Minggu, Maret 7, 2021

Dahnil dan Cak Nanto, Pemuda Muhammadiyah Berkemajuan

Gentaskan Pembelokan Sejarah di Indonesia

Merespon banyaknya ketakutan yang dimiliki Indonesia dan warganya, saya mencoba untuk mengulas kembali sejarah yang menjadi momok mengerikan di Indonesia. Lucu, karena negara luas...

Gaffe Prabowo Subianto dan Politik Identitas

Mungkin Anda tidak terlalu kenal dengan istilah "gaffe". Kata bahasa Inggris ini artinya kurang lebih "salah omong sehingga memalukan si pembicara". Dalam politik, salah...

Virus, Demit, Dokter, dan Musyrik

Satu cerita menarik dari allahuyarham Prof Dr dr Kabat bin Muarip famili dekat, tetangga dari kampung sebelah. Saat praktik sebagai dokter muda setelah lulus dari...

Kesehatan Mental Usaha Menghapus Stigma Di Dalamnya

Saya tak pernah menyangka bahwa depresi itu dekat dan nyata. Selama ini di media sosial, anggapan bahwa seseorang memiliki gangguan kesehatan mental hanya usaha...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Realitas menyebut, ada sebagian yang tidak bersetuju dengan gaya kepemimpinan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah sekarang, Sunanto atau Cak Nanto, hanya karena tidak mengikuti pendahulunya yang masuk dalam ranah politik praktis mendukung salah satu calon presiden. Maka ikhtiar untuk membawa pemuda ke jalan tengah dianggap melawan logika politik sebagian yang sudah kadung masuk pada wilayah politik praktis.

Setiap pemimpin punya era. Termasuk bang Dahnil Simanjutak yang sukses membangun ghirah Pemuda Muhammadiyah dikala pergerakan pemuda Indoenesia mati suri. Bahkan gerakan mahasiswa di kampus-kampus juga mengalami kebekuan akut. Hilang spirit tanpa ruh.

Di bawah Dahnil, Pemuda Muhammadiyah menemukan bentuknya sebagai organisasi yang solid, terbuka dan tegas melawan kemapanan. Dahnil menjadi simbol perlawanan kaum muda, meski masih begerak masif di internal Muhammadiyah, setidaknya saat itu, menjadi ikon yang menginspirasi perubahan dan orientasi gerakan yang idealis. Khas gaya anak muda.

Namun, Dahnil menerabas tabu. Terseret jauh gelombang arus politik praktis. Daya kritis nya menjadikannya sebagai oposan. Dan kemudian dibuktikan dengan menjadi juru bicara Tim Kampanye salah satu capres di saat masih aktif sebagai Ketua Pemuda hal yang masih belum lazim di Persyarikatan. Pro-kontra terjadi dan puncaknya adalah pada saat muktamar pemuda di Jogja. Dua arus besar bertemu dalam gelombang persaingan yang alot, tapi tetap elegan.

Sunanto adalah jawaban kegelisahan itu. Sebab tak dipungkiri ada sebagian yang kurang suka dengan gaya bang Dahnil yang jauh menyeret ke ranah politik praktis. Di sinilah rumitnya sebab ada yang berpendapat bahwa yang dilakukan bang Dahnil semata ijtihad politik untuk menerabas tabu, dan memecah beku. Lantas dimana salahnya.

Tidak perlu dicari salah. Dan tak perlu membandingkan gaya kepemimpinan keduanya. Apalagi menjadikan sikap dukungan terhadap salah satu capres sebagai indikatornya, ini lebih naif lagi. Apakah karena tidak menunjukkan sikap tegas mendukung salah satu capres lantas kita sentakkan gaya Sunanto lembek atau sebaliknya. Apakah Sunanto harus mengikuti jejak dan sikap kepolitikan seniornya agar bisa dianggap benar seluruhnya.

Sunanto mungkin sedang berikhitiar menjadikan pendulum pemuda kembali ke tengah setelah sebelumnya bergerak terlalu ke kanan. Membangun keseimbangan dan merujuk pada Khittah bahwa Pemuda Muhammadiyah bukan partisan salah satu partai. Ini pun juga perlu nyali, sebab tantangan pasti menghadang. Tapi Sunanto terus jalan dengan keyakinannya. Kokoh di jalan Khittah. Khas anak muda pemberani melawan arus dan logika kebanyakan.

Bagaimanapun keduanya saya suka. Dahnil dan Sunanto adalah representasi pemimpin Muhammadiyah masa depan. Kokoh pegang prinsip perjuangan Persyarikatan, dengan gaya, kekuatan dan potensi yang melekat.

Sekali lagi, tidak perlu membandingkan untuk mencari titik lemah diantara keduanya. Bukankah setiap pemimpin punya era. Era Dahnil telah lewat dengan penuh dinamika dan perkembangan yang menawan. Dijemput era Sunanto, ikhtiar kembali pada Khittah, kita dukung dan doakan semoga lebih baik dari era sebelumnya. Selamat Milad ke 88. Wallahu ta’ala a’lam

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.