OUR NETWORK

Covid-19 dan Eksistensi Agama: Tanggapan untuk Luthfi Assyaukanie

Sebagai penganut agama, penulis lebih tertarik untuk menyorotinya dari perspektif keagamaan. Titik tolaknya adalah keyakinan “iman”, namun dengan menempatkannya pada ketentuan yang tepat dan moderat.
Foto: Pinterest

Momentum awal tahun baru saja lahir beberapa bulan yang lalu. Ada yang berbeda, kali ini gegap gempita tentang perayaan dengan segenap asa dan cita-cita bertukar menjadi kecemasan, kegelisahan dan ketakutan. Tahun 2020 seakan-akan menua sebelum waktunya.

Wajah dunia saat ini memang lagi dikejutkan oleh ancaman pandemi corona (Covid-19). Akhir 2019 tepatnya bulan Desember setelah terungkap, wabah yang berasal dari Wuhan tersebut terus meradang; menerjang batasan-batasan teritorial, menjangkiti sesiapapun tanpa mengenal etnis, negara, budaya, agama, dan bahkan usia.

Fenomena global ini sungguh telah menyita perhatian publik. Beragam asumsi bermunculan, segudang spekulasi bertebaran, pendekar teori konspirasi menyeruak ke permukaan, dan tak ketinggalan para penganut mazhab “cocoklogi” pun ikut-ikutan. Melalui kesadaran kolektif, kita tentunya tidak ingin terjebak dalam pusaran arus yang belum teruji kebenarannya, apatah lagi sebagiannya sudah termuntahkan dengan sendirinya.

Sebagai penganut agama, penulis lebih tertarik untuk menyorotinya dari perspektif keagamaan. Titik tolaknya adalah keyakinan “iman”, namun dengan menempatkannya pada ketentuan yang tepat dan moderat.

Di tengah merebaknya wabah, entitas keagamaan pun ikut terseret dalam arus kontestasi sudut pandang yang beragam; mulai dari kalangan yang mereduksi peranan tuhan seperti free will (qadariyah), menghilangkan dimensi rasional agama dengan berpasrah diri bukan pada tempatnya seperti fatalistik (jabariyah), dan juga yang membenamkan keberadaan tuhan seperti ateistis (ilhadiyah).

Kedua kalangan yang pertama agaknya telah mendapat tanggapan dan kritikan yang memadai dari sejumlah pakar kesarjanaan. Tulisan ini secara spesifik lebih memusatkan perhatiannya pada kalangan yang terakhir.

Beberapa hari yang lalu, sebuah tulisan yang cukup tendensius mendarat di laman sosial dengan mempertanyakan keberadaan tuhan di tengah wabah. Dalam cacatannya tersebut, si penulis menunjukkan kekecewaannya karena tuhan dianggap kehilangan eksistensinya. Wabah terus merajalela, sementara tuhan diam seribu bahasa. Agama adalah fiksi, begitulah akhirnya ia berkesimpulan. Dia adalah Luthfi Assyaukanie. Dulu pernah bersama Ulil Abshar Abdalla ketika mengasuh laman Islamlib dan sekarang ia berpindah atap ke Qureta.

Postingan tersebut tidak bertahan lama. Entah kenapa Luthfi menghapusnya? Yang jelas kemudian hari ia menggantikannya dengan narasi yang lebih panjang namun dengan substansi yang sama.

“Tidak ada fiksi yang lebih dahsyat dari agama”, ia kembali menegaskan dalam tema pembahasannya. Kali ini Luthfi mencerna agama melalui saluran pikirannya sejarawan asal Israel. Penulis buku fenomenal Sapiens dan Homo Deus, Yuval Noah Harari.

Agama kutipnya dari pandangan Harari, adalah sebuah cerita tentang hal-hal yang tidak bisa ditanggulangi manusia. Ketika manusia merasa lemah, dia menciptakan sebuah cerita tentang sesuatu yang maha-perkasa. Luthfi merasa tercerahkan. Seperti baru menemukan bongkahan kebenaran absolut yang telah lama hilang.

Terus terang, Luthfi sama sekali tidak mengutarakan isu yang baru. Pandangan yang demikian memang fenomena yang telah muncul dan tenggelam dalam samudra filsafat. Dalam postingan tersebut, nampaknya Luthfi terjebak pada dua teori yang bersumber dari asumsi rapuh dan telah banyak diperdebatkan. Teori shalah dan ashlah (kewajiban tuhan untuk melakukan yang terbaik) nya Mu’tazilah dan teori evolusinya Darwin.

Sikap Luthfi yang menentukan bagaimana idealnya tuhan bertindak sudah keliru sejak dalam pikiran. Sebagaimana pengandaian Luthfi, jika memang tuhan ada, maka wabah corona akan berhenti, namun realita sebaliknya maka tuhan tidak ada.

