Selasa, Januari 19, 2021

Indonesia Tanpa Feminis: Tubuh Hak vs Kekerasan Moral

Megawati Sang Matriarch

Terus terang, ada seorang politisi yang tidak pernah saya perhatikan serius. Dia adalah Megawati Sukarnoputri. Saya akui, saya tidak pernah melihatnya sebagai politisi yang...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

/1/

“Ini aurat gue bukan urusan lo.” Aku mendapatkan kalimat ini dari sebuah foto captured perdebatan di status Facebook. Siapa pun penulisnya tidaklah begitu penting, mengingat kalimat itu sudah mulai menjadi bahasa keseharian dari satu pergeseran besar dalam paradigma kita mempersepsi tubuh. Dari kritik terhadap bahasa slogan itu, kita bisa segera mendapatkan satu kesimpulan yang sangat menarik jika kita memformulasikannya dalam bentuk pertanyaan: siapakah pemilik tubuh manusia?

Ada perubahan maha akbar dalam persepsi manusia memandang tubuhnya: dari tubuh yang penuh dengan kewajiban-kewajiban beralih ke tubuh yang memiliki hak-hak. Ini sungguh perubahan sangat-sangat akbar dalam sejarah peradaban manusia. Karena satu hal: tubuh adalah basis material utama hampir semua berjalannya institusi yang ada di bumi bahkan di akhirat, sejauh manusia terlibat.

Efek perubahan itu sungguh sangat menakjubkan, dari perihal besar sampai yang sangat sepele: pembenaran versus pelarangan tubuh dikorban-bunuhkan demi agama, suku, negara, atau berbagai institusi lainnya, pembenaran versus pelarangan perbudakan manusia, pelarangan versus perbolehan kerja seks komersial, atau berbagai ibadah ragawi dalam agama termasuk penutupan tubuh, perbolehan dan pelarangan kekerasan ragawi di rumah atau lembaga pendidikan, hubungan anak dengan orangtua, pola-pola asmara kaum muda, sampai hal-hal kecil seperti tertawa, tersenyum, atau menangis.

/2/

Jika kamu perhatikan karya sastra besar klasik seperti Mahabarata, Ramayana, Syahnameh, Serat Centhini, atau kitab-kitab suci agama Ibrahimi, bahkan karya sastra modern yang penulisnya tidak sadar perbedaan bahasa kewajiban dan bahasa hak, dengan gampang kita menemukan dominasi bahasa-bahasa kewajiban yang ditujukan kepada tubuh manusia. Dan tiap kewajiban yang dilaksanakan tubuh akan diklaim sebagai kebaikan dan kebahagiaan si tubuh, masyarakat, dan seluruh jagat, bahkan di akhirat kelak entah.

Sejak zaman sangat dahulu kala sampai era termutakhir, tiap jam dan detik tubuh manusia diajari, dididik, dilatih, didoktrin, dipropaganda, dibujuk agar selalu mengingat bahwa tubuhnya adalah tubuh kewajiban. Tiap tubuh manusia adalah tubuh kewajiban demi kewajiban yang diabdikan demi sesuatu yang di luar pemilik tubuh itu sendiri: agama, negara, suku, ekonomi, keluarga, dan seterusnya.

Tubuh kewajiban adalah tubuh yang diabdikan, yang dikehendaki, yang dikuasai, yang terperintah, yang dikendalikan oleh kekuasaan di luar dirinya. Hampir dalam setiap tindakannya, tubuh seakan mendapatkan satu kode perintah umum: aku wajib mematuhi tiap kewajiban.

Saat semakhluk bayi manusia lahir, sejak saat itu tubuh kewajiban dilaksanakan padanya: mengenakan pakaian dan berbagai ritual yang bersifat inisiasi pada kewajiban. Saat kesadarannya tumbuh, tubuh manusia akan diajari, dididik, dilatih untuk melakukan segala hal yang boleh, yang terlarang, dan yang wajib dilakukannya. Tubuh yang melanggar aturan-aturan larang dan kewajiban akan dihukum secara sosial, religi, kenegaraaan, baik dalam bentuk sanksi verbal atau ragawi.

Inilah alasan pembenaran kekerasan ragawi atau simbolik terhadap tubuh dalam agama, negara, keluarga, dan seterusnya. Agar ia menjadi tubuh kewajiban yang baik, patuh, taat, dan berbahagia di dunia dan akhirat. Hampir semua kekerasan terhadap tubuh, termasuk dalam kasus tubuh pahlawan negara atau agama, berbasis pada tubuh kewajiban.

