Senin, Januari 25, 2021

Corona, Manusia, dan Semesta

Prabowo Menhan Terlembek dalam Sejarah RI

Di zaman Menteri Susi Pudjiastuti, nelayan asing terkaing-kaing. Mereka yang mencoba mencuri ikan, bergidik ketakutan. Emak perkasa, putri laut, seorang patriot, yang senantiasa menjaga...

Tak Mungkin Mengajarkan Kerbau Mengaum dan Menerkam

Di tengah langit yang sedang muram dan ambyar ini, tiba-tiba saja terdengar kabar, tuan muda Demokrat mencak-mencak. Awalnya dari status Denny Siregar yang menyindir...

Pendidikan Ekonomi ala Jokowinomics

Setelah gagasan membuka Fakultas Media Sosial, Jurusan Meme, atau Fakultas Ekonomi Digital, Jurusan Toko Online, kini Presiden kembali dengan gagasan baru yang tak kalah...

Cerdik, Bukan Auto-Baik

“Apakah Jokowi itu orang yang baik?” Selain bukan hal sederhana untuk dijawab, pertanyaan tersebut telah berkontribusi membelah publik dalam menyikapi posisi politik Jokowi berkenaan...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

KH Aqil Siraj, Ketua PBNU dalam acara Jendela Ramadan-nya Dedi Corbuzier di NetTV Jumat dini hari lalu menyatakan: pandemi corona adalah peristiwa alam. Bukan bencana nonalam seperti dalam UU Kebencanaan.

Saya setuju. Kenapa pandemi ini dahsyat? Kita ingat hukum aksi reaksi dari Newton. Juga hukum keseimbanga kimia Lavoisier.

Setiap ada aksi pasti ada reaksi. Reaksi itu terjadi untuk nencari keseimbangan baru. Pandemi corona yang dahsyat adalah sebuah reaksi dari aksi yang dahsyat tadi.

Pencemaran lingkungan (darat, udara, laut), hancurnya hutan, rusaknya biodiversitas; ditambah keserakahan manusia dan eksploitasi alam berlebihan, menyebabkan virus corona yang semula “tidur” di habitat (reservoir)-nya tiba-tiba terbangun. Ketamakan manusia yg membangunkan “virus corona ganas” ini dari kenyamanan tidurnya. Di tubuh kelelawar, kalong, dan binatang liar lainnya.

Ketika corona terbangun, koloni corona pun mencari tumpangan (inang) untuk hidup. Akibat kerusakan hutan dan polusi, inang-inangnya — makhluk liar di alam bebas — banyak yang mati. Gantinya, manusialah jadi sasarannya. Dijadikan inang.

Tak seperti kelalawar, tubuh manusia bereaksi keras ketika jadi inang corona. Apa yg disebut pandemi sebetulnya reaksi corona akibat ulah manusia yang merusak habitatnya.

Itulah mekanisme hukum alam. Aksi terhadap alam yang sudah rusak menjadikan reaksi alam pun demikian dahsyat. Solusinya, tak cukup sekadar social distancing. Tapi juga natural conserving. Kembalikan koloni corona pada habitat alamnya.

Tanami aneka pohon setiap jengkal tanah kosong. Biarkan organisme tumbuh di pohon-pohon yg menghijau di lingkungan itu.

Dalam sekala besar, hutankan kembali lahan-lahan yang rusak. Hijaukan bukit-bukit yang gersang. Bangunlah tempat-tempat yang nyaman untuk koloni corona.

Di sanalah koloni corona akan tertidur. Tak mengganggu manusia. Istilah Pakde Jokowi, berdamailah dengan corona. Corona akan nyaman di habitatnya. Manusia pun nyaman di habitatnya.

Jika sudah berdamai, niscaya pandemi tak ada lagi. Masing-masing spesies hidup di dunianya yg asyik dan spesifik.

Ingat: semesta corona dan manusia berbeda. Naturally, tidak saling mengganggu. Masing-masing hidup di alamnya. Dengan hukum-hukum alam yang menyertainya.

Bencana akan terjadi jika dua spesies itu — homo sapiens dan virus corona “berinteraksi” di alam yang “lain”. Manusia menyebutnya, perang melawan corona. Sedangkan corono, tak tahu, apa itu perang. Ia sekadar ingin survive.

Mereka sekadar mencari habitat untuk mempertahankan hidupnya. Mereka juga tak tahu kalau manusia menderita karena keberadaan koloni di saluran pernafasannya. Maklumlah, hanya di tempat itulah corona bisa mempertahankan hidupnya. Tak ada tempat lain. Sedangkan manusia bisa hidup di spektrum alam yang beragam. Makan segala macam. Jauh lebih rakus dan serakah ketimbang corona.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.