Kamis, Januari 28, 2021

Ijtima Pengasong Agama

Dari Sandi Santri Ke Sandi Ulama: PKS “Berak dalam Periuk”

Bulan Agustus 2018, saat Deklarasi BOSAN (Prabowo Subiharto dan Sandiwara Uno), Sokibul Iman, petinggi PKS (Partai Keadilan Sepihak) mengklaim Sandi sebagai santri. Sebulan kemudian,...

Inilah Agama yang Saya Kagumi

Meski tak sepi dari doktrin eksklusif dan mengalami deviasi serta friksi akibat intervensi politik kotor sebagaimana agama-agama pada umumnya, teologinya bukan gertak teks klerik...

Mengapa Gaji Editor Buku Di Indonesia Menyedihkan?

Menjadi editor tak pernah terpikirkan dalam hidup saya di Banggai Laut, Sulawesi Tengah, mendapat lembar-lembar uang (bukan puing emas) dari kerja mengedit naskah.  Saat kecil,...

Mengapa Harga Buku Mahal?

Banyak yang bertanya-tanya, kenapa harga buku "mahal"? Ya, kalau dibandingkan dengan bajakan, memang jauh. Karena saya sendiri bukan orang bisnis, belakangan saya tanya-tanya kepada beberapa...
Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial

Kalau ada sekumpulan orang yang mengaku ulama, tapi berniat mengalahkan kemasyhuran sinetron Cinta Fitri, mungkin merekalah yang sekarang paling getol menggelar Ijtima Ulama. Sampai saat ini episode Ijtima Ulama memasuki babak keempat.
Tiga Ijtima Ulama yang digelar rasanya tidak ada pengaruhnya apa-apa. Jauh lebih berdampak jika para anggota Karang Taruna rapat untuk kerja bakti di kampungnya.

Mulanya adalah orang yang hobi mengasong agama ikut terjun ke politik. Mereka tidak memasuki partai. Hanya mau berposisi sebagai kelompok penekan. Jualannya adalah jubah putih dan klaim tentang umat.

Jika politik membutuhkan fatwa agama, mereka siap menyediakan. Kalau politik membutuhkan apa saja, termasuk contohnya mengkafir-kafirkan, mereka juga punya paket lengkap. Jika politik membutuhkan masjid untuk memanipulasi,  orang-orang model seperti ini sejatinya tidak lebih dari calo kampanye.

Jika calo kampanye menjajakan kepala rakyat yang diklaim sebagai rombongannya, orang-orang jenis ini menjajakan kepala umat untuk ditukarkan dengan kepentingan politik. Satu paket dengan embel-embel agama.

Jika diperhatikan, permainan ijtima-ijtimaan ini tidak lebih hanya merespons kepentingan Prabowo saja. Coba saja perhatikan. Ijtima Ulama I digelar sebelum kampanye presiden. Hasil dari Ijtima Ulama I itu merekomendasikan Prabowo sebagai calon presiden dan Abdul Somad serta Salim Segaf sebagai calon wakil presiden. Alasannya, Prabowo membutuhkan pendamping dari kalangan ulama.

Tapi, rupanya Prabowo ogah mengikuti seruan itu. Prabowo lebih memilih Sandiaga Uno  sebagai cawapresnya. Pertimbangannya apalagi kalau bukan soal dana kampanye. Sandiaga Uno yang banyak duit lebih enak diajak kerjasama untuk kampanye ketimbang Salim Segaf yang secara finansial hanya akan memberatkan saja.

Yang pasti, ditolaknya cawapres hasil Ijtima Ulama I oleh Prabowo mengindikasikan rombongan orang bersorban itu memang tidak punya kekuatan apa-apa. Prabowo bisa berjalan dengan agenda dan pikirannya sendiri, lalu para lelaki berdaster putih itu menyesuaikan diri dengan mencocok-cocokkan dalil demi kepentingan politik. Ya, namanya juga kongkow-kongkow ulama abal-abal. Jadi, hasilnya bisa direvisi, ditambal atau diubah. Sesuai dengan kepentingan politik mereka saja.

