OUR NETWORK

Denny Siregar: Ini Kampus-Kampus Markas Besar Kelompok Radikal

Ini bahaya atau kekhawatiran?

Hasil penelitian Setara Institute terhadap kampus-kampus yang terpapar radikalisme sudah keluar. Menurut Setara, ada 10 kampus yang sudah terpapar radikalisme; mulai dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Bandung (ITB), sampai Institut Pertanian Bogor (IPB). Paparan radikalisme ini bukan hanya pada mahasiswanya, tetapi juga sudah mengarah pada para pejabat kampusnya.

Bahkan Setara Institute menyebutkan bahwa Masjid Al-Hurriyyah di IPB itu sebagai tempat kaderisasi kelompok radikal.

Menurut hasil penyelidikan, masuknya kelompok radikal ke Indonesia ini diawali oleh pergerakan Ikhwanul Muslimin. Mereka bergerak secara halus dan cermat pada masa Orde Baru. Sasaran mereka adalah dunia pendidikan. Kampus menjadi sasaran karena di sanalah mereka bisa menguasai beasiswa bagi program kaderisasinya.

Beberapa tahun kemudian, sesudah Ikhwanul Muslimin, masuklah Salafi Wahabi dan Hizbut Thahrir ke kampus-kampus. Mereka membentuk ikatan eksklusif dan secara masif menyebarkan ideologinya.

Khusus untuk IPB, gerakan masuk kampus dimulai ketika Soeharto mencanangkan Indonesia sebagai negara agraris, dan IPB sebagai kampus pertanian tentu harus menjadi pelopor. Di sana mereka berkembang biak, sehingga akhirnya mampu membangun departemen ekonomi syariah.

Melalui IPB mereka melakukan kaderisasi di masjid. Mereka juga mencari siswa-siswa pintar di SMA untuk kemudian diberikan beasiswa.

Cara penyebaran ideologi mereka menarik, karena bukan hanya pada tataran diskusi saja. Semua fasilitas disediakan; mulai kos, uang bulanan sampai dikenalkan dengan wanita yang menjadi anggota untuk dikawinkan.

IPB menjadi kampus yang sangat eksklusif. Bahkan kelompok radikal itu sempat mengharuskan IPB menjadi kampus berjilbab. Mereka juga membubarkan pertunjukan musik karena sudah dianggap maksiat. Acara kebudayaan dan seni dihilangkan.

Dan ketika kaderisasi sudah berjalan, kader-kader mereka dikerahkan keluar dalam program lapangan, dengan tujuan membangun jaringan baru sekaligus menyebarkan ideologi khilafah.

Dari sana mereka berkembang biak lagi dan masuk ke BUMN, ASN bahkan TNI dan Polri. Gerakan selama 40 tahun dengan sistematis ini benar-benar dijaga dengan senyap. Mereka yang dikader ini sekarang sudah menduduki jabatan penting selevel dirjen di perusahaan pemerintah, yang kemudian kembali melakukan kaderisasi ke jajaran di bawahnya.

Mereka benar-benar terlatih untuk membangun sebuah gerakan yang akan mereka hantamkan kelak puluhan tahun kemudian.

Hasil penelitian Setara Institute ini tentu dibantah oleh alumnus IPB sendiri yang sekarang sudah banyak menjadi tokoh. Siapa, sih, yang mau dibilang radikal? Sama dengan siapa, sih, maling yang mau dibilang maling?

Sekian lama kelompok radikal itu bercokol di dalam dan menguasai banyak elemen penting universitas, bagaimana cara mengatasinya?

Sejak 2017, ketika menjabat rektor, Arif Satria langsung menggelar program pembauran. Ia membuka masjid di IPB untuk semua pemahaman Islam, termasuk NU dan Muhammadiyah. Jadi, masjid tidak lagi didominasi oleh kelompok tertentu saja.

Arif Satria berjuang keras agar IPB tidak lagi distigma radikal. Ia mengembangkan program multikultural di dalam kampus, juga kebangsaan. Ia merangkul dosen dan mahasiswa yang terpapar dan mulai diajak mengembangkan nilai-nilai kebangsaan.

Perjalanan memerangi radikalisme di Indonesia ini bagai jalan panjang tak berujung, karena sejak lama dibiarkan. Tetapi, setidaknya langkah-langkah kecil sudah dimulai. Kita berharap kelak hasilnya akan sesuai harapan kita.

Seruput dulu kopinya…

Denny Siregar
Penulis dan blogger.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…