Jumat, Februari 26, 2021

Adakah Hak Asasi Manusia untuk Pelaku Teror?

Kenapa Kadal Gurun Senang Papua Rusuh?

Rusuhnya Papua kemarin membuat beberapa pihak mendadak melonjak senang. Pihak ini, sebut saja kadal gurun. Mereka adalah kelompok agamis yang sudah mengkavling surga bahkan sejak...

Michael Bambang Hartono, Getting What Money Can’t Buy

Apa yang tidak bisa dibeli oleh Michael Bambang Hartono, salah satu orang terkaya di Indonesia? Tidak banyak. Dengan kekayaannya yang melimpah ruah, ia bisa...

Fenomena Aktivis di Era 4.0

Perkembangan teknologi informasi tidak dapat dihindarkan dari generasi muda. Kemajuan teknologi membawa sebuah perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat. Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku...

Mengapa Ada Orang Membenci Salib?

Ada percakapan saya dengan seorang anak kecil minggu lalu. Anak kecil itu masih TK di St. Theresia Doloksanggul. Dari nama TK itu, Anda pasti...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Menyatakan bahwa satu sistem pemerintahan lebih baik daripada yang lain itu pendapat, bukan kejahatan. Tapi Mengajak orang untuk melakukan tindakan pembunuhan atas nama Tuhan itu bukan pendapat, itu seruan kebencian dan tindakan kriminal.
Kalau begini saja enggak bisa membedakan, lantas hobi menuduh aktifis prodemokrasi sebagai kunyuk kilafah, antek teroris, dan anti-NKRI, aduh ….
Lain kali kalau kelompokmu dituduh antipancasila kemudian dibubarkan tanpa proses peradilan, akan tetap dibela kok. Jika keluargamu jadi korban pembunuhan ekstrayudisial karena diduga mengganggu proses pembebasan tanah atau kebetulan lewat saat demonstrasi, ya akan tetap dibantu. Atau hak sipilmu direbut karena dicurigai melakukan makar hanya karena baca buku kiri atau sering baca buku Sayyid Qutb, ya akan didampingi.
Akuntabilitas dan kontrol terhadap pemerintah itu adalah bagian penting dari demokrasi, dan ia bukan sesuatu yang terberi, ia harus diperjuangkan.
Kerap kali pemerintah diberik cek kosong oleh warganya untuk menjalankan roda negara. Ia bisa memiliki kekuasaan absolut, tanpa kontrol, dan impunitas total. Kontrol dan akuntabilitas kerap bukan sesuatu yang penting di hadapan ilmu “pokoknya”. “Pokoknya harga bensin murah”, “pokoknya teroris ditumpas”, “pokoknya radikalisme hilang”.
Menghadang fasisme dengan kekuatan dan kekerasan tentu boleh dan itu sah-sah saja, tapi kekuatan dan kekerasan itu mesti tunduk pada hukum dan bisa dimintai pertanggungjawaban. Kekerasan tentu legal digunakan, Amerika melegalkan penyiksaan, Arab Saudi melegalkan pemancungan, Taliban melegalkan rajam. Tiap-tiap rezim memiliki versinya sendiri terhadap akuntabilitas dan hak asasi manusia. Maka akuntabilitas dan kontrol versi siapa yang perlu kita adopsi untuk dijalankan?
Perjuangan untuk mengakhiri perbudakan dan penjajahan, emansipasi perempuan, perlindungan untuk kelompok minoritas adalah usaha militan yang digulirkan kelompok yang dianggap “berbahaya”, “setan gundul,” “mengganggu stabilitas,” sampai akhirnya dibuat kebijakan yang menjamin hak-hak kelompok rentan tersebut.
Memperjuangkan hak asasi teroris bukan merupakan bentuk dukungan terhadap pelaku teror atau ideologinya. Kita sedang membela hak sendiri. Kita tidak sedang mendukung kekerasan dengan menuntut para teroris ini diperlakukan adil, kita sedang menjamin bahwa kekuasaan dan hak menggunakan kekerasan (untuk melindungi warga) yang kita berikan kepada negara itu tetap terkontrol.
Logika yang kerap berkelindan ini susah dipahami oleh mereka yang menggemari kekerasan. Teroris ditangkap dan dihukum bukan karena agamanya, tapi karena kejahatannya yang biadab. Kita tak pernah ribut koruptor dihukum karena agamanya apa, tapi kita tahu mereka brengsek karena kejahatan yang dilakukannya.
Membela hak terduga teroris untuk mendapatkan peradilan yang fair bukan berarti membela dan mendukung terorisme. Membela hak komunitas Lia Eden sebagai warga negara untuk menjalani keyakinannya bukan berarti mengikuti keimanan Lia Eden. Kadang berpihak itu bukan soal mendukung atau soal suka, tapi soal bagaimana anda bersikap adil pada orang yang sangat anda benci sekalipun.
Demokrasi dan Hak Asasi Manusia tidak punya kepentingan ideologi. Demokrasi semestinya memandang manusia sebagai manusia, bukan berdasarkan label atau kelompok. Hak sipil masih dimiliki oleh teroris meski mereka menolaknya, meski mereka merendahkannya, ia mesti diperlakukan secara manusiawi.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.