Kamis, Maret 4, 2021

Dari Wiranto, Akbar, Randi, ISIS, Sampai Wamena

Jangan Jadi Pendidik Expired

Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2020, saya tertarik mengulas tentang tradisi membaca dan menulis yang kemudian saya kaitkan dengan tugas pendidikan...

Simbol Salib pada Nisan dan Ketakutan akan Masa Depan

Seorang warga Katolik meninggal di Kotagede, Yogyakarta. Ketika hendak dikuburkan, keluarganya tidak diperkenankan untuk memasang tanda salib di atas kuburannya. Akhirnya, keluarga yang meninggal...

Ironi Deklarator KAMI di Tengah Pandemi

Terik mentari Jakarta menggigit kulit. Tapi sejumlah tokoh "oposisi" berkumpul di Tugu Proklamasi, Jakarta, mendeklarasikan pembentukan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Selasa (18/8/2020) --...

Surat Terbuka untuk Susi Pudjiastuti Tentang Tuduhan Sampah Plastik di Pulau Tabuhan Banyuwangi

Perkenalkan bu. Nama saya Rachmawati. Tapi biasa dipanggil Iraa dengan doubel a di belakang. Sederhana karena saya suka matatahari. Di Yunani, masyarakatnya menyebutnya Raa....
Robby Karman
Sekjen DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) 2018-2020

Percobaan pembunuhan dengan sebilah pisau yang menimpa Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto (10/10/2019), menjadi topik pembicaraan hangat hari-hari ini. Tersangka pelaku penusukan yang dipanggil Abu Rara beserta sang istri disinyalir anggota jaringan Islamic State of Iraq and Syam (ISIS).

Merespon hal itu Presiden Jokowi dengan segera menyerukan perang melawan radikalisme. Respon warganet terbelah terkait insiden yang menimpa purnawirawan TNI tersebut. Ada yang berduka dan mengecam pelaku penusukan, sembari mengamini seruan presiden untuk memerangi radikalisme. Namun ada juga yang malah menganggap bahwa insiden ini hanya rekayasa dan drama. Ada juga yang membandingkan apa yang dialami Wiranto dengan kejadian di Wamena Papua.

Bagi kelompok kedua, mereka tidak terlalu simpatik dengan seruan perang melawan radikalisme yang diserukan presiden. Mereka lebih fokus melihat hal lain semisal ketidakadilan pemerintah. Mereka juga menolak jika pelaku penusukan dikaitkan dengan satu agama. Misalnya dalam akun twitternya Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid membagikan berita bahwa pelaku penusukan ternyata tidak religius.

Nah, di sini penulis ingin mencoba menguraikan benang kusut mengenai isu radikalisme yang kembali mencuat pasca insiden ini. Radikalisme bukan hal yang baru diperbincangkan, namun isu ini kerap menjadi bola liar yang menggelinding. Perlu ada pihak yang menjernihkan seputar radikalisme agar bisa ditangani secara benar dan juga tidak disalahgunakan oleh kelompok tertentu.

Kita mulai dari definisi radikalisme itu sendiri. Sudahkan seluruh komponen bangsa sepakat dengan apa yang dimaksud dengan radikalisme? Harus kita akui bahwa secara bahasa radikal diambil dari kata radix yang berarti akar. Filsafat berarti berfikir secara radikal, yakni mengakar dan mendalam. Jika menggunakan pendekatan etimologis maka radikalisme sama sekali tak masalah, malah bagus.

Namun tentu yang dimaksud radikalisme di sini bukanlah pengertian secara bahasa. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, radikalisme didefinisikan sebagai : 1 paham atau aliran yang radikal dalam politik; 2 paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; 3 sikap ekstrem dalam aliran politik.

Ada dua kata kunci yang kita dapat dari definisi radikalisme menurut KBBI, yakni cara kekerasan dan sikap ekstrem. Dua hal tersebut yang menjadikan radikalisme menjadi sebuah masalah. Artinya seseorang bisa disebut radikal tidak dilihat dari pandangan politiknya, namun dari caranya memperjuangkan pandangannya.

