OUR NETWORK

Hanung Bramantyo dan Politik Keaktoran dalam Film

Kemunculan cuplikan film Bumi Manusia baru-baru ini telah mendapatkan sambutan positif dan negatif dari para netizen. Bagaimana tidak, setelah menanti bertahun-tahun lamanya, akhirnya mahakarya Pramoedya Ananta Toer itu diadaptasi juga menjadi film dan akan dapat dinikmati secara visual.

Sebagian berpendapat, sutradara Hanung Bramantyo berhasil membuat mereka berteriak-berteriak karena tak sabar melihat versi penuh film yang dibintangi oleh bocah populer Indonesia yang diidolakan oleh jutaan dedek-dedek emas itu.

Sebagian lagi beranggapan—khususnya fans garis keras (konservatif) karya-karya Pram—terpilihnya Iqbal Ramadhan sebagai pemeran Minke sama sekali tak mengubah fakta bahwa yang dilakukan Hanung Bramantyo adalah sebuah kesalahan. Sebab, bagi fans Bumi Manusia  garis keras,  Iqbal Ramadhan sama sekali tak memenuhi persyaratan yang ditampilkan oleh karakter Minke dalam novel.

Cuitannya bermacam-macam, dari Iqbal yang tak mampu memperdalam karakater Minke dan pendalaman logat yang sama sekali dangkal. Bahkan sampai ada kritikan terhadap wajah imutnya yang tidak cocok dengan kumis tipis yang terkesan dipaksakan, sehingga si pengkritik menyarankan Iqbal untuk memakai Minoxidil agar kumisnya terlihat lebih nyata.

Semua cuitan itu tentu berasal dari fans garis keras karya-karya Pram yang kecewa dengan penggambaran Minke yang jauh dari gambaran pribumi Jawa. Alih-alih menaruh ekspektasi tinggi terhadap adaptasi ini, mereka justru harus kecewa dengan jauhnya ekspetasi yang mereka harapkan melalui cuplikan thriller  yang berdurasi tiga menit itu.

Sebenarnya masih banyak lagi kritikan dan kekecewaan netizen terhadap cuplikan thriller Bumi Manusia. Bukan hanya datang dari para fans garis keras karya-karya Pram saja, melainkan kritikus film juga menyampaikan cuitannya. Kritikan mereka disampaikan melalui laman komentar.

Beberapa dari mereka ada yang berpendapat, colour grading-nya tidak sesuai dengan suasana adegan, sinematik yang tidak mendukung cerita, sampai-sampai riset artistik yang dikira sangat dangkal untuk film adaptasi sekelas Bumi Manusia. Cuitan ini tentu tak lagi ditujukan untuk Iqbal seorang, melainkan kepada Hanung Bramantyo-lah saat ini yang telinganya dibuat panas.

Terlepas dari kritik dan kekecewaan yang disampaikan oleh para netizen, seharusnya kita pelajari dulu apa yang Hanung coba capai dalam penggarapan adaptasi Bumi manusia  ini. Melihat motifnya dalam memilih Iqbal sebagai Minke, tentu kita akan langsung diarahkan untuk berasumsi bahwa adaptasi ini bertujuan komersil. Bagaimana tidak? Jika kita berpikir bahwa pemilihan Iqbal sebagai Minke semata untuk membangun ketertarikan kaum milenial untuk membaca Bumi Manusia, maka itu adalah usaha yang tidak begitu penting. Sebab, setiap tahun novel Bumi Manusia—atau tepatnya keempat buku yang terangkum dalam ‘Tetralogi Buru’—itu dicetak, maka secepat kilat pula buku itu habis dibeli masyarakat.

Jadi, jika Hanung berasumsi bahwa upaya mempopulerkan kembali Bumi Manusia  adalah tujuan utamanya, hal itu sama sekali tidaklah penting, sebab dengan sendirinya masyarakat telah menyadari bahwa Bumi Manusia adalah bacaan wajib yang sudah menjadi karya kanon.

Sekarang kita menelaah kritik-kritik yang disampaikan para netizen. Beberapa beranggapan bahwa kritik-kritik itu hanya bentuk sentimen mereka terhadap Hanung yang berhasil mendapatkan hak untuk mengadaptasi Bumi Manusia.  Namun, pertanyaannya, apakah Hanung sudah melakukan yang terbaik untuk adaptasi Bumi Manusia?

Jika meilhat dari apa yang terjadi dalam cuplikan thriller yang berdurasi tiga menit itu saja sudah banyak kritik dan kekecewaan yang didukung dengan alasan kuat—bukan sekadar sentimen belaka—tentu saja dia belum melakukan yang terbaik.

Di sinilah permasalahannya. Seperti rumor-rumor yang pernah bertebaran sebelumnya, bahwa sudah ada beberapa sutradara Hollywood yang mendatangi Pram perihal permintaan hak mengadaptasi karya beliau menjadi film. Namun, begitulah Pram, yang antikolonialisme, yang sudah merdeka sejak dalam pikiran, yang teguh dengan prinsipnya bahkan sampai akhir hayat, menolak permintaan itu berkali-kali, karena Pram ingin Bumi Manusia  diadaptasi oleh sutradara Indonesia.

