Senin, Januari 25, 2021

Jangan Jual Nama Relawan dan Influencer Medsos ke Jokowi, Kami Bukan Komoditi

Karena Mendukung Jokowi, Rhenald Kasali Dikambinghitamkan

Bangkrutnya Jiwasraya bak bola salju yang menggelinding dari puncak. Di sepanjang jalannya, ia menerjang apa saja dan menyeret segala sesuatu di sekitarnya. Jiwasraya jelas-jelas dibangkrutkan...

RUU Pertanahan yang Kalah Pamor, tapi Turut Penting untuk Dikritisi

Seperti yang kita ketahui secara bersama, belakangan ini sedang terjadi kekacauan di dalam masyarakat kita atas berbagai peristiwa yang terjadi. Mulai dari peristiwa asrama...

Buku Perlawanan Mahathir

Membaca tulisan di Kompas.com (02/03/2020), berjudul “Politik Kelabu Malaysia dan Kisah Operasi Senyap Jusuf Kalla”, seolah menyingkap tabir asap yang selama ini telah tersembunyi...

GO-JEK, Prabowo Subianto, dan Problem Ekonomi Kita

Prabowo Subianto kena lagi. Begitu kata seorang kawan saya, seorang Jokowers paruh-waktu bersorak gembira. Iya. Sesudah memancing kemarahan orang Boyolali, kali ini dia memancing...
Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Apa yang hendak saya sampaikan sebenarnya tidak pantas dibicarakan. Ini aib bagi kerelawanan. Tapi saya lihat, fenomena ini terus terjadi. Oknum-oknum penyambung lidah istana ternyata tidak amanah.

Beberapa orang influencer, relawan, die hard Jokowi, baru saja diundang ke istana. Tapi mereka menolak. Aneh? Tidak. Relawan pada dasarnya independen, mereka bisa menolak siapa saja. Termasuk Jokowi.

Beberapa orang influencer bahkan diketahui berkali-kali menolak undangan istana. Bukan karena tak mau menemui Jokowi. Tapi belakangan mereka sadar, ternyata mereka telah dimanfaatkan oleh oknum. Nama mereka dijual.

Sebenarnya sejak awal ada kebiasaan istana mengundang blogger dan influencer medsos ke istana. Tujuannya untuk membantu pemerintah memberikan pemahaman kepada publik, mengenai beberapa hal mendesak.

Bahasa lainnya adalah, para pemegang pengaruh opini itu diminta untuk memadamkan api. Kebakaran politik telah terjadi, baik disengaja atau tidak. Para politikus itu tidak punya kekuatan untuk memadamkannya, itu karena mereka berjarak.

Maka digunakanlah tangan ketiga. Para influencer, relawan tanpa nama, pegiat medsos. Mereka juru pemadam kebakaran. Sayangnya, orang-orang ini tidak terkoneksi langsung ke istana.

Ada beberapa oknum yang berfungsi sebagai penyambung lidah istana. Mereka yang mengagendakan dan menyiapkan segala sesuatunya.

Sebelumnya, katakanlah menjelang Pilpres kedua, para relawan dengan senang hati membantu Jokowi. Mereka menilai Jokowi orang baik. Para influencer ini kerja pro bono. Gratis. Mereka bahkan tidak meminta ongkos bensin.

Beberapa orang terpaksa membatalkan jadwal dengan yang lain. Menunda acara keluarga. Bahkan mereka sampai membolos kerja. Tujuannya satu, untuk membantu Jokowi.

Orang-orang paham, para relawan ya harus rela bekerja tanpa ikatan apa-apa. Tanpa balasan apa-apa. Beda halnya dengan Projo misalnya, yang kemarin ketahuan ngambek. Lalu akhirnya dapat posisi.

Anehnya, trik yang sama digunakan lagi setelah Jokowi menang untuk yang kedua kali. Para influencer diundang oleh penyambung lidah Jokowi ke istana. Pro bono. Dan sedikit maksa.

Tujuannya tentu untuk memadamkan api. Karena pemerintah sedang menggoalkan Omnibus Law. Juga untuk menangkis kesan buruk beberapa menteri tak kompeten Jokowi. Yang terpaksa tak direshuffle karena posisi tawar mereka yang kuat.

Beberapa influencer menyatakan menolak. Trik undangan ke istana sudah bukan zamannya lagi. Apalagi gratis. Mereka punya pekerjaan. Ada keluarga yang harus diurus. Memadamkan kebakaran yang diciptakan oleh pembantu presiden yang tak kompeten bukanlah prioritas.

Sebenaraya bukan karena soal gratisnya. Tapi para penyambung lidah itu memanfaatkan influencer untuk mendapatkan keuntungan.

Ilustrasinya begini, anda tahu berapa uang bensin untuk hal serupa di zaman SBY? Puluhan juta. Lalu kenapa para influencer itu hanya gratisan sejak dulu? Ya tanya pada para penyambung lidah istana. Soalnya habis pertemuan semacam itu mereka biasanya akan plesir ke luar negeri.

Tradisi jahat seperti ini harus disudahi. Tidak boleh lagi menjual nama orang lain demi kepentingan pribadi. Bekerjalah dengan kemampuan kalian sendiri, jangan memanfatkan orang lain.

Pendek kata, kelompok relawan bentukan partai atau pejabat teras akan memiliki posisi tawar untuk hal semacam ini. Padahal mereka tak punya power apa-apa kepada publik. Kelompok relawan seperti ini hanya bisa mengorganisir seremoni. Mengatur pertemuan dan menghabiskan dana besar. Seolah-olah mereka bekerja.

Kalau ada kebakaran politik, mereka akan menjual nama relawan lain yang punya pengaruh, para influencer dan pegiat medsos. Mereka ini dijadikan komoditi.

Jokowi sudah dua kali jadi presiden. Sudah bukan tugas relawan tanpa nama lagi untuk memadamkan kebakaran politik.

Mestinya itu menjadi tugas mereka yang mendapat durian runtuh dari istana. Entah itu Projo yang jadi Wamendes, atau Bravo5 yang jadi Menag. Juga relawan lain yang dapat posisi di KSP dan lembaga Pemerintah lain. Merekalah yang mesti berkeringat.

Tetapi, bukan hanya itu yang membuat kebakaran politik kali ini sulit dipadamkan. Sebab paling utama adalah karena pembantu Jokowi banyak yang tidak becus bekerja. Blunder demi blunder mereka ciptakan seolah-olah hobi saja.

Giliran jadi bulan-bulanan, kami-kami ini pula yang diminta kerja bakti. Ayolah kalian itu yang ada di istana, kerja kerja kerja. Jangan hanya omdo dan pandai jual nama relawan dan influencer saja. Buktikan kalian berguna.

Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.