Senin, Maret 1, 2021

Corona, Manusia, dan Semesta

Menyikapi Revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan

Perhelatan kontestasi politik telah usai, ada yang menang ada yang menjadi pecundang. Kini, geliat elit-elit masing-masing pihak mulai bersolek diri kembali, sudah diterangkan sejak...

Gaffe Prabowo Subianto dan Politik Identitas

Mungkin Anda tidak terlalu kenal dengan istilah "gaffe". Kata bahasa Inggris ini artinya kurang lebih "salah omong sehingga memalukan si pembicara". Dalam politik, salah...

Saat Demokrasi Membuai: Sayap Kanan dan Sayap Kiri Melebur

Dua tahun silam saya pernah menulis sebuah catatan pendek di laman Facebook. Catatan pendek itu terinspirasi dari diskusi alot dengan salah seorang pelajar Rusia...

TVRI, Televisi Tanpa Visi?

Dunia pertelevisian di Indonesia pernah mencapai puncaknya, yaitu saat frekwensinya dibuka untuk penyiaran TV swasta. Sejak itulah para pebisnis TV swasta bersaing merebut uang...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

KH Aqil Siraj, Ketua PBNU dalam acara Jendela Ramadan-nya Dedi Corbuzier di NetTV Jumat dini hari lalu menyatakan: pandemi corona adalah peristiwa alam. Bukan bencana nonalam seperti dalam UU Kebencanaan.

Saya setuju. Kenapa pandemi ini dahsyat? Kita ingat hukum aksi reaksi dari Newton. Juga hukum keseimbanga kimia Lavoisier.

Setiap ada aksi pasti ada reaksi. Reaksi itu terjadi untuk nencari keseimbangan baru. Pandemi corona yang dahsyat adalah sebuah reaksi dari aksi yang dahsyat tadi.

Pencemaran lingkungan (darat, udara, laut), hancurnya hutan, rusaknya biodiversitas; ditambah keserakahan manusia dan eksploitasi alam berlebihan, menyebabkan virus corona yang semula “tidur” di habitat (reservoir)-nya tiba-tiba terbangun. Ketamakan manusia yg membangunkan “virus corona ganas” ini dari kenyamanan tidurnya. Di tubuh kelelawar, kalong, dan binatang liar lainnya.

Ketika corona terbangun, koloni corona pun mencari tumpangan (inang) untuk hidup. Akibat kerusakan hutan dan polusi, inang-inangnya — makhluk liar di alam bebas — banyak yang mati. Gantinya, manusialah jadi sasarannya. Dijadikan inang.

Tak seperti kelalawar, tubuh manusia bereaksi keras ketika jadi inang corona. Apa yg disebut pandemi sebetulnya reaksi corona akibat ulah manusia yang merusak habitatnya.

Itulah mekanisme hukum alam. Aksi terhadap alam yang sudah rusak menjadikan reaksi alam pun demikian dahsyat. Solusinya, tak cukup sekadar social distancing. Tapi juga natural conserving. Kembalikan koloni corona pada habitat alamnya.

Tanami aneka pohon setiap jengkal tanah kosong. Biarkan organisme tumbuh di pohon-pohon yg menghijau di lingkungan itu.

Dalam sekala besar, hutankan kembali lahan-lahan yang rusak. Hijaukan bukit-bukit yang gersang. Bangunlah tempat-tempat yang nyaman untuk koloni corona.

Di sanalah koloni corona akan tertidur. Tak mengganggu manusia. Istilah Pakde Jokowi, berdamailah dengan corona. Corona akan nyaman di habitatnya. Manusia pun nyaman di habitatnya.

Jika sudah berdamai, niscaya pandemi tak ada lagi. Masing-masing spesies hidup di dunianya yg asyik dan spesifik.

Ingat: semesta corona dan manusia berbeda. Naturally, tidak saling mengganggu. Masing-masing hidup di alamnya. Dengan hukum-hukum alam yang menyertainya.

Bencana akan terjadi jika dua spesies itu — homo sapiens dan virus corona “berinteraksi” di alam yang “lain”. Manusia menyebutnya, perang melawan corona. Sedangkan corono, tak tahu, apa itu perang. Ia sekadar ingin survive.

Mereka sekadar mencari habitat untuk mempertahankan hidupnya. Mereka juga tak tahu kalau manusia menderita karena keberadaan koloni di saluran pernafasannya. Maklumlah, hanya di tempat itulah corona bisa mempertahankan hidupnya. Tak ada tempat lain. Sedangkan manusia bisa hidup di spektrum alam yang beragam. Makan segala macam. Jauh lebih rakus dan serakah ketimbang corona.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.