres kedua, para relawan dengan senang hati membantu Jokowi. Mereka menilai Jokowi orang baik. Para influencer ini kerja pro bono. Gratis. Mereka bahkan tidak meminta ongkos bensin.

Beberapa orang terpaksa membatalkan jadwal dengan yang lain. Menunda acara keluarga. Bahkan mereka sampai membolos kerja. Tujuannya satu, untuk membantu Jokowi.

Orang-orang paham, para relawan ya harus rela bekerja tanpa ikatan apa-apa. Tanpa balasan apa-apa. Beda halnya dengan Projo misalnya, yang kemarin ketahuan ngambek. Lalu akhirnya dapat posisi.

Anehnya, trik yang sama digunakan lagi setelah Jokowi menang untuk yang kedua kali. Para influencer diundang oleh penyambung lidah Jokowi ke istana. Pro bono. Dan sedikit maksa.

Tujuannya tentu untuk memadamkan api. Karena pemerintah sedang menggoalkan Omnibus Law. Juga untuk menangkis kesan buruk beberapa menteri tak kompeten Jokowi. Yang terpaksa tak direshuffle karena posisi tawar mereka yang kuat.

Beberapa influencer menyatakan menolak. Trik undangan ke istana sudah bukan zamannya lagi. Apalagi gratis. Mereka punya pekerjaan. Ada keluarga yang harus diurus. Memadamkan kebakaran yang diciptakan oleh pembantu presiden yang tak kompeten bukanlah prioritas.

Sebenaraya bukan karena soal gratisnya. Tapi para penyambung lidah itu memanfaatkan influencer untuk mendapatkan keuntungan.

Ilustrasinya begini, anda tahu berapa uang bensin untuk hal serupa di zaman SBY? Puluhan juta. Lalu kenapa para influencer itu hanya gratisan sejak dulu? Ya tanya pada para penyambung lidah istana. Soalnya habis pertemuan semacam itu mereka biasanya akan plesir ke luar negeri.

Tradisi jahat seperti ini harus disudahi. Tidak boleh lagi menjual nama orang lain demi kepentingan pribadi. Bekerjalah dengan kemampuan kalian sendiri, jangan memanfatkan orang lain.

Pendek kata, kelompok relawan bentukan partai atau pejabat teras akan memiliki posisi tawar untuk hal semacam ini. Padahal mereka tak punya power apa-apa kepada publik. Kelompok relawan seperti ini hanya bisa mengorganisir seremoni. Mengatur pertemuan dan menghabiskan dana besar. Seolah-olah mereka bekerja.

Kalau ada kebakaran politik, mereka akan menjual nama relawan lain yang punya pengaruh, para influencer dan pegiat medsos. Mereka ini dijadikan komoditi.

Jokowi sudah dua kali jadi presiden. Sudah bukan tugas relawan tanpa nama lagi untuk memadamkan kebakaran politik.

Mestinya itu menjadi tugas mereka yang mendapat durian runtuh dari istana. Entah itu Projo yang jadi Wamendes, atau Bravo5 yang jadi Menag. Juga relawan lain yang dapat posisi di KSP dan lembaga Pemerintah lain. Merekalah yang mesti berkeringat.

Tetapi, bukan hanya itu yang membuat kebakaran politik kali ini sulit dipadamkan. Sebab paling utama adalah karena pembantu Jokowi banyak yang tidak becus bekerja. Blunder demi blunder mereka ciptakan seolah-olah hobi saja.

Giliran jadi bulan-bulanan, kami-kami ini pula yang diminta kerja bakti. Ayolah kalian itu yang ada di istana, kerja kerja kerja. Jangan hanya omdo dan pandai jual nama relawan dan influencer saja. Buktikan kalian berguna.

Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.