Minggu, April 11, 2021

Game of Thrones dan Kita

Mengapa Kalian Membenci SJW?

Kadang saya jengkel dengan orang-orang yang mengejek secara berlebihan terhadap apa yang namanya SJW (Social Justice Warriors). Entah karena apa, saya sering bersimpati pada...

Mengapa Kita Meributkan Alfatekah Jokowi?

Presiden Jokowi kembali jadi pergunjingan. Kali ini bukan karena ia langsung turun di daerah bencana, atau menyelesaikan proyek infrastruktur yang mangkrak pada era SBY,...

Ketika Wakil NU-Muhammadiyah Bertemu Paus

Belum lama ini saya membaca berita di portal Republika berjudul “Wakil NU dan Muhammadiyah Temui Paus”. Dalam pemberitaan itu dikabarkan bahwa ada dua orang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...
Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.

April menjadi bulan yang dinantikan oleh banyak penggemar serial Game of Thrones. Tentu saja, karena mereka akhirnya bisa melepaskan rasa rindu atas keberlanjutan kisah dari drama fantasi tersebut setelah menunggu selama hampir dua tahun.  Kabar baiknya, episode pertama pada musim terakhir sudah bisa dinikmati di Indonesia, kemarin (15/4) di stasiun televisi HBO. Tenang saja, saya tidak akan menuliskan bagaimana jalannya episode pertama yang baru tayang tersebut, karena saya sendiri termasuk orang yang tidak suka ‘menceritakan’, lebih baik langsung ditonton saja, agar memiliki perspektif masing-masing.

Secara singkat, drama fantasi Game of Thrones yang diadaptasi dari seri buku karya George R R Martin yang berjudul A Song of Ice and Fire, mengisahkan tentang perebutan kekuasaan para raja dan bangsawan. Selain itu, serial tersebut juga menggambarkan bagaimana strategi taktik menggabungkan klan untuk membentuk pasukan agar mendukung dan melancarkan tujuan politiknya.

Sebagai orang yang mengikuti serial Game of Thrones, tentu saya memiliki alasan tersendiri kenapa saya akhirnya jatuh cinta pada serial ini. Saya menyukai bagaimana cara para tokoh tiap klan di film tersebut melakukan diplomasi dari satu klan ke klan lain. Tak hanya itu, menurut saya serial ini juga berhasil  menggambarkan bagaimana kotornya dunia perebutan kekuasaan atas takhta kerajaan. Serial tersebut juga dengan gamblang menampilkan budaya lama yang amat membuat saya –sebagai milenial– kesal.  Bagian menariknya bagi saya adalah bagaimana drama fantasi tersebut sukses menggambarkan bahwa selalu ada kaum oportunis pada setiap situasi.

Game of Presidency

Hanya tinggal menghitung jam, warga Indonesia akan menentukan siapa yang akan menduduki kursi kepemimpinan untuk periode 2019-2024. Entah memilih untuk melanjutkan kepemimpinan sebelumnya atau menggantikannya dengan yang baru, terserah mereka yang memilih. Sebagai pengikut Game of Thrones dan tinggal di Indonesia –negara yang akan melaksanakan Pemilu serentak– saya melihat kesamaan beberapa istilah dari serial Game of Thrones dan keadaan politik di Indonesia.

Penonton Game of Thrones tentu tidak asing dengan istilah Great Houses. Istilah tersebut dipahami sebagai klan keluarga. Dalam serial Game of Thrones, terdapat banyak klan. Seperti House Stark, klan yang berkuasa di daerah Utara dengan lambang dire wolf, House Lannister dengan lambang singa, yang menjadi penguasa atas Westeros atau Capital of Seven Kingdom, dan masih banyak lagi klan-klan lainnya.

Berdasarkan kisah yang diceritakan pada musim sebelumnya, Jon Snow, yang belakangan diketahui bahwa dia adalah pewaris sah atas Iron Throne, karena dirinya bukanlah anak haram Lord Eddard Stark, melainkan anak dari Rhaegar Targaryen dan Lyanna Stark,  mengajak House lainnya untuk bergabung menjadi koalisi agar dapat melawan pasukan mayat hidup, White Walkers, yang dipimpin oleh Night King. Sedangkan Cersei, yang berasal dari House Lannister, tetap kukuh pada pendiriannya untuk mempertahankan takhta kerajaan Seven Kingdom. Hal itu menyebabkan Jamie Lannister berkuda sendiri menuju Winterfell.

Menurut saya, Great Houses sama seperti partai-partai yang sedang berkontestasi untuk menduduki kursi pemerintahan. Partai-partai ini membentuk koalisi untuk memenangkan kandidat yang mereka usung. Bisa dikatakan, PDI-P menjadi partai terkuat, karena memiliki persentasi elektabilitas tertinggi dengan angka 28,6 persen, kemudian di posisi kedua ditempati oleh Gerindra dengan angka 14, 1 persen. Dua partai di atas bertarung memperebutkan kursi presiden, partai lainnya menjadi partai pendukung dengan bergabung pada salah satu partai terkuat tersebut.

Setelah istilah Great Houses, ada lagi yang memiliki kesamaan, yakni Iron Throne. Iron Throne sendiri merupakan sebuah takhta yang dibuat dari berbagai macam pedang yang diserahkan kepada Raja Targaryen pertama ketika ia menaklukkan dan menyatukan enam dari tujuh kerajaan. Takhta tersebut dirangkai kurang dari 200 pedang yang diletakkan di King’s Landing.

Sepenglihatan saya, orang yang menduduki tahta tersebut otomatis menjadi orang nomor satu dari tujuh kerajaan dan memimpin rakyat. Hal ini sama seperti takhta kepemimpinan presiden di Indonesia. Siapa yang terpilih menjadi presiden nantinya akan menjadi orang nomor satu di Indonesia yang kemudian memimpin seluruh rakyat didataran Indonesia.

Selanjutnya adalah Winter is Coming. Istilah tersebut merupakan jargon dari House Stark. Istilah tersebut memiliki makna kewaspadaan dan peringatan terhadap bahaya yang akan terjadi di depan. Menurut saya kesamaan istilah ini memiliki kesamaan dan cocok dipakai oleh mereka yang tidak memiliki kepercayaan apa pun terhadap pemerintahan. Membuat mereka harus waspada dengan aturan dan segala sistem yang dibentuk nantinya oleh pemenang dalam kontestasi politik. Kalau saya boleh plesetkan, mungkin saya akan mengatakan Pemilu is Coming.

Selain dari istilah di atas. Serial Game of Thrones juga memiliki keadaan politik yang sama dengan keadaan politik Indonesia, yang sedang menjalankan rentetan pesta ‘demokrasi’, yakni gambaran tentang kaum-kaum oportunis yang secara eksplisit ditampilkan pada musim pertama Game of Thrones, di mana peran oportunis ini dilakoni oleh Lord Varys, sebagai pendukung pihak yang mampu mengamankan dirinya dari bahaya. Scene itu terdapat ketika Lord Varys menjelaskan alasannya mendukung kerajaan yang saat itu dipimpin oleh King Joffrey kepada Lord Eddard Stark di tahanan bawah tanah King’s Landing. Saya menilai bahwa orang-orang seperti Lord Varys merupakan satu dari sebagian orang yang oportunis, alias orang yang menempatkan dirinya pada posisi aman, mengambil situasi yang mampu menguntungkan dirinya. Hal ini sama seperti orang-orang yang hanya ‘cari aman’ pada situasi Indonesia saat ini. Orang-orang kaum tengah yang melabelkan dirinya netral.

Namun, secara keseluruhan tentu cerita dalam serial legendaris ini tidak sama dengan Indonesia. Saya bahkan lebih tertarik dan peduli pada siapa yang akan menduduki takhta di Iron Throne, bukan kursi presiden. Walau pun sebenarnya saya tidak menyukai budaya feodal yang melatari serial tersebut, tetapi saya lebih menantikan keberlanjutan kisah pada episode-episode yang akan datang di musim terakhir Game of Thrones ketimbang keberlanjutan kisah dari Pemilu serentak yang akan berlangsung tinggal hitungan jam. Pemilu is Coming!

Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.