Kamis, Desember 3, 2020

Gus Mus, Virus Corona, dan Talbiyah Cinta

Pergulatan Ekstremisme dan Multikulturalisme: Antara Politik Identitas dan Pluralitas

Buku yang bertajuk “Heresy and Politics: How Indonesian Islam Deals with Extremism, Pluralism, and Populism” merupakan karya seorang intelektual Muslim dan peneliti senior Lembaga...

Saya Mendukung Prabowo Jadi Oposisi

Capres 02, Prabowo Subianto naik ke atas panggung beralas karpet berwarna merah di depan rumahnya, Jalan Kertanegara V, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu malam...

Corona, Manusia, dan Semesta

KH Aqil Siraj, Ketua PBNU dalam acara Jendela Ramadan-nya Dedi Corbuzier di NetTV Jumat dini hari lalu menyatakan: pandemi corona adalah peristiwa alam. Bukan...

Bersama Harmoni tanpa FPI

Wacana pembubaran Front Pembela Islam (FPI) bukan kali ini saja ramai. Ia berjalan beriringan bersama kekerasan demi kekerasan  terhadap siapa saja yang dianggap musuh...
Muhammad Nur Faizi
Penulis merupakan reporter Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Metamorfosa UIN Sunan Kalijaga dan aktif menulis artikel di berbagai media.

Ada sedikit perbedaan dengan pulangnya anak perantauan. Terlihat kecemasan dan ketakutan dibalik ungkapan kerinduan yang hendak disampaikan pada kampung halaman. Mereka takut menebar petaka panjang, dan mereka cemas akan adanya virus yang ikut terbawa pulang.

Maka mereka menyendiri dan menyepi di balik jeruji kamar. Seraya menatap langit dengan tangan menengadah meminta Tuhan agar semua orang dilimpahkan kesehatan.

Kurang lebih tiga bulan sejak penyerangan virus Corona, warga terlihat panik dan menjaga jarak antar sesama. Silaturahmi diganti sapaan melalui jejaring sosial, begitu pula seluruh kegiatan dilakukan melalui dunia maya. Masayarakat mulai menjaga kebersihan, kesehatan menjadi barang dambaan, dan dari situ muncul rasa persatuan untuk saling menguatkan.

Setiap negara mulai mengambil kebijakan untuk menangani virus mematikan. China adalah negara pertama yang menerapkan sistem lockdown, kemudian diikuti oleh sejumlah negara karena dianggap paling relevan. Namun bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah lebih memilih tes kesehatan masal yang pertama kali diterapkan di korea selatan. Kebijakan ini ditinjau dari berbagai aspek, diantaranya kelangkaan bahan pangan hingga perekonomian yang diprediksi mengalami kelumpuhan.

Selain itu pemerintah mengusung konsep tambahan yang disebut social distance. Konsep ini memperkirakan jarak penularan dari satu orang ke orang lainnya. Dengan jarak tersebut, masyarakat bisa tau berapa jarak aman untuk berdekatan dengan seseorang, yang menyebabkan sistem penularan tidak bisa berjalan.

Dalam perspektif agama, Allah tidak mungkin menciptakan suatu makhluk tanpa adanya kemanfaatan. Tidak ada satu pun makhluk yang diciptakan Allah dalam keadaan sia-sia (Surat Shad ayat 27).

Namun seringkali manusia tidak menemukan makna diantara kejadian yang menimpa. Mereka terus menerus larut dalam permasalahan hingga melupakan Pencipta. Padahal, dibalik permasalahan yang ada, terdapat pesan cinta dari Tuhan untuk kita.

Tuhan, engkau sepikan tempat-tempat kesibukan kami. Engkau sunyikan tempat kami membanggakan kelompok kami. Bahkan engkau senyapkan rumah-rumahMu yang selama ini kami ramaikan hanya untuk memuja diri-diri kami. MengingatMu pun demi kepentingan kami sendiri. Penggalan puisi “Talbiyah Dalam Kesendirian” karangan Gus Mus bisa membantu kita menemukan pesan cinta dalam permasalahan virus corona.

Lihatlah, kita berlomba-lomba terlihat hebat dihadapan sesama. Menceritakan laku soleh agar mendapat pujian dari semua manusia. Dalam beribadah, tak jarang muncul rasa sombong, menganggap yang maksiat lebih rendah daripada kita. Menganggap yang bekerja siang malam melupakan kehadiran Tuhannya. Hati kita dilingkupi rasa bangga, dan terus menerus menganggap rendah terhadap makhluk lainnya.

Maka inilah wujud cinta Tuhan, menyepikan segala tempat yang bisa digunakan sebagai ajang kesombongan. Menyadarkan manusia dalam kesendirian, agar mereka bisa berkaca dan bermuhasabah untuk kembali ke jalan yang benar. Dalam keadaan sepi, mereka akan sibuk beribadah tanpa adanya unsur kesombongan. Menikmati segala laku ibadah tanpa mengharap pujian dari orang.

Khalwat adalah praktek spiritual secara sendirian yang digunakan untuk memperoleh petunjuk dari Tuhan. Nabi Muhammad saw sendiri pernah melakukan khalwat di Gua Hira. Sampai umur 40 tahun akhirnya beliau memperoleh petunjuk berupa turunnya wahyu pertama surat Al Alaq ayat 1-5. Sejak saat itu, beliau mengalami kejadian luar biasa yang semakin memunculkan sifat kenabiannya.

Teman saya pernah berkata “dirimu adalah di saat kamu sendiri.” Dalam sendiri, tidak bisa kita membohongi hati. Dalam sendiri, kita tidak bisa berpura-pura menjadi pribadi yang serba mengerti. Dan dalam sendiri pula, kita hanya mempunyai satu tempat berserah diri. Maka nikmatilah kesendirian itu, perbaikilah dirimu, agar terasa nyaman saat menerima ketetapan Tuhanmu.

Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbuhu (Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya). Nafs adalah pokok diri manusia yang sudah diciptakan sejak dahulu. Tidak hanya di alam dunia, ia akan terus hidup di alam barzah dan alam-alam lainnya.

Semua harta, hafalan, serta gagasan di masa hidupnya akan lenyap menyisakan dirinya sendiri. Oleh karenanya, menggambarkan kesejatian. Agama tidak bisa direkayasa oleh akal, perlu adanya ketulusan pemahaman dari hati dan pikiran untuk menuju keagungan Tuhan.

Secara berani, nafs maju mempertanggung jawabkan seluruh umur yang telah dihabiskan di bumi. Inilah pentingnya nafs yang harus kita rawat sebaik-baiknya. Karena disinilah Allah swt menanamkan berbagai macam kesejatian, termasuk laku spiritual. Mungkin jika kita masih suka pamer dalam beribadah, berarti nafs kita masih bermasalah.

Oleh karenanya, nafs harus dibersihkan, agar manusia bisa menyadari tujuan dari penciptaan. Mendalami tujuan penciptaan, yaitu ya’bud bukan lagi sebatas laku ibadah ritual. Melainkan menjadi seorang hamba yang dimabuk cinta oleh ketaatan dan keikhlasannya kepada Sang Pencipta. Khalwat membuat kita merenung, berpikir sejenak atas segala laku ibadah dan dosa yang telah kita perbuat.

Dengan cara seperti ini, pola beragama kita akan berubah, tanpa mementingkan ruang dan simbol. Tidak mengagungkan kelompok, dan kembali memperkuat persatuan karena semua terlihat sama di hadapan Tuhan.

Virus ini membuat kita percaya bahwa yang tak kasat mata bisa mengalahkan makhluk yang sedemikian besarnya. Hanya Tuhanlah yang maha kuasa atas segala sesuatunya. Maka istighfar dan doa meminta perlindungan yang bisa kita lakukan, agar ketetapan Tuhan berubah menjadi apa yang kita harapkan.

Muhammad Nur Faizi
Penulis merupakan reporter Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Metamorfosa UIN Sunan Kalijaga dan aktif menulis artikel di berbagai media.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.