Realitasnya di lapangan banyak kelompok Islamis yang terkena stempel radikal hanya karena mengekspresikan pandangan politiknya, bukan karena melakukan kekerasan. Bahkan yang lebih parah ada juga yang dituduh radikal hanya karena penampilan lahirnya saja, misalnya bercadar, berjenggot lebat atau bercelana cingkrang.

Bahkan sekarang mulai trend sebutan kadal gurun, yang merupakan ejekan terhadap kelompok Islamis. Penulis lebih setuju kelompok yang memang menganut Islam politik disebut sebagai Islamis saja agar objektif. Jika diantara mereka ada yang melakukan kekerasan barulah disebut radikal.

Ada paradoks yang cukup menarik penulis amati. Ada kelompok Islam yang bernama salafi, salah satu varian dari kelompok ini mengharamkan demonstrasi dan mewajibkan taat kepada pemerintah selama masih mengizinkan beribadah. Bagi kelompok ini yang kritis dengan pemerintah adalah khawarij.

Namun tetap saja kelompok ini kena tuduhan radikal oleh pihak yang menganggap salafi ini suka membid’ah-bid’ahkan amalannya. Selain itu karena memang pemahamannya sangat tekstual yang diaplikasikan ke dalam penampilan seperti yang penulis sebutkan di atas.

Tentu penulis juga mengajak kepada kawan-kawan Islamis agar tak mudah mengumbar label-label seperti anti Islam, munafik, liberal, antek dajjal kepada yang bukan Islamis. Alquran melarang kita untuk “tanaabuz bil alqaab” saling mengejek dengan gelar-gelar yang jelek. Jika mau beradu argumen ya adu saja argumen tanpa harus lahir sebutan-sebutan semacam itu.

Seharusnya persoalan definisi ini bisa didudukkan dan disepakati bersama. Pemerintah dapat mengundang seluruh komponen masyarakat baik yang dalam posisi mendukung pemerintah maupun oposisi, baik yang nasionalis sekuler maupun Islamis untuk menyepakati hal ini.

Mudah-mudahan jika definisi radikalisme disepakati maka saat ada tindakan radikal dan teroris semua pihak akan satu suara, tak ada lagi suara-suara membela diri karena merasa tertuduh teroris juga.

Kelompok Islamis juga harus lapang dada jika memang ada oknum Islamis yang melakukan tindakan radikal. Serahkan kepada hukum yang berlaku dan tak perlu berjiwa korsa terhadapnya. Karena Islam memang tidak mengajarkan sikap ekstrem dan kekerasan dalam kondisi normal. Pelaku terror itu justru yang merusak Islam dari dalam.

Selanjutnya adalah perang melawan radikalisme akan menimbulkan perlawanan bahkan dari yang tidak radikal jika masih ada ketidakadilan. Sikap tidak simpatik kepada Wiranto oleh sebagian warganet bukanlah tanpa alasan. Ada yang mempertanyakan bagaimana kejelasan kasus kematian para demonstran, misalnya Randi dan Yusuf di Sulawesi Tenggara terakhir Akbar Alamsyah yang menurut pengakuan ibunya telah mengalami penyiksaan.

Kemudian kasus Wamena dimana telah terjadi pembunuhan secara sadis terhadap penduduk Minang dan Bugis. Narasi yang dikeluarkan pemerintah lebih banyak meredam agar tidak menjadi konflik SARA. Penulis setuju dengan hal ini, kita tak boleh mengulangi tragedi Ambon atau Sampit. Namun pemerintah tak boleh lupa dengan keadilan, bagaimana proses hukum kepada para kelompok bersenjata tersebut.

Jika pemerintah mau terbuka dan berkomunikasi secara aktif kepada rakyat terkait proses hukum pelaku pembunuhan mahasiswa dan pembantaian di Wamena penulis pikir rakyat bisa simpatik dengan pemerintah. Namun jika masih ada ketidakadilan dalam penanganan kasus hukum antara satu dengan lainnya penulis justru khawatir radikalisme semakin sulit ditangani.

Robby Karman
Sekjen DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) 2018-2020
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.