/3/

Lalu, setelah berbagai peristiwa bersimbah gelimang nyawa meregang yang terus menimpa tubuh selama sekian milenium, pada suatu masa yang merambat perlahan di muka bumi, lahirlah tubuh-tubuh yang mengklaim memiliki hak-hak kemanusiaan. Ini adalah peristiwa akbar yang, dalam sejarah peradaban manusia sekitar satu milenium, dihegemoni tubuh kewajiban meski benih-benih tubuh hak sudah lama sekali tertanam tapi baru menjadi terkemuka dalam zaman modern.

Puncak kelahiran tubuh hak terjadi pada 10 Desember 1948, saat Persatuan Bangsa-Bangsa (United Nations) mendeklarasikan Universal Declaration of Human Rights secara internasional dan tanpa berkonsultasi sekata pun kepada agama-agama yang menghegemoni-memonopoli klaim kewajiban. Tak satu pun para penggagasnya yang berkonsultasi pada agama apa pun di muka bumi, atau kepada negara apa pun, atau lembaga sosial-politik apa pun.

Dengan deklarasi itu, lahirlah sang manusia-hak (rightful-creature) dan tubuhnya menjadi tubuh-tubuh dengan kuasa hak-hak. Perlahan dan semakin hegemonik, berbagai dokumen hukum yang sebelumnya berbasis kewajiban dipaksa berbasis pada tubuh-pemilik-hak asasi yang tidak bisa dicabut oleh siapa pun termasuk negara (bahkan Tuhan!). Tubuh yang dalam ‘hukum’ berbasis tubuh-kewajiban hanya pasif saja bahkan sangat bisa disakiti-dikorbankan, sekarang punya kuasa aktif bahkan membela dirinya. Dengan pola ini, Ismail yang dikorban Ibrahim dipertanyakan dengan sangat keras haknya atas tubuh Ismail.

Sekarang, sang manusia-hak sudah sangat (seakan wajar-wajar) mendefinisikan diri, menggerakkan perilaku, dan memandang apa pun termasuk pada Tuhan berdasarkan satu awalan: aku memiliki hak, bukan aku punya kewajiban. Perhatikannya bagaimana sesekali Anda barangkali mendengar orang mengatakan bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri, bukan milik orangtuanya, bukan milik negara, bahkan mulai berani mengatakan bukan milik Tuhan.

Perhatikan kalimat ini: “Ini aurat [tubuh milik] gue bukan urusan lo”—bayangkan kalimat ini diucapkan kepada orangtua, agamawan, guru, atau teman. Dalam kasus ekstrem, kita bisa mengingat perdebatan sengit tentang eutanasia atau bunuh diri. Jika tubuh adalah tubuh-hak, maka siapa pun sewajarnya boleh melakukan eutanasia atau bunuh diri kalau menghendaki. Begitu juga kasus seks komersial di zaman modern. Bahkan, kasus yang sungguh sangat-sangat ekstrem dari tubuh-hak adalah bahwa Tuhan sekali pun tidak boleh alias terlarang menghukum raga manusia di akhirat jika tubuh itu tidak bersalah berdasarkan hukum-berbasis-hak.

Nah, di situlah perdebatan sengit atau perbedaan tajam antara kaum pembela HAM versus kaum pengiman agama-agama (Ibrahimi), seperti yang beberapa waktu lalu muncul dan viral #UninstallFeminism dan #IndonesiaTanpaFeminis (The Jakarta Post, April 1, 2019). Judul berita sungguh langsung tepat: ‘My body is not mine’: Indonesia Without Feminists group starts online campaign. Kampanye ini sayangnya terjadi di Indonesia, bukan di negara otoriter-religius. Para penguasanya, yang selalu sangat berhasrat pada kewajiban tanpa adanya tuntutan hak-hak, sudah pasti akan sangat girang!

Yang sangat perlu dicatat adalah bahwa pelanggar terbesar terhadap tubuh-hak adalah negara (yang berhierarki berdasarkan daya kuasanya atas negara lain): sang monster dingin dengan kuasa absolut. Bahkan agama, yang dahulu menjadi sang penguasa absolut atas tubuh-kewajiban, sekarang dipaksa tunduk di bawah kuasa negara modern terutama saat hendak menghukum atau menghancurkan tubuh manusia.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.