OUR NETWORK

Hari Prabangsa Nasional, Bukan Hari Pers Nasional

Keadilan untuk manusia, apapun profesinya.
Tak hanya Ba’asyir dan Robert Tantular, rupanya 2019 adalah tahun penuh berkah untuk para kriminal, tapi penegakan hukum untuk kasus kekerasan pada wartawan banyak belum tuntas.
 
Satu-satunya yang terungkap hingga ke dalangnya seperti pembunuh Prabangsa, justru diberi remisi. Sementara hampir 1.000 petani dan warga dikriminalisasi, kasus pembunuhan wartawan Udin atau Munir, bahkan Novel Baswedan, tak ada titik terang.
 
Jurnalis tak perlu diistimewakan. Namun seperti Munir, Marsinah, Wiji Thukul, atau Novel Baswedan, mereka bekerja mewakili kegelisahan kita. Ada yang sedang meliput kasus korupsi, penyelundupan BBM, atau yang meliput perang dari sisi kemanusiaan dan menolak jurnalisme “NKRI harga mati”.
 
Publik tidak diam. Sebelumnya aksi kawan-kawan jurnalis di Malang, Yogyakarta, dan berbagai kota lain yang mengecam pemberian remisi oleh Presiden kepada dalang pembunuh jurnalis Radar Bali, Narendra Prabangsa.
 
Bersamaan dengan ramainya kabar pengurangan hukuman untuk terpidana kasus Bank Century, Robert Tantular dan gagasan pembebasan Abu Bakar Ba’asyir dengan alasan “kemanusiaan”, Presiden Jokowi meneken Keppres 29/2018 yang mengurangi hukuman Nyoman Susrama dari seumur hidup menjadi 20 tahun penjara. Terpidana adalah bekas caleg PDIP.
 
Presiden tak tahu siapa yang ia beri remisi. Setelah diprotes, ia minta dikaji ulang. Menterinya menyatakan tak perlu, karena sudah “sesuai prosedur”. Dirjennya membantah menteri dan menyatakan remisi adalah kelalaian.
 
Zaman SBY disebut negara “auto pilot”. Kini fasenya menjadi “no pilot”. Sementara oposisinya pura-pura bisa jadi pilot. Lalu apakah pembunuhan manusia, yang kebetulan seorang wartawan, adalah hal sepele? Mereka ini menganggap kewartawanan bukan semata soal pekerjaan atau sumber nafkah, namun jauh melampaui itu dan memilih jalan pedang.
 
Saya percaya kerja jurnalisme adalah kerja verifikasi. Jika si A mengatakan di luar hujan dan si B membantah, tugas jurnalis itu keluar ruangan dan membuktikan sendiri. Yang hanya mengutip atau mengadu pernyataan si A dan si B disebut “talkshow”. Ini yang paling mudah dan murah. Sementara yang membuktikan di luar hujan tapi hasil rekayasa cuaca, itulah jurnalisme investigasi.
 
Sementara kelompok wartawan lain memilih jalan bertabur bunga, menempel pada kekuasaan sebagai partisan, melayani kepentingan pemilik medianya, menandatangani MoU dengan industri sawit atau investor reklamasi dan properti.
 
Kombinasi uang rakyat dan korporasi itulah yang digunakan untuk mengongkosi sebuah pesta tahunan yang dengan gagah mereka sebut sebagai HARI PERS NASIONAL. Lalu sebenarnya apa sih tugas seorang wartawan?
*dihimpun dari berbagai status facebook Dandhy Dwi Laksono.
 
 
Dandhy Dwi Laksono
Jurnalis, penulis, dan Pendiri Watchdoc, perusahaan film dokumenter. Pada 2015, selama 365 hari, bersama "Ucok" Suparta Arz, Dandhy bersepeda motor mengelilingi Indonesia di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…