Luthfi berangkat dari premis logical fallacy (mughalathat) sehingga kesimpulan (natijah) nya pun cacat dan membingungkan. Seandainya memang demikian, mengapa Luthfi baru mempertanyakannya pada polemik wabah?

Tidakkah Luthfi juga sekalian mempertanyakan mengapa tuhan tidak menjauhi manusia dari segala bentuk kecelakaan. Jika memang tuhan wajib memperlakukan yang terbaik untuk makhluknya, tidak ada manusia yang sakit walau sekecil apapun.

Persepsi tersebut bertolak dari teori shalah dan ashlahnya Mu’tazilah. Ia memang sempat mengudara namun akhirnya tumbang. Sebagaimana terekam dalam literatur ilmu kalam (teologi), Abu Hasan al-Asya’ri berhasil menguji kecacatan teori tersebut di depan ayah tirinya al-Jubba’i, pelopor Mu’tazilah. Al-Jubba’i pun bungkam. Sayangnya, Luthfi kembali terperangkap dalam teori yang telah usang dan lapuk dimakan rayap.

Parahnya lagi, pun konsepsi tersebut pada dasarnya bermasalah dan keliru, Mu’tazilah sama sekali tidak menjadikannya sebagai medium untuk menafikan keberadaan tuhan. Mu’tazilah dalam tradisi intelektualnya -sekalipun terkadang keliru- justru bertujuan untuk mensucikan eksistensi tuhan itu sendiri. Luthfi meminjam teori tersebut justru untuk dipergunakan sebaliknya.

Pada hakikatnya, Luthfi gagal memahami bahwa dalam prinsip keimanan, tuhan memiliki kekuasaan (qudrah) dan kehendak (iradah) yang absolut. Fenomena wabah Covid-19 yang mendunia saat ini bukannya untuk mencurigai keyakinan pada agama, tapi justru sebaliknya untuk membunuh rasa skeptisisme terhadap eksistensi tuhan itu sendiri.

Di satu sisi, wabah di tengah kepongahan dan keangkuhan manusia memberikan pesan mengenai keberadaan zat absolut yang maha kuasa dan maha berkehendak. Sekali lagi, Luthfi nampaknya belum berhasil membaca sinyal-sinyal tersebut.

Manusia sekalipun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi harus tetap merawat “kesadarannya” sebagai makhluk ciptaan tuhan secara ontologis. Konsepsi keterasingan manusia (alienasi) justru terletak manakala ia mengalami keterasingan pada aspek metafisik (ketuhanan).

Tersesat jalan dan lupa ingatan terhadap pengakuannya di alam ruh (bukankah aku tuhan kalian, mereka (roh manusia) mejawab, betul engkau tuhan kami, kami bersaksi. QS; 7:172) yang eksistensi sebenarnya sebagai manusia beragama “homo-religius”, bukan manusia material “homo-sapiens” apalagi manusia tuhan “homo-deus”.

Dalam bukunya Sapiens, Yuval Noah Harari memang telah menulis di akhir pembahasan dengan tema kecil “Tamatnya Homo Sapiens dan Sesudah itu; Binatang yang Menjadi Tuhan”. Ketergantungan manusia dahulu dengan agama dianggap karena belum mampu menaklukkan alam. Sekarang manusia dianggap adalah tuhan itu sendiri melalui kekuatan pengetahuan dan perkembangan teknologi.

Pandangan Harari tersebut sebenarnya bukan hal baru. Ia hanya mengembangkannya dari teori tokoh sebelumnya seperti Richard Dawkins dan Sigmund Freud; yang berupa asumsi manusia belaka, tak terlepas dari kritikan tajam. Anehnya, Luthfi nampaknya sangat mengagumi pelbagai teori tersebut layaknya sebuah kebenaran absolut.

Sikap Luthfi tersebut teringat kisah yang dikemukakan oleh Goenawan Muhammad dalam cacatan pinggirnya. Suatu ketika, seorang pelajar dengan begitu bangganya menulis pada sebuah dinding bangunan “Nietzsche; Tuhan telah mati”. Ia begitu mengaguminya. Namun di hari kemudian gurunya pun membalas. Dengan nada sindiran, tepat di bawah tulisan si pelajar tersebut gurunya pun menulis “Tuhan; Nietzsche telah mati”.

Saya tidak tahu, adakah Luthfi adalah pelajar tersebut? Semoga bukan.

Berdarah Aceh. Pernah menimba ilmu di bumi Kinanah Mesir, Universitas al-Azhar. Suka bercengkerama dengan buku. Peminat Kajian Filsafat, Sejarah dan Pemikiran Islam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…