Senin, November 30, 2020

GO-JEK, Prabowo Subianto, dan Problem Ekonomi Kita

Trinitas yang Tidak Qur’ani, untuk Mun’im Sirry

Memperkaya wawasan tentang bangunan keyakinan umat agama lain merupakan hal yang positif. Namun, memaksakan keyakinan satu agama untuk mengamini kebenaran agama yang lain merupakan...

Bagaimana Stan Lee Mengubah Hidup Kita

“Ini adalah pekerjaan bodoh,” kata pria itu pada istrinya. “Ini adalah bisnis bodoh bagi orang dewasa,” katanya sekali lagi. Pria itua dalah Stan Lee,...

Inong dalam Hedonisme “Spiritual” Wanita Metropolis

Di Indramayu ada dongeng rakyat yang sangat menarik. Konon, seorang gadis miskin, Saida Saini sejak kecil bercita-cita ingin jadi orang kaya dan terkenal. Untuk...

Menyoal Diskusi Penurunan Tahta

Isu mengenai pemakzulan Presiden dikala pandemi ini menyeruak sejak munculnya diskusi bertajuk “Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan” yang diinisiasi oleh Constitutional...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Prabowo Subianto kena lagi. Begitu kata seorang kawan saya, seorang Jokowers paruh-waktu bersorak gembira. Iya. Sesudah memancing kemarahan orang Boyolali, kali ini dia memancing kemarahan para pengemudi GO-JEK dan angkutan online lainnya.

Di tahun politik, segala sesuatu bisa diplintir. Masing-masing kubu saling mengintai kesalahan lawannya. Kadang kesalahan-kesalahan yang sepele dan remeh. Kubu Prabowo ribut ketika Jokowi ingin “nabok” pelaku fitnah yang mengatakan dia adalah PKI. Akhinya pemfitnah Jokowi ditahan dan akan diadili.

Baik kubu Prabowo maupun Jokowi sebenarnya anti-PKI. Keduanya berlomba menjadi paling anti. Lalu PKI-nya di mana? Nah itu dia. Tidak penting apakah PKI ada atau tidak. Yang penting adalah delusi atau khayalan ini tetap hidup.

Kemudian datanglah bagian yang paling sinis dari politik Indonesia. Aktivis lingkungan Budi Pego menentang tambang emas di daerahnya, Banyuwangi. Tanpa dia tahu, beberapa poster protesnya diisi gambar palu arit. Seperti Jokowi, Budi Pego difitnah. Namun Budi Pego hanya rakyat biasa, dia bukan Jokowi. Karena dia rakyat biasa, Budi Pego harus masuk penjara.

Politik Indonesia jadi seperti, meminjam istilah Gus Dur, anak TK. Kedua kubu tidak hanya berantem habis-habisan. Seringkali, ditengah-tengah berantem, mereka mengadu (wadul) ke pihak ketiga. Pidato Grace Natalie dari PSI tentang Perda Syariah, misalnya, seharusnya jadi ajang baik untuk berdebat tentang haluan Republik ini. Namun itu tidak terjadi. Pidato ini berakhir dengan laporan ke kepolisian. Kayak anak TK berantem, nangis, dan ngadu pada guru atau orang tuanya.

Dari sini kita melihat pidato Prabowo soal GO-JEK. Dalam pidatonya dia bilang, kalau jadi presiden, dia tidak mau anak-anak lulus SMA kerja sebagai pengemudi GO-JEK. Nah, seperti kasus Boyolali, pengemudi GO-JEK pun protes. Mereka mengorganisir (atau mungkin tepatnya: diorganisir) untuk protes kepada Prabowo. Mereka merasa terhina.

Kita mau beranjak sebentar dari rekayasa kemarahan yang sudah terlalu biasa kita lihat dalam politik. Coba kita bertanya: Benarkah pekerjaan Pengemudi ojek online ini akan berdampak seperti yang selama ini didengung-dengungkan?

Beberapa hari lalu, saya mendapati satu tulisan yang menarik di The Jakarta Post. Penulisnya mengingatkan bahwa pekerjaan mengemudi GO-JEK ini bisa menjadi perangkap untuk angkatan kerja Indonesia.

