Banner Uhamka
Sabtu, September 26, 2020
Banner Uhamka

Islam Berkemunduran?

Ijtima Pengasong Agama

Kalau ada sekumpulan orang yang mengaku ulama, tapi berniat mengalahkan kemasyhuran sinetron Cinta Fitri, mungkin merekalah yang sekarang paling getol menggelar Ijtima Ulama. Sampai...

Editor Buku: Dari Eksistensi Menuju Apresiasi

Safar Banggai menulis tentang ketiadaan standar apresiasi material atas pekerjaan para editor buku, sehingga nasib mereka tak cukup jelas. Saya ingin menambahkan beberapa catatan...

Apa Yang Seharusnya Kita Lakukan Jika Ada Berita Kecelakaan?

Pagi tadi seperti biasanya saya bersiap-siap akan berangkat kuliah setelah menghabiskan libur panjang saya. Tepat pukul 09.52 pagi, handphone saya berdering. Rupanya seorang teman...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Tahukah antum kenapa Muhammadiyah disebut organisasi modern kala itu? Sebab banyak pikiran dan gagasan Kyai Dahlan melawan jumud, melawan kebodohan, melawan kekolotan. Karenanya banyak gagasan Kyai Dahlan melawan tabu, melawan tradisi, dan melawan kelaziman.

Kyai Dahlan menterjemahkan al Quran meski sebagian ulama tradisional takut maknanya berubah. Membangun sekolah dengan sistem klasikal, menggunakan kapur dan papan tulis, meski kemudian disebut tasyabuh, karena mirip sekolah paroki. Carl Whyterington menyebut bahwa Kyai Dahlan bukan ulama biasa, tapi sekaligus juga seorang ’pragmatikus’ agama yang gigih dan ulet’.

Kyai Dahlan melakukan pembaharuan pemahaman Islam— Ir Soekarno menulis artikel yang sangat bagus berjudul ‘memudakan pemahaman Islam’ sebab umat Islam saat itu telah lunglai, lusuh dan kalah, karena pemahaman yang kolot, jumud dan tradisional. Bahkan beberapa malah terpapar paham Jabbari— sikap nrimo ing pandum. Dan menjadikan agama tak lebih sebagai media ritual kematian. Fachri Ali menyebut ‘Islam yang masuk ke Indoenesia adalah Islam yang sudah terkalahkan’.

Di mana-mana umat Islam mengalami kekalahan, karena jauh dari al Quran, jauh dari as Sunah. Al Quran hanya di hapal tapi tak paham maksud. Kyai Dahlan memulai dengan surat al Maaun, tidak hanya dibaca atau di hapal, tapi dipahami kemudian di amalkan.

Ini gerakan pembaharuan pertama— cara baru, sistem baru dan strategi baru di luar mapan—para ulama terkesima, banyak yang kaget dan beberapa melawan. Teologi al Maaun adalah teologi pembebasan. Pembebasan dari jumud, eksklusif, kolot, fanatisme dan kebodohan massal.

Kyai Dahlan terinspirasi gagasan Syaikh Abduh dan muridnya Syaikh Rasyid Ridha: al Islam mahjubun bil muslim. Ini kata pendek, tapi cukup menjadi pengingat bahwa gerakan Muhammadiyah adalah pemodernan. Kembali pada al Quran dan as sunah—bukan kembali ke masa lampau dalam pengertian yang leterljick.

Al Islam ya’lu wa la yu’la alaih dipahami positif, sebagai kemuliaan dan ke anggunan ajaran Islam yang mulia. Islam itu melebihi dari peradaban apapun di dunia. Thaha Husein memberi catatan menarik bahawa kekalahan umat Islam lebih di karenakan tiadanya pemahaman umat Islam atas kesadaran kemuliaan Islam, sebab Islam sering dimaknai bukan sebagai ajaran hidup”.

Tapi bagaimana jika fenomena ortodoksi pemikiran Islam dikalangan ulama dan aktifis Persyarikatan adalah seperti pendulum—atau mungkin saja dua arus besar pemikiran sedang bersaing berebut dominan.

Setelah hampir satu abad modern, kini balik kembali ke awal. Risign ke titik nol— saat di mana umat Islam belum mengenal Muhammadiyah? Bukankah kegelisahan ini makin nampak terlihat, dalam relasi-relasi keberagamaan, baik internal atau eksternal yang ditampakkan? Adanya semacam gejala pengerasan dan kejumudan.

Di atas semua itu, saya sangat yakin bahwa Muhammadiyah punya daya imun yang sangat kuat, menetralisir pikiran-pikiran yang singgah sementara, dan merubahnya menjadi sebuah kekuatan baru. Sebab Muhammadiyah bukan Persyarikatan biasa.

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Disleksia Informasi di Tengah Pandemi

Perkembangan teknologi yang sudah tak terbendung bukan hal yang tabu bagi semua orang saat ini. Penerimaan informasi dari segala sumber mudah didapatkan melalui berbagai...

Opsi Menunda atau Melanjutkan Pilkada

Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 akan bergulir. Pilkada yang sejak era reformasi pasca amandemen UUD 1945 telah memberi ruang...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.