Sabtu, Januari 23, 2021

Delusi tentang Kehendak Tuhan pada Pilpres

Hari Prabangsa Nasional, Bukan Hari Pers Nasional

Tak hanya Ba'asyir dan Robert Tantular, rupanya 2019 adalah tahun penuh berkah untuk para kriminal, tapi penegakan hukum untuk kasus kekerasan pada wartawan banyak...

Indonesia Maju Tak Lepas dari Pendidikan!

Ada pepatah yang mengatakan bahwa untuk membangun suatu bangsa, maka faktor yang paling penting adalah membangun manusianya. Hal ini tentu sangat sesuai dengan Undang-Undang...

Mengembalikan Kehormatan Presiden

Jangan menyiram bensin pada api yang berkobar. Padamkanlah api itu dengan hati, bukan pakai polisi. Bagaimana seorang pemimpin seharusnya? Bagaimana kekuasaan itu digunakan? Jika pertanyaan...

Riba Dilarang, Bunga Bank Boleh? Tanggapan untuk Mun’im Sirry [2-Habis]

Artikel ini lanjutan dari tulisan sebelumnya Riba Dilarang, Bunga Bank Boleh? Mun'im Sirry: Secara khusus, Prof. Hosen berargumen bahwa larangan riba itu terkait transaksi perorangan sebagai...
Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.

Teman saya seorang pendukung Prabowo. Ia tampak yakin bahwa Prabowo akan menang dalam Pilpres 2019. Orang yakin boleh-boleh saja, tapi ada beberapa hal yang membuat saya tersenyum melihatnya. Dari berbagai tulisannya saya lihat ia tidak hanya yakin bahwa Prabowo akan menang, ia yakin bahwa Tuhan menghendaki Prabowo menang.

Bagaimana kita tahu kehendak Tuhan? Kita tidak tahu, dan tidak mungkin tahu. Tapi sangat banyak orang yang merasa tahu. Orang yakin soal-soal yang menyangkut Tuhan. Itulah yang disebut delusi.

Teman saya tadi yakin bahwa Prabowo akan menang. Makanya ia tak peduli pada hasil-hasil survei yang menunjukkan rendahnya elektabilitas Prabowo. Ia percaya bahwa kalaupun hasil survei itu benar, Tuhan punya cara untuk mengubahnya. Bagaimana caranya? Ini yang agak menyedihkan saya. Waktu terjadi bencana gempa dan tsunami di Palu dia menulis kemungkinan bencana ini adalah kehendak Tuhan, dalam rangka membuat popularitas Jokowi turun, guna memenangkan Prabowo.

Teman saya ini tidak sendiri. Ada banyak orang yang berpikir begitu. Gempa Lombok, Palu, dan berbagai bencana lain yang menimpa negeri ini dimaknai sebagai cara Tuhan untuk menjatuhkan Jokowi.

Mari bayangkan lebih detail. Tuhan yang pada tahun 2014 memenangkan Jokowi, atau setidaknya membiarkan Jokowi menang Pilpres, kini sampai perlu mendatangkan bencana yang membunuh ribuan orang, hanya untuk mengalahkan Jokowi. Tuhan macam apa ini? Kalau kita pertanyakan dengan cara itu, orang seperti ini akan berkilah, bahwa Tuhan mahaberkehendak, dan Ia berkehendak sesuka-Nya. Kalau Tuhan berkehendak, apa pun bisa terjadi, kata mereka. Ini sama sekali bukan soal misteri tentang kehendak Tuhan. Ini hanya soal delusi mereka yang sudah sangat parah.

Itu masih belum seberapa. Banyak dari mereka yang yakin bahwa Tuhan bahkan tidak menghendaki Jokowi menang pada Pilpres 2014 yang lalu. Bagaimana mungkin Jokowi bisa menang padahal Tuhan tidak menghendakinya? Kata mereka, Jokowi menang karena dibantu oleh kekuatan jahat yang mendukungnya. Waduh, berarti ada kekuatan lain yang lebih kuat dari kekuatan Tuhan?

Delusi memang mematikan akal sehat. Delusi punya mekanisme untuk mematikan akal sehat. Kalau delusi mereka tentang Tuhan tidak masuk akal, tidak masalah. Tuhan memang tidak mengikuti akal manusia, kata mereka. Iya. Tapi dalam delusimu itu, Tuhan justru tampak mengikuti kegilaanmu!

Sebentar. Kalau kita mengatakan bahwa sangkaan mereka tentang Tuhan tadi keliru, bukankah sama saja? Artinya, kita juga tidak tahu apa kehendak Tuhan, bukan? Artinya kita juga tidak bisa memastikan bahwa sangkaan mereka tentang kehendak Tuhan tadi salah. Betul. Kita tidak tahu. Tidak seorang pun tahu.

Yang kita kritik adalah soal gagasan tentang kehendak Tuhan tadi bukan kebenaran atau kesalahan isinya. Tapi sikap delusional, yang sok tahu tentang apa kehendak Tuhan itu. Kita sama-sama tidak tahu. Jadi siapa pun yang bersikap sok tahu, itu salah.

Jadi sebaiknya bagaimana? Karena kita sama-sama tidak tahu, tentu tidak perlu kita bahas soal apa dan bagaimana kehendak Tuhan. Ringkasnya, tidak perlulah membawa-bawa Tuhan dalam urusan ini. Tapi apakah berarti Tuhan tidak campur tangan dalam urusan Pilpres ini? Jawabannya sama, kita tidak tahu, tidak seorang pun tahu.

Pendukung Prabowo tentu bukan satu-satunya pihak yang delusional. Pendukung Jokowi pun banyak yang begitu. Pendukung Jokowi pun percaya bahwa Tuhan memang menghendaki Jokowi menang di tahun 2014, dan akan menang lagi di tahun 2019. Banyak yang melihat tanda-tanda, sebagai isyarat kehendak Tuhan.

Kedua pihak mengalami delusi. Mungkin sumber delusinya bukan pada pilpres, tapi pada kepercayaan pada Tuhan itu sendiri.

Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.