Sabtu, Januari 23, 2021

Jakarta Kota Air, Bersama Mengatasi Bencana

Bea Siswa Berkat Christine Hakim

Christ! Sapa saya pada Christine Hakim sambil tersenyum. Saya panggil bintang film Tjoet Nyak Dhien itu. Kebetulan saya pernah bertemu dengannya di sebuah diskusi film...

Pencegahan Banjir Jakarta dan Janji Kampanye Gubernur Anies Baswedan

Tak lama setelah Gubernur Anies Baswedan dilantik, Jakarta dilanda banjir yang cukup parah. Sebelum terlalu jauh menyalahkan Anies, kita harus ingat bahwa Jakarta memang...

Tekad dari Madura untuk SKK Buya Syafii

Belum lama ini saya menerima tamu asal Sumenep, Madura. Namanya Akhmad Fauzi. Salah seorang peserta Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif (SKK ASM)...

Apakah Kulkas Halal Dibikin Para Buruh yang Hak-haknya Terpenuhi?

Kulkas Halal itu baik. Pada tataran niat, ia hendak bicara bahwa sesuatu yang profan bisa jadi sakral dengan syarat tertentu. Sebuah kulkas dibuat dengan...
Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang

Pergantian tahun menuju 2020 dirayakan dengan cuaca ekstrem di penjuru kota. Curah hujan dengan skala tinggi yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah menimbulkan luapan banjir di mana-mana. Tak terkecuali di ibukota Jakarta yang mengundang pro dan kontra.

Banjir dan kemacetan adalah dua masalah utama yang menghantui ibukota. Semua gubernur yang menjabat selalu dihadapkan pada tantangan bagaimana mengatasi persoalan menahun yang tak kunjung terurai. Sejumlah inisiatif dan terobosan dilakukan untuk menyelesaikan satu per satu.

Seperti kritik Dandhy Dwi Laksono dalam video dokumenter terbarunya Jakarta Kota Air, ibukota yang dulunya bernama Sunda Kalapa memang daerah tangkapan air berupa rawa-rawa. Toponimi ibukota banyak mencirikan hal tersebut, seperti Rawa Buaya, Rawamangun, Rawasari, dan sebagainya.

Bukan hanya di era modern saja banjir jadi masalah, sejak Belanda mendirikan benteng pertama di Pasar Ikan sudah Jakarta sudah banjir. Belanda menyiasati dengan membangun sistem kanal banjir serupa seperti yang dibangun di negeri asalnya nun jauh di Eropa.

Persoalannya, iklim di negeri tropis tidak bisa serta-merta disamakan dengan negeri di belahan bumi dengan empat musim. Proses hidrologis berupa penguapan air berlangsung lebih masif, dan dikembalikan ke bumi dalam bentuk curah hujan dengan volume besar.

Pada sejumlah masyarakat tradisional, konstruksi bangunan didesain untuk mengantisipasi banjir dengan mendirikan rumah panggung. Rumah-rumah modern sebagian besar berupa rumah tapak, yang tentu saja rentan terhadap banjir.

Karena itu mengalirkan air lewat sungai, kanal, hingga drainase jadi sangat penting. Secara teknik, semua saluran air seharusnya dirancang untuk bisa menghadapi debit air maksimal. Dalam kenyataan, tekanan populasi dan urbanisasi membuat sungai-sungai menyempit dan hunian memenuhi bantaran.

Banyak daerah tangkapan air beralih fungsi menjadi daerah perumahan atau properti lainnya. Banjir besar yang melanda Pondok Gede Permai (Bekasi) dan Villa Nusa Indah (Bogor) salah satu fenomenanya. Padahal perumahan ini berupa cekungan dan persis di titik pertemuan sungai Cileungsi dan Cikeas.

Aspek kelembagaan birokrasi dan leadership eksekutif turut menyumbang pada kompleksitas persoalan. Jakarta sebagai ibukota negara terbagi kewenangannya antara pemerintah pusat dengan DKI, ditambah pula fenomena urban sprawl atau melebarnya kawasan megapolitan Jabodetabek.

Perdebatan antara normalisasi ataukah naturalisasi mencerminkan ketegangan birokratik sekaligus nuansa politik. Sejatinya tidak penting betul metode mana yang akan dipilih, yang penting dikerjakan sehingga terwujud hasilnya, tidak berhenti sebatas wacana atau kata-kata belaka.

Pembangunan juga bukan sukses pribadi tokoh A atau B semata. Masterplan penanganan banjir berupa banjir kanal sudah dibuat sejak awal Orde Baru, tetapi baru tuntas pada masa Bang Yos dan Foke. Selalu ada kesinambungan pekerjaan, tapi lagi-lagi yang penting ada pada kemampuan mengeksekusi program.

Dalam hal ini dibutuhkan koordinasi dan sinergi antara berbagai pihak, baik pusat maupun DKI serta kota-kota penyangga. Barangkali ini yang dimaksudkan oleh Jokowi ketika mengatakan bahwa banjir akan lebih mudah diatasi setelah menjadi presiden. Harus ada kerja bersama, tak hanya kata-kata.

Celakanya, yang terjadi masing-masing seperti jalan sendiri-sendiri. Simpang siur informasi soal penyebab banjir menjadi buktinya. Gubernur DKI Anies Baswedan mengklaim semua pompa berfungsi dengan baik, tetapi dari hasil survei yang dilakukan tim Kementerian PUPR mengatakan sebaliknya.

Ironisnya, pernyataan Anies bahkan dibantah oleh bawahannya sendiri Walikota Jakarta Barat, Rustam Effendi. Diakui bahwa pompa air mengalami kerusakan, selain persoalan drainase dan jebolnya tanggul. Anies sendiri menyebut tidak ada tanggul yang jebol, hanya retak-retak saja.

Demikian pula dengan permintaan Anies agar bupati Bogor Ade Yasin mengendalikan “banjir kiriman”. Penelitian LIPI justru menunjukkan bahwa banjir baru-baru ini di Jakarta lebih banyak disebabkan hujan lokal yang ekstrem alih-alih kiriman dari daerah hulu.

Rencana DPRD DKI untuk membentuk Pansus Banjir juga harus didukung, sebagai upaya untuk memperjelas informasi untuk penanganan banjir. Pansus diharapkan dapat memberikan solusi yang tepat dan tidak melebar kepada persoalan politik yang menimbulkan keriuhan di tengah masyarakat.

Yang tidak kalah penting adalah menguatkan solidaritas antar-warga dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Mengingat berbagai prediksi cuaca ekstrem masih akan terus berlanjut beberapa waktu ke depan. Begitu pula dengan kesadaran untuk menjaga lingkungan demi mencegah perubahan iklim.

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.