Kesempatan ini seharusnya dimanfaatkan oleh Hanung. Melihat kualitas karya Pram yang sangat bagus, sampai-sampai membuat sutradara-sutradara Hollywood berniat untuk mengadaptasinya, Hanung semestinya melakukan yang terbaik dalam mengadaptasi karya Pram.

Riset seharusnya dilakukan lebih matang, terutama riset artistiknya, pemilihan karakter-karakter juga harus penuh pertimbangan, seperti memakai aktor yang tidak begitu terkenal namun mampu memenuhi seluruh syarat untuk menjadi Minke, ketimbang memaksakan penggunaan Iqbal yang bertujuan untuk keuntungan komersil. Selain itu, pertimbangan pemilihan kamera dan lensa juga harus diprioritaskan demi tercapainya visual sinematik yang diinginkan.

Sebenarnya banyak aspek yang lebih dahulu harus dimatangkan oleh Hanung. Sebagai sutradara, Hanung semestinya menghargai kepercayaan Pram terhadap anak-anak bangsa yang sebenarnya mampu melakukan apa yang dilakukan oleh bangsa Barat. Tetapi, melihat apa yang dilakukan Hanung terhadap adaptasi Bumi Manusia—walau hanya melalui thriller yang berdurasi tiga menit—tidak ada bedanya dengan apa yang dilakukan sutradara-sutradara Indonesia lain dalam hal adaptasi seperti yang dilakukan Ifa Ifansyah terhadap adaptasi karya Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk. Melalui cuplikan thriller, Hanung baru saja membuat masyarakat Indonesia yang menggemari film semakin terjerat dengan cara berfikir pascakolonial.

Begitulah adanya. Bagaimana mungkin mayoritas masyarakat Indonesia mampu melepaskan diri dari cara berfikir pascakolonial, sedangkan orang-orang yang membawa harapan pun selalu berakhir dengan memberikan kekecewaan.

Kekecewaan itu timbul bukan karena ia telah memberikan usaha kerasnya dalam mewujudkan apa yang seharusnya ia wujudkan. Tentu saja tidak. Sebab, jika masyarakat masih saja mengkritik hal seperi itu, tentulah masyarakat itu kufur nikmat. Tapi, kekecewaan itu timbul karena orang-orang yang diharapkan justru sudah menyerah dari awal. Menyerah dengan melencengkan tujuan utamanya demi kepentingan pribadi dan eksistensi.

Bagaimana mungkin perfilman Indonesia akan maju jika tujuan utama mengadaptasi sebuah novel yang sarat akan sejarah bangsa dan hal-hal edukatif  adalah uang?

Politik keaktoran oke-oke saja. Selama adaptasi itu mampu memberikan pengaruh yang penting, maka politik selebritas itu oke-oke saja. Sebut saja film adaptasi seperti The Godfather yang menggunakan Marlon Brando sebagai pemeran utamanya. Sangat politis dalam pemilihan aktor. Namun, lihat pencapaian The Godfather: dari segi penceritaan, karakter, dan sinematik, semuanya sangat baik.

Atau seperti film arahan Paul Thomas Anderson yang berjudul There Will be Blood yang dibintangi Daniel Day Lewis. Kurang politis apalagi dalam pemilihan aktor. Seorang Daniel Day Lewis, yang telah meraih 3 piala Oscar sebagai pemeran utama terbaik. Namun, lihatlah hasil adaptasinya. Bahkan sampai saat ini There Will be Blood masih digadang-gadang sebagai salah satu film adaptasi dengan sinematik terbaik.

Atau contoh yang paling dekat, film Gie yang diadaptasi dari buku Soe Hok Gie berjudul Catatan Seorang Demonstran. Film ini juga menggunakan politik keaktoran yang dimainkan oleh Nicholas Saputra yang saat itu sedang naik daun pasca film Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Namun, Riri Riza sebagai sutradara masih mampu memberikan visual sinematik yang baik dalam film tersebut, sehingga Gie masih menjadi salah satu film terbaik Indonesia, walau menghabiskan dana yang banyak.

Andai harus menggunakan Iqbal Ramadhan sebagai Minke, Hanung semestinya mampu memberikan sentuhan sinematik yang baik dan mengondisikan Iqbal menjadi seorang Minke, seorang pribumi Jawa secara total.

Banyak hal lain yang bisa dilakukan, seperi menyuruh Iqbal berjemur agar sedikit lebih hitam. Atau seperti saran yang diberikan netizen tadi: menggunakan Minoxidil agar kumisnya sedikit lebat dan terlihat lebih nyata, atau pendalaman logat Jawa yang sesuai dengan keadaan saat itu. Tapi, sudahlah. Sepertinya politik keaktoran memang bukan mengada-ada: memaksakan Iqbal Ramadhan dengan wajah imutnya yang cerah dan kumis tipis yang terkesan palsu demi kelancaran tujuan awalnya, yakni keuntungan komersil!

Lahir di Bukittinggi pada tanggal 7 Juni, 1997. Sedang menyelesaikan studi di Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…