Kamis, November 26, 2020

Jakarta Kota Air, Bersama Mengatasi Bencana

Menakar Pasca Normalisasi Hubungan Diplomatik UEA-Israel

Kali pertama dalam sejarah konstelasi politik Timur Tengah, salah satu negara kawasan Timur Tengah melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Uni Emirat Arab (UEA)...

Saya Tim Livi Zheng

Dalam beberapa hari terakhir saya ikutan kepo dan sibuk mencari tahu tentang sosok Livi Zheng, seorang sutradara muda yang penuh kontroversi dan, konon, telah...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Fahri Ngamuk, PKS Bangkrut

Tok! Begitu bunyi palu hakim Mahkamah Agung memenangkan gugatan Fahri Hamzah ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS), partai selama ini tempat dia bernaung. Fahri pun senyum...
Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang

Pergantian tahun menuju 2020 dirayakan dengan cuaca ekstrem di penjuru kota. Curah hujan dengan skala tinggi yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah menimbulkan luapan banjir di mana-mana. Tak terkecuali di ibukota Jakarta yang mengundang pro dan kontra.

Banjir dan kemacetan adalah dua masalah utama yang menghantui ibukota. Semua gubernur yang menjabat selalu dihadapkan pada tantangan bagaimana mengatasi persoalan menahun yang tak kunjung terurai. Sejumlah inisiatif dan terobosan dilakukan untuk menyelesaikan satu per satu.

Seperti kritik Dandhy Dwi Laksono dalam video dokumenter terbarunya Jakarta Kota Air, ibukota yang dulunya bernama Sunda Kalapa memang daerah tangkapan air berupa rawa-rawa. Toponimi ibukota banyak mencirikan hal tersebut, seperti Rawa Buaya, Rawamangun, Rawasari, dan sebagainya.

Bukan hanya di era modern saja banjir jadi masalah, sejak Belanda mendirikan benteng pertama di Pasar Ikan sudah Jakarta sudah banjir. Belanda menyiasati dengan membangun sistem kanal banjir serupa seperti yang dibangun di negeri asalnya nun jauh di Eropa.

Persoalannya, iklim di negeri tropis tidak bisa serta-merta disamakan dengan negeri di belahan bumi dengan empat musim. Proses hidrologis berupa penguapan air berlangsung lebih masif, dan dikembalikan ke bumi dalam bentuk curah hujan dengan volume besar.

Pada sejumlah masyarakat tradisional, konstruksi bangunan didesain untuk mengantisipasi banjir dengan mendirikan rumah panggung. Rumah-rumah modern sebagian besar berupa rumah tapak, yang tentu saja rentan terhadap banjir.

Karena itu mengalirkan air lewat sungai, kanal, hingga drainase jadi sangat penting. Secara teknik, semua saluran air seharusnya dirancang untuk bisa menghadapi debit air maksimal. Dalam kenyataan, tekanan populasi dan urbanisasi membuat sungai-sungai menyempit dan hunian memenuhi bantaran.

Banyak daerah tangkapan air beralih fungsi menjadi daerah perumahan atau properti lainnya. Banjir besar yang melanda Pondok Gede Permai (Bekasi) dan Villa Nusa Indah (Bogor) salah satu fenomenanya. Padahal perumahan ini berupa cekungan dan persis di titik pertemuan sungai Cileungsi dan Cikeas.

Aspek kelembagaan birokrasi dan leadership eksekutif turut menyumbang pada kompleksitas persoalan. Jakarta sebagai ibukota negara terbagi kewenangannya antara pemerintah pusat dengan DKI, ditambah pula fenomena urban sprawl atau melebarnya kawasan megapolitan Jabodetabek.

Perdebatan antara normalisasi ataukah naturalisasi mencerminkan ketegangan birokratik sekaligus nuansa politik. Sejatinya tidak penting betul metode mana yang akan dipilih, yang penting dikerjakan sehingga terwujud hasilnya, tidak berhenti sebatas wacana atau kata-kata belaka.

Pembangunan juga bukan sukses pribadi tokoh A atau B semata. Masterplan penanganan banjir berupa banjir kanal sudah dibuat sejak awal Orde Baru, tetapi baru tuntas pada masa Bang Yos dan Foke. Selalu ada kesinambungan pekerjaan, tapi lagi-lagi yang penting ada pada kemampuan mengeksekusi program.

Dalam hal ini dibutuhkan koordinasi dan sinergi antara berbagai pihak, baik pusat maupun DKI serta kota-kota penyangga. Barangkali ini yang dimaksudkan oleh Jokowi ketika mengatakan bahwa banjir akan lebih mudah diatasi setelah menjadi presiden. Harus ada kerja bersama, tak hanya kata-kata.

Celakanya, yang terjadi masing-masing seperti jalan sendiri-sendiri. Simpang siur informasi soal penyebab banjir menjadi buktinya. Gubernur DKI Anies Baswedan mengklaim semua pompa berfungsi dengan baik, tetapi dari hasil survei yang dilakukan tim Kementerian PUPR mengatakan sebaliknya.

Ironisnya, pernyataan Anies bahkan dibantah oleh bawahannya sendiri Walikota Jakarta Barat, Rustam Effendi. Diakui bahwa pompa air mengalami kerusakan, selain persoalan drainase dan jebolnya tanggul. Anies sendiri menyebut tidak ada tanggul yang jebol, hanya retak-retak saja.

Demikian pula dengan permintaan Anies agar bupati Bogor Ade Yasin mengendalikan “banjir kiriman”. Penelitian LIPI justru menunjukkan bahwa banjir baru-baru ini di Jakarta lebih banyak disebabkan hujan lokal yang ekstrem alih-alih kiriman dari daerah hulu.

Rencana DPRD DKI untuk membentuk Pansus Banjir juga harus didukung, sebagai upaya untuk memperjelas informasi untuk penanganan banjir. Pansus diharapkan dapat memberikan solusi yang tepat dan tidak melebar kepada persoalan politik yang menimbulkan keriuhan di tengah masyarakat.

Yang tidak kalah penting adalah menguatkan solidaritas antar-warga dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Mengingat berbagai prediksi cuaca ekstrem masih akan terus berlanjut beberapa waktu ke depan. Begitu pula dengan kesadaran untuk menjaga lingkungan demi mencegah perubahan iklim.

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Diego Maradona Abadi, Karena Karya Seni Tak Pernah Mati

Satu kata dalam bahasa Indonesia yang paling menyebalkan buat saya adalah “andai”. Ia hadir dengan dua konsekuensi: (1) memberikan harapan, sekaligus (2) penegasan bahwa...

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang...

Tips Menjaga Kesehatan Saat Tidak WFH di Saat Pandemi COVID-19

Beberapa kantor di Indonesia sudah menerapkan sistem kerja work from home, di mana karyawan bekerja di rumah tanpa perlu ke kantor. Namun, tidak sedikit...

Dampak Video Asusila yang Beredar bagi Remaja

Peristiwa penyebaran video asusila di media sosial masih seringkali terjadi, pemeran dalam video tersebut tidak hanya orang dewasa saja bahkan dikalangan remaja juga banyak...

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya,...

ARTIKEL TERPOPULER

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Nyesal, Makan Sop Kambing di Rumah Habib

Hadist-hadist yang mengistimewakan habaib atau dzuriyat (keturunan Nabi Muhammad) itu diyakini kebenarannya oleh sebagian umat Islam. Sebagian orang NU percaya tanpa reserve terhadap hadist...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.