Dasar para pengasong agama, daripada kehilangan muka karena rekomendasinya diacuhkan oleh Prabowo, mereka menggelar lagi Ijtima Ulama II. Ini adalah Ijtima Ulama edisi revisi dari sebelumnya. Sebab, hasil sebelumnya ternyata tidak kompatibel dengan kemauan Prabowo. Hasil dari Ijtima Ulama II ini seperti mencoret hasil Ijtima Ulama I, lalu dibuatkan aturan tambahan. Sudah bisa ditebak, kali ini Ijtima Ulama menyetujui Sandiaga sebagai cawapres.

Inilah akibat rombongan politisi amatir pengasong agama itu sok-sokan punya usulan dan ide. Mau ijtima kek, mau fatwa kek, kalau Prabowo enggak setuju, terus mereka mau apa? Jadi, hasil ijtima yang harus menyesuaikan dengan kemauan Prabowo. Bukan Prabowo yang mengikuti para politisi berkedok ulama itu.

Lalu pemilu digelar. Hasilnya Prabowo-Sandi keok melawan Jokowi-Ma’ruf Amin. Seperti pemilu yang sudah-sudah, meskipun kalah telak, mereka tetap ngotot memenangkan pemilihan presiden. Kalau melihat dari ngototnya, memang wajar jika Prabowo bisa berdekatan dengan kelompok ijtima itu. Sama-sama tameng.

Selain menyebarkan narasi pilpres curang, Prabowo juga menggugat sampai ke Mahkamah Konstitusi. Nah, untuk menunjang kepentingan ini, Ijtima Ulama III digelar lagi. Hasilnya bikin sakit perut. Gerombolan itu meminta MK untuk menetapkan Prabowo-Sandi sebagai pemenang pilpres dengan mendiskualifikasi Jokowi-Amin. Entah, datang dari mana ide tersebut. Apa mereka piker pemilu yang melibatkan ratusan juta rakyat bisa seenak sorbannya saja dibatalkan hasilnya?

Ketika MK mengetuk palu memenangkan Jokowi-Amin, Komisi Pemilihan Umum juga telah menetapkan sesuai konstitusi. Di sinilah akal sehat mulai muncul di kepala Prabowo. Baginya, tidak ada gunanya terus-menerus melawan narasi pemerintah yang legitimate, sebab dia akan menjadi tertawaan dunia. Maka, luluhlah hati Prabowo.

Belum lama berselang ketua umum Gerindra itu bertemu dengan Jokowi di MRT. Pertemuan keduanya menandakan era pilpres sudah berakhir. Prabowo juga bertemu Megawati. Sepertinya, Prabowo sadar ia harus lebih mempertimbangkan akal sehat ketimbang mengikuti dorongan ulama abal-bal yang kerap membuat dia seperti tukang pukul untuk menghantam Jokowi. Menang engak, yang ada malah tambah babak belur.

Di sinilah orang yang mengaku ulama mulai keliatan belangnya. Di mana-mana ulama pasti akan senang jika dua orang yang berseteru kini menjalin tali silaturahmi. Sebab, silaturahmi adalah ajaran Islam yang hakiki. Agama tidak pernah mengajarkan permusuhan. Agama membenci orang-orang yang berselisih.  Hanya setan dan para begundal saja yang suka melihat orang saling bertikai.

Nah, Ijtima Ulama IV yang digelar belakangan adalah respons ketidaksukaan gerombolan itu ketika Prabowo mulai turun tensinya. Para ulama abal-abal itu gerah, kenapa kok ada manusia bisa saling berangkulan padahal secara politik mereka berbeda. Para lelaki berdaster putih itu kaget bagaimana mungkin silaturahmi terjalin, padahal selama ini yang mereka hembuskan melulu soal permusuhan. 

Ulama adalah mereka yang menganjurkan silaturahmi. Hanya setan yang suka dengan permusuhan.

Artikel terkait

Tommy Soeharto dan Islamisasi Oligarki

Obrolan Jokowi dan Prabowo di Gerbong MRT [Satire]

Bahaya Politisasi Agama

Kaleidoskop 2017: Tahun Keprihatinan Beragama

Politisasi Agama, Politik Murah Meriah

Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.