Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Hitler Nababan dan Potret Masyarakat yang Tidak Lucu

Pidato Nadiem yang Energik tapi Mengecewakan

Nadiem Makarim seperti melakukan perubahan besar dalam pendidikan. Dia seperti ingin berbeda dari menteri-menteri sebelumnya. Paling tidak, pada pidato Hari Guru, Nadiem Makarim tidak...

Apakah Celana “Cingkrang” Identik Teroris?

Kamis lalu (10/10) seluruh media mewartakan peristiwa penusukan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto di Pandeglang, Banten, yang akhirnya diketahui diduga dilakukan oleh...

Pemberitaan Kejahatan Susila, Apa Untungnya bagi Masyarakat?

Melihat ramainya kasus yang mengangkat tema asusila, tampaknya kita perlu memeriksa lagi apakah pandangan ini menguntungkan masyarakat. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)...

Kejujuran Prabowo Subianto Harus Kita Apresiasi

Alangkah bijaksana bila mulai saat ini seluruh rakyat Indonesia berhenti memplesetkan nama Prabowo menjadi Prabohong. Prabowo bukan tipe orang yang suka bohong. Ia justru...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Hitler Nababan, anggota DPRD Karawang dari Partai Demokrat babak belur dikeroyok. Hitler, yang tidak ada hubungan sodara dengan jagal dari Jerman Adolf Hitler itu, dipukuli karena membagikan meme Amien Rais dan Rizieq Shihab di grup WhatsApp. Untuk kalangan sangat terbatas sebenarnya. Namun meme itu merembes keluar. Meme yang seharusnya lucu menuai amarah. Jadilah Hitler bonyok dipukuli pendukung kedua tokoh itu.

Di belahan bumi lain, ada lagi cerita lain. Seorang ibu memesan kue untuk merayakan kelulusan anaknya. Jacob, si anak, rupanya amat pandai. Dia lulus dengan Summa Cum Laude.

Namun apa lacur, supermarket tempat kue itu dipesan punya satu kebijakan: Tidak boleh ada kata-kata tidak senonoh dan tidak sopan tertulis di kue-kue yang dipesan. Kebijakan itu menghasilkan kue dengan tulisan Summa *** Laude. Tanpa kata “Cum.”

Saudara yang sering menonton film senonoh tentu tahu artinya. Kalau tidak, bisa saya jelaskan sedikit. “Cum” itu slang dalam bahasa Inggris yang artinya kurang lebih “cairan yang muncrat ketika orgasme.”

Juga sedikit konteks. South Carolina, tempat peristiwa ini terjadi, dalam geografi politik Amerika Serikat termasuk wilayah “southern.” Ini adalah wilayah Sabuk Injil (Bible belt). Tentu saja mereka adalah penganut Kristen yang taat. Taat sampai ke akar-akarnya.

Kasus Hitler Nababan memberikan pelajaran kepada kita bahwa politik kita sudah sangat beracun (toxic). Orang tidak saja hidup mati membela keyakinannya. Lebih mengenaskan lagi, orang merasa harus membela mati-matian tokoh pujaannya—seolah-olah tokohnya tidak bisa “cum“. Mereka mengamuk dan merasa dirinya juga terhina kalau tokoh pujaannya dijadikan bahan untuk membuat tertawa.

Satu kualitas dari masyarakat yang sehat adalah kemampuan untuk menertawakan diri sendiri (self-depreciating). Kemampuan seperti itu hanya ada kalau orang tidak menuhankan keyakinan, apalagi menuhankan tokoh—yang sebenarnya hanya manusia biasa. Masyarakat itu membusuk ketika anggota-anggotanya mulai berkeyakinan “Pejah gesang ndherek ….”

Politisi pantas ditertawakan dan sedikit diejek. Mereka bukan dewa atau Tuhan. Tidak juga mereka mewakili Tuhan—sekalipun mereka memakai Tuhan untuk mencari kekuasaan. Lebih dari itu, mereka punya kekuasaan untuk menentukan nasib orang banyak.

Humor dan lelucon adalah sebuah cara untuk membikin politisi setia pada janjinya.

Kemuliaan seorang politisi muncul bersama sentilan dan ejekan-ejekan yang lucu. Itulah sebabnya dalam pertunjukan rakyat selalu ada punakawan, orang-orang kecil yang mengkritik dan menertawakan tuannya sendiri.

Saya yakin, para komedian di Amerika akan membikin lelucon soal “Cum” tadi. Kebahlulan tidak mengenal agama, ras, suku, atau golongan. Keyakinan yang diperlakukan sebagai Tuhan malah kadang menjadi lucu. Dalam hal ini, Amerika adalah tempat yang lebih memungkinkan untuk menertawakan keyakinan ketimbang Indonesia.

Kita punya problem yang sangat besar dalam masyarakat kita ketika kita tidak bisa membikin hal-hal yang lucu darinya.

Harapan saya, Hitler Nababan segera sembuh dan bekerja kembali melayani rakyatnya.

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

Civil Society, Pariwisata Nasional, dan Dikotomi Ekonomi Vs Kesehatan

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata telah menjadi sumber pendapatan devisa terbesar nomor dua (280 triliun Rupiah pada 2019) di Indonesia untuk kategori non-migas. Ini...

PKI dan Narasi Sejarah Indonesia

Bagaimanakah kita menyikapi narasi PKI dalam sejarah Indonesia? Sejarah resmi mencatat PKI adalah organisasi politik yang telah menorehkan “tinta hitam” dalam lembaran sejarah nasional,...

Janji Manis Penyelesaian HAM

Setiap memasuki bulan September, negeri ini selalu dibangkitkan dengan memori tentang sebuah tragedi kelam yang terjadi sekiranya 55 tahun silam. Peristiwa diawali dengan terbunuhnya enam...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.