OUR NETWORK

Iman Brotoseno yang Seniman

Iman Brotoseno punya keberanian yang luar bisa untuk mengantarkan diskursus seksualitas kepada publik. Menggunakan bahasa yang lebih egaliter.
Pengunjung mengamati lukisan kumpulan mantan Presiden Soekarno hingga Presiden Joko Widodo karya seniman Pekalongan ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/ama/17

Kreativitas dan kebebasan adalah dua hal yang kerap jalan seiring. Jauh sebelum Indonesia menjadi sebuah republik dan diakui menjadi bangsa yang merdeka. Kosmopolitanisme sudah lahir sebelum terkonsolidasinya ideologi nasional, Pancasila. Baik sastra, kuliner, cara berpakaian, bahkan cara pandang saling mempengaruhi satu sama lain. Di kota-kota besar Indonesia, jejak-jejak kosmopolitan bukan saja ditinggalkan dari narasi sejarah atau heritage bangunan. Tetapi, ada yang lebih otentik; pergaulan.

Dengan pergaulan ilmu pengetahuan tidak saja berdiam diri dalam sekat kelas yang membosankan. Oleh karenanya hukum-hukum deterministik sebuah ilmu, mejadi begitu cair ketika bercengkrama dengan seni. Tidak saja dalam konteks akademik, pergaulan juga menjadi satu-satunya media terjadinya transaksi ide-ide kreatif untuk menjawab tantangan zaman.

Rasanya, orang-orang pada masa yang lampau begitu menghargai makna dari kosmopolitanisme. Malahan, para pendiri bangsa kita adalah orang-orang yang masa mudanya tumbuh dengan pergaulan internasional tanpa meninggalkan jati diri kebangsaanya. Didalam masyarakat yang kosmolitan, tentu selalu ada polemik dalam cara pandang. Misal saja, sebuah karya sastra dipandang terlalu maskulin karena aktor-aktor utamanya mendominasi nilai feminisme. Atau, sebuah novel yang dianggap menggairahkan karena berhasil mewujudkan sensasi erotisme dalam imaji pembaca.

Bukan saja dalam dimensi teks, acap kali kekuatan visual justru melahirkan banyak persepsi yang imajinatif. Tidak jarang sebuah karya seni mendapat tuduhan ‘vulgar’ dari sekelompok orang. Ketika, sebuah karya seni habis-habisan dituduh dengan kacamata sempit. Detik itu juga, ekosistem berkesenian menghadapi problem yang utama. Yang mungkin luput dari pemahaman para penuduh karya seni yakni; mereka kerap menggunakan standar ego yang yang tinggi ketimbang standar emansipatoris.

Yang Seniman

Setelah Iman Brotoseno dilantik menjadi Dirut TVRI. Tanpa menunggu senja, dirinya diadili secara masal oleh orang-orang yang penuh kebencian. Begitu mendidihnya rasa benci dan dendam yang terpendam, hingga mengorek cuit lama Iman. Dengan cuitan itu, mereka berdoa dalam waktu yang sesingkat-singkatnya Iman Brotoseno minggir dari sumpah jabatannya.

Mungkin saya berpendapat; bahwa cuitan Iman Brotoseno pada waktu yang lampau adalah sebuah sebuah potret masyarakat yang terselubung. Dengan gaya bahasanya, cuitan Iman justru diartikan sebagai vulgarisme atau bahkan melawan norma yang ada.

Ada konteks (tidak melulu) di mana aktivitas seksual memiliki kedudukan yang setara dengan ritus beribadah. Keduanya, ada pada wilayah privat. Meskipun keduanya termanifest pada ruang yang privat, namun bukan berarti anatomi dari kedua diskursus itu tidak bisa diperbincangan didalam ruang publik. Ritus beribadah dan aktivitas seksual ketika diperlakukan sebagai sebuah pengetahuan maka sejatinya itu hal yang lazim diperbincangkan di ruang publik.

Baik ritus beribadah sebuah agama atau keyakinan tertentu, berhak mendapati ruang dalam pembicaraan publik. Katakanlah, sebuah agama minoritas tertentu menjelaskan tahapan ritus beribadah. Hingga kiat dan manfaat dari prosesi ritus beribadah. Bahkan perlu kita ingat, bahwa orang yang menyampaikan prihal informatif tersebut tidaklah harus orang yang memeluk agama atau keyakinan serupa. Karena informasi itu harus diperlakukan sebagaimana sebuah pengetahuan, bukan ajaran yang harus diamalkan.

Hanya banyak menggunakan kotak argumen ‘tabu’ untuk memotong pembicaran publik terkait hal ikhwal seksualitas. Orang lupa, bahwa definisi tabu adalah tabir kenaifan publik yang diam. Kendati, sejatinya dalam ruang privat dan tersembunyi mereka mereka menerima tanpa sanggahan bahkan sebagai pelaku. Kebisuan mayoritas itulah yang dijadikan poin utama untuk menggalang kebencian kepada individu ataupun kelompok yang bersuara ataupun membicarakan seksualitas dalam ruang publik.

Sebenarnya, sama halnya dalam konteks cuitan Iman Brotoseno pada waktu lampau yang kembali diedarkan oleh sekelompok orang. Tidak ada yang jahat atau pun melanggar hukum dalam cuitan Iman Brotoseno. Dia seorang seniman yang punya basis konsentrasi pada sinematografi. Sangat lumrah jikalau, dirinya begitu akrab dengan tubuh dan anatomi.

Diskursus seksualitas yang pernah dicuitkan Iman Brotoseno tidak ada bedanya dengan sesuatu hal ritus beribadah. Keberanian Iman Brotoseno dalam rangka menabrak tembok-tembok ‘tabu’ itu, yang kini diadili secara sepihak oleh segelintir orang dengan olok-olok kebencian, bahkan kemarahan yang membabi buta.

Bukan Agamawan

Ketika karangan Sutan Takdir Alisjahbana dalam “Anak Perawan di Sarang Penyamun” pernah dituduh cabul. Apakah Sutan Takdir, berhenti menulis? Ketika banyak lukisan Basuki Abdulah, disudutkan dalam perspektif sempit pornografi. Apakah Basuki Abdullah berhenti melukis? Ketika banyak kelompok yang mempersoalkan patung “Si Denok” di Istana Negara Bogor. Apakah presiden-presiden setelah Soekarno, harus memusnahkan patung itu? Ketika novel-novel Ayu Utami yang sarat dengan feminisme, justru dituduh mengeksploitasi tubuh wanita. Lantas apakah Ayu Utami harus berhenti menulis?

Mereka adalah seniman. Insan manusia yang mengamalkan sepanjang hidupnya aktulisasi kreatifitas dan manifestasi imajinasi yang bisa disampaikan atau bahkan dinikmati oleh masyarakat lainnya. Mereka orang-orang yang merdeka dalam mencerap makna kehidupan atas dasar kemampuan berkesenian yang mereka miliki. Banyak orang keliru dalam menabsir karya-karya mereka. Tentu lebih fatal lagi, karena karya-karya itu ditumbukan dengan cara pandang fundamentalisme agama yang sangat sempit dan keras.

Tidak ada bedanya dengan seorang Iman Brotoseno yang seniman. Cuitan Iman adalah sebuah aktulisasi verbal yang terbuka, dalam konteks diskursus seksualitas. Tidak ada yang janggal dalam hal itu. Dengan derajat berkeseniannya, Iman Brotoseno punya keberanian yang luar bisa untuk mengantarkan diskursus seksualitas kepada publik. Menggunakan bahasa yang lebih egaliter.

Dirinya hanya ingin lebih jujur dan terbuka kepada publik, bahwa ternyata konteks seksualitas adalah salah satu prihal yang bisa diterima oleh hampir semua kalangan. Terlepas apakah afiliasi politik, suku, agama, maupun strata pendidikan & sosial.

Tanpa menutup mata, kasus-kasus yang berkaitan dengan seksulitas atau pornografi juga pernah menimpa tokoh-tokoh partai politik yang mengusung nilai agama tertentu. Setidaknya, mereka (para pembenci) boleh berterimakasih kepada Iman Brotoseno karena dirinya sejak awal tidak berdalih dengan nilai agama. Berterima kasih untuk apa? Ya jelas sekali Iman Brotoseno telah mewakilkan suara terkecil mereka dalam diskursus seksualitas.

Maka berhentilah, melakukan peradilan atas pandangan yang tidak imbang. Begitu tidak relevan jika diskursus yang disajikan Iman harus dibanding dengan pandangan keagaamaan. Karena nilai yang tersaji bertolak belakang dengan apa yang dibandingkan. Karena apa? Karena Iman Brotoseno bukan agamawan. Dia seorang seniman. Semoga pikiran kita tetap terbuka.

Abi Rekso Panggalih
Sekjen DPN Pergerakan-Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.