Penulisnya berargumen bahwa dalam jangka panjang pekerjaan ini bisa menjadi “skills trap” (perangkap keahlian/keterampilan). Maksudnya adalah bahwa pekerjaan ini sesungguhnya memerangkap orang untuk tidak memakai keahlian/keterampilan yang dia miliki. Seorang pengemudi GO-JEK akan selamanya menjadi pengemudi GO-JEK. Tidak ada lompatan yang lebih tinggi yang bisa dia capai karena menjadi pengemudi GO-JEK bukanlah karier.

Bahkan pekerjaan tukang, misalnya, adalah karier. Dan karier itu akan meningkat seiring dengan meningkatnya keahlian. Anda mulai dari Latjuba (Laden Tukang Batu—singkatannya dipaksakan banget ), misalnya, dari situ Anda mulai magang ke keterampilan lain, misalnya menjadi tukang kayu. Penghasilan Anda meningkat seiring dengan meningkatnya keahlian Anda.

Jika Anda menjadi pengemudi GO-JEK, keahlian apa yang meningkat?

GO-JEK adalah “gig economy” atau ekonomi yang memberi pekerjaan sementara bagi yang belum menemukan pekerjaan di sektor yang lebih stabil. Gig economy menjadi “stop gap” sebelum orang mendapatkan mendapatkan pekerjaan tetap. Dia tidak dimaksudkan untuk menjadi pekerjaan tetap.

Di sisi lain, konsep awal bisnis GO-JEK adalah konsep “sharing economy“. Idenya adalah bahwa menjadi pengemudi GO-JEK bukanlah pekerjaan utama. Dia sampingan, memanfaatkan ekses terbuang dari kendaraan dan waktu yang tidak terpakai. Ini adalah optimalisasi nilai ekonomis barang dan waktu. Ini sendiri mengandaikan bahwa ada yang kegiatan ekonomi yang pokok. Sharing economy hanya mengoptimalkan.

Memang harus diakui bahwa GO-JEK memberi ekonomi yang besar. Namun, kebesaran ekonomi ini sesungguhnya tidak dinikmati oleh pekerjanya. Hubungan industrial antara pekerja di sektor ini tidak sama dengan di sektor manufaktur, misalnya. Tidak ada jaminan kesehatan. Tidak ada asuransi kecelakaan. Perusahaan tidak bertanggung jawab atas alat produksi—pajak, pemeliharaan, dan penyusutan nilai kendaraan adalah tanggung jawab pekerja.

Tahukah Anda, berapa upah yang diterima pengemudi ojek online per kilometer? Hanya Rp 1.600 saja. Hingga saat ini, sekitar sejuta angkatan kerja Indonesia menggantungkan hidupnya dari pekerjaan ini.

Tentu, pekerjaan ini, seperti halnya pekerjaan lain, adalah pekerjaan yang mulia. Namun, harus ada diskusi yang serius tentang karakter pekerjaan ini dan konsekuensinya bagi ekonomi Indonesia. Juga konsekuensinya bagi lapangan kerja Indonesia.

Angka pengangguran kita boleh rendah (saat ini 5.1 persen). Namun, sepertiga dari angkatan kerja kita hanya bekerja paruh waktu atau underemployed. Itulah sebabnya, sekalipun angka pengangguran rendah, ekonomi kita tumbuhnya datar-datar saja.

Saya kira, di masa kampanye ini kita perlu memiliki diskusi serius tentang ekonomi kita (dan tentang hal-hal lain dalam hidup bernegara kita). Prabowo Subianto mungkin tidak menyampaikannya dengan baik. Namun, membingkainya sebagai sekadar penghinaan terhadap profesi pengemudi ojek online sungguh merendahkan esensi kampanye.

Kampanye adalah arena diskusi publik. Di sini gagasan dan informasi diadu. Pada akhirnya ini adalah satu-satunya kesempatan rakyat untuk membuat keputusan akan masa depan bangsa ini: siapa yang paling baik mengelola negara ini.

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Berita sebelumnyaPemimpin Digital
Berita berikutnyaUmat Muslim Menolak Dikibulin
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.