OUR NETWORK

Corona, Camus, dan Situasi Kita

Yang teringat pada novel itu adalah situasi keadaan isolasi total kota Oman setelah terjangkit sampar terhadap dunia luar, mirip seperti pola social distancing di Indonesia juga kondisi lockdown beberapa Negara lain dalam merespon penyebaran corona.
Foto: irishtimes.

Di sela waktu berkumpul dengan keluarga akhir pekan kemarin, situasi pandemi corona yang semakin menggurita ini memancing saya melirik salah satu buku lama saya saat kuliah dulu. Sebuah novel yang berjudul asli “La Peste” dialihbahasakan sebagai “Sampar” yang terpampang di rak buku pojok.

Dialah Albert Camus sang penulis novel yang mengisahkan berjangkitnya wabah sampar atau pes di Kota Oran Aljazair koloni Perancis kala itu. Sebuah kota yang penduduknya hanya peduli kepada kegiatan mencari uang dan sangat membosankan. Apakah ini sebuah satire? Hanya Camus yang tahu.

Alkisah ribuan tikus di seluruh pelosok kota mati, menyebarkan bakteri yang mengakibatkan ribuan warga kota terjangkit penyakit sampar dan ikut mati, sampai-sampai Kota Oran menjadi kota mati: sunyi dan mencekam. Kekacauan tidak terelakkan lagi disana.

Pada novel Camus, wabah sampar memang menurut N.H Dini (penerjemahnya) adalah alegori tentang Perancis yang menjadi gelap atas pendudukan Nazi. Namun di sisi lain tidak berlebihan bila kisah yang ditulis Camus saya sejajarkan dengan situasi penyebaran corona sekarang di Indonesia (meski tidak sepadan). Siapa tahu Albert Camus dalam novel itu mengajak kita untuk sejenak merenung akan eksistensi manusia di depan bencana, dan kematian.

Yang teringat pada novel itu adalah situasi keadaan isolasi total kota Oman setelah terjangkit sampar terhadap dunia luar, mirip seperti pola social distancing di Indonesia juga kondisi lockdown beberapa Negara lain dalam merespon penyebaran corona.

Dalam novel Camus ada beberapa tokoh dihadirkan yang masih teringat oleh saya: Pastor yang bernama Paneloux, Bernard Rieux seorang Dokter, dan tokoh Tarrou pelancong di kota Oran. Tentu ada beberapa tokoh lain dengan nuansa absurdisme dan nihilisme ala Camus dalam novel itu namun saya tidak begitu mengingatnya.

Pastor Paneloux dengan latar belakang keagamaan (kekristenan) diceritakan Camus awalnya menganggap wabah sampar di kota Oran merupakan hukuman Tuhan. Maka, baginya saat itu merupakan kesempatan untuk merenungkan kesalahan-kesalahan apa yang telah penduduk kota Oran lakukan.

Berbeda sama sekali dengan Paneloux, Jean Tarrou tokoh lainnya adalah pelancong yang datang ke kota Oran yang entah maunya apa. Ia hanya menulis situasi dan kondisi kota beserta penduduknya hingga akhirnya terjebak dalam kondisi isolasi yang menyebabkan ia bosan. Tarrou malah memandang situasi ini dan apa yang dilakukan adalah bentuk alienasi serta kesia-siaan. Wajar dia tidak percaya pandangan Paneloux, tokoh ini hampir dapat dikatakan sebagai nihilisme. Tapi ia ikut andil dalam memerangi wabah itu.

Terakhir tokoh sentral dalam La Peste adalah dokter Rieux. Tokoh dokter itu bekerja mati-matian memerangi wabah sampar di Oran. Sebagai dokter ia melihat setiap hari puluhan pasien meninggal akibat wabah. Rieux seakan tak berdaya melawan penyakit yang menjangkit pasien-pasiennya bahkan istrinya sendiri terjangkit wabah yang dipaksa diisolasi dalam cerita novel itu. Bagi Rieux dirinya seakan hanya memperlambat kedatangan ajal para pasiennya dengan keadaan kematian yang terus menerus.

Lalu, apa yang harus dilakukannya lagi bila seperti itu? Apakah diam diri dan pasrah? Tentu tidak! Bagi Camus pesan yang ingin ia sampaikan melalui Rieux adalah “Lawan! Memberontaklah pada keadaan!.” Hal ini tergambar oleh sikap Rieux, yang meski mewakili orang yang “mempertuhankan kemanusiaan,” tanpa banyak berharap jalan keluar, ia terus berperang melawan wabah itu.