Senin, Maret 8, 2021

Islam Berkemunduran?

Orang Wamena Tidak Anti Pendatang

Beberapa hari yang lalu telah terjadi peristiwa yang melukai rasa persatuan dan kesatuan bangsa di Wamena. Seperti biasa, setiap peristiwa selalu saja ada yang ingin...

Pendidikan Kerukunan

Kerukunan umat beragama bukan wacana baru bagi kita. Walaupun dalam pengalamannya, negeri ini sempat mengalami konflik dan kecurigaan antar umat beragama, namun kekuatan jaringan...

Kekeliruan Argumentasi Diplomat Silvany Pasaribu

Disadari atau tidak, berargumentasi menyisipkan banyak kekeliruan, dan itu berbahaya. Dalam ruang publik misalnya, ketika argumentasi kita tercatat dan dimaknai kembali oleh publik, belum...

Kala “Gerungisme” Mendungukan Manusia

"Apa artinya menjadi manusia?" Barangkali ada banyak interpretasi terhadap pertanyaan itu. Orang-orang di seluruh dunia memiliki jawaban dan sudut pandang yang berbeda mengenai pertanyaan...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Tahukah antum kenapa Muhammadiyah disebut organisasi modern kala itu? Sebab banyak pikiran dan gagasan Kyai Dahlan melawan jumud, melawan kebodohan, melawan kekolotan. Karenanya banyak gagasan Kyai Dahlan melawan tabu, melawan tradisi, dan melawan kelaziman.

Kyai Dahlan menterjemahkan al Quran meski sebagian ulama tradisional takut maknanya berubah. Membangun sekolah dengan sistem klasikal, menggunakan kapur dan papan tulis, meski kemudian disebut tasyabuh, karena mirip sekolah paroki. Carl Whyterington menyebut bahwa Kyai Dahlan bukan ulama biasa, tapi sekaligus juga seorang ’pragmatikus’ agama yang gigih dan ulet’.

Kyai Dahlan melakukan pembaharuan pemahaman Islam— Ir Soekarno menulis artikel yang sangat bagus berjudul ‘memudakan pemahaman Islam’ sebab umat Islam saat itu telah lunglai, lusuh dan kalah, karena pemahaman yang kolot, jumud dan tradisional. Bahkan beberapa malah terpapar paham Jabbari— sikap nrimo ing pandum. Dan menjadikan agama tak lebih sebagai media ritual kematian. Fachri Ali menyebut ‘Islam yang masuk ke Indoenesia adalah Islam yang sudah terkalahkan’.

Di mana-mana umat Islam mengalami kekalahan, karena jauh dari al Quran, jauh dari as Sunah. Al Quran hanya di hapal tapi tak paham maksud. Kyai Dahlan memulai dengan surat al Maaun, tidak hanya dibaca atau di hapal, tapi dipahami kemudian di amalkan.

Ini gerakan pembaharuan pertama— cara baru, sistem baru dan strategi baru di luar mapan—para ulama terkesima, banyak yang kaget dan beberapa melawan. Teologi al Maaun adalah teologi pembebasan. Pembebasan dari jumud, eksklusif, kolot, fanatisme dan kebodohan massal.

Kyai Dahlan terinspirasi gagasan Syaikh Abduh dan muridnya Syaikh Rasyid Ridha: al Islam mahjubun bil muslim. Ini kata pendek, tapi cukup menjadi pengingat bahwa gerakan Muhammadiyah adalah pemodernan. Kembali pada al Quran dan as sunah—bukan kembali ke masa lampau dalam pengertian yang leterljick.

Al Islam ya’lu wa la yu’la alaih dipahami positif, sebagai kemuliaan dan ke anggunan ajaran Islam yang mulia. Islam itu melebihi dari peradaban apapun di dunia. Thaha Husein memberi catatan menarik bahawa kekalahan umat Islam lebih di karenakan tiadanya pemahaman umat Islam atas kesadaran kemuliaan Islam, sebab Islam sering dimaknai bukan sebagai ajaran hidup”.

Tapi bagaimana jika fenomena ortodoksi pemikiran Islam dikalangan ulama dan aktifis Persyarikatan adalah seperti pendulum—atau mungkin saja dua arus besar pemikiran sedang bersaing berebut dominan.

Setelah hampir satu abad modern, kini balik kembali ke awal. Risign ke titik nol— saat di mana umat Islam belum mengenal Muhammadiyah? Bukankah kegelisahan ini makin nampak terlihat, dalam relasi-relasi keberagamaan, baik internal atau eksternal yang ditampakkan? Adanya semacam gejala pengerasan dan kejumudan.

Di atas semua itu, saya sangat yakin bahwa Muhammadiyah punya daya imun yang sangat kuat, menetralisir pikiran-pikiran yang singgah sementara, dan merubahnya menjadi sebuah kekuatan baru. Sebab Muhammadiyah bukan Persyarikatan biasa.

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.