OUR NETWORK

Eksisme dan Sebuah Jalan Nyeleneh Demonstrasi

Tetapi sungguh disayangkan sekali karena justru lebih banyak slogan-slogan yang tidak substantif, cenderung omong kosong, murni lelucon, dan mesum.

Ada sebuah fenomena baru di tengah arus demonstrasi yang sedang bergejolak hampir di seluruh kota-kota Indonesia akhir-akhir ini. Bentuk dari fenomena itu adalah bermunculannya slogan-slogan lucu dalam poster atau spanduk yang sebenarnya satire, yang dibawa oleh para demonstran.

Sebenarnya sekali, fenomena ini baik, karena fenomena ini bisa membungkus stereotip yang selama ini dibaca negatif oleh masyarakat awam dengan bungkus baru berbentuk slogan-slogan lucu yang membuat suasana demonstrasi menjadi segar, tetapi tetap tidak menghilangkan eksistensinya sebagai sebuah demonstrasi. Tidak menghilangkan bagian kecil.

Tetapi sungguh disayangkan sekali karena justru lebih banyak slogan-slogan yang tidak substantif, cenderung omong kosong, murni lelucon, dan mesum. Slogan omong kosong dan lelucon, mungkin masih bisa diterima sebagai penyegar dalam demonstrasi, agar sesekali bisa tertawa. Lalu bagaimana dengan slogan yang mesum dan amoral?

Slogan itu misalnya seperti yang sudah viral di media sosial, slogan “Zinahi aku saja, jangan negaraku” yang justru muncul dari universitas berlabel agama dan sudah terklarifikasi benarnya dan sudah meminta maaf. Juga hal itu terjadi di beberapa demonstrasi lain, di Surabaya misalnya.

Sama-sama dari kampus belabel agama, dengan slogan “Susuku gede gak masuk RUU” (payudaraku besar tidak masuk RUU)  atau “Timbang ngurus RUU mending kentu” (daripada mengurus RUU lebih baik seks) dengan dialek yang kasar dalam bahasa jawa. Hanya saja belum ada klarifikasi lanjut soal ini. Parahnya, slogan-slogan itu dibawa oleh mahasiswi.

Prasangka buruknya, mahasiswa-mahasiswi ini turun ke jalan dengan tidak memahami konteks apa yang sedang didemokan dan dituntut. Demonstrasi hanya sekadar ikut-ikutan dan untuk melengkapi kebutuhan update media sosial mereka, bahwa mereka ikut dalam perjuangan untuk rakyat. Semoga prasangka buruk ini tidak benar terjadi.

Prasangka baiknya, bahwa slogan-slogan mesum yang diusung tadi hanyalah sebuah kalimat satire yang berisi sindiran. Misalkan saja soal “payudara” bisa saja itu satire dan bermaksud kenapa tidak sekalian payudara yang mnejadi bagian melekat pribadi dimasukkan ke dalam RUU. Bisa saja memang hal itu benar-benar satire, semoga pula prasangka baik ini benar.

Tetapi, meskipun prasangka baik ini benar, itu justru secara tidak langsung menunjukkan bahwa para mahasiswa itu turun ke jalan dengan argumentasi dan pembekalan intelektualistas yang tidak matang. Mereka tidak membaca situasi, tidak benar-benar menimbang secara matang, apa dampak dari tulisan-tulisan tersebut.

Para mahasiswa itu tidak membaca psikologi masyarakat yang tentunya tidak semua dan justru akan lebih banyak tidak mengetahui maksud kalimat satire itu dan akan berbalik argumentasi dan mencap negatif mahasiswa-mahasiswa itu.Hal itu ternyata benar, unggahan slogan mesum yang viral ternyata direspons negatif oleh khalayak masyarakat dunia maya.

Demonstrasi harus bisa disadari sebagai bentuk aksi intelektual dengan cara turun langsung ke jalan. Proses demonstrasi juga tidak serta merta ada ketidak sepakatan pandangan, bikin slogan-slogan lalu turun. Demonstrasi tidak sesederhana itu.

Demonstrasi harus dimasak dengan metode dan bumbu yang rumit, tujuannya jelas agar benar-benar matang. Ada isu, dilkarifikasi, membaca sumber asli, dibandingkan dengan banyak referensi, dibandingkan dengan referensi lain, dibenturkan dengan realita diadu dengan data, diskusi dengan sesama mahasiswa, dosen atau pihak lain, dan dimatangkan. Lalu membangun argumentasi ilmiah atas pernyataan yang akan dituntut.

Dalam tahapan itu pun juga harus dihitung dari segi akademis apapun, ekonomi, politik, sosiologis, psikologis, komunikasi dan yang lain. Karena mau atau tidak, semuanya akan berhadapan dengan hal itu semua, mahasiswa turun di jalan tidak seorang diri, mereka berhadapan dengan ruang dan waktu nyata, juga maya. Banyak masyarakat yang tentu dengan latar usia dan pemikiran beragam, belum lagi arus informasi begitu deras di dunia maya yang bisa saja dibaca dan dikaji oleh manusia dari luar negara dengan kultur yang bisa jauh berbeda.

Itu pun baru tahap mula, belum nanti harus mengkoordinasi bagaimana mekanisme di Jalan, yel-yel apa yang akan disuarakan, tuntutan apa yang akan dikeluarkan, orasi ilmiah apa yang nanti akan diteriakkan, siapa yang melakukan, jam berapa, harus melakukan apa, belum lagi hal lebih detail lain seperti pakaian apa, konsumsi, transportasi dan sebagainya. Bahkan prediksi terjadi benturan juga harus dihitung, apa yang harus dilakukan, persiapan medis, sampai jalur evakuasi juga harus matang dimasak. Termasuk prediksi akan ditunggangi oleh kelompok kepentingan mana, juga harus dikaji.

Lalu sebenarnya apa yang terjadi dengan demonstrasi mahasiswa yang terjadi sekarang dengan slogan-slogan tidak biasa, cenderung anen, dan banyak juga yang mesum? Jika prasangka baik benar, menjadi hal yang buruk, mahasiswa masih setengah matang memasak. Dan jika prasangka buruk yang benar, harus putar haluan dan mencari jalan lain.

Demonstrasi tidak pernah sederhana, segalanya rumit dan harus benar-benar dimasak dengan matang. Agar substansi dari demonstrasi yang dilakukan benar-benar jelas dan bisa menghantam pemerintah dengan bangunan kokoh argumentasi yang diteriakkan dengan lantang.

Eksisme dalam berjalannya dunia sekarang memang sulit untuk bisa dihindari, dan eksisme bisa jadi bisa menjadi alat propaganda baru. Tetapi eksisme juga harus dibangun dengan kesadaran yang sangat kuat. Setidaknya yang terbangun dari demonstrasi adalah bangunan baik, tanpa lumut-lumut kotor menyelimuti.

Pegiat Literasi, pecinta gunung dan kopi, terlahir di gresik, lulusan Filsafat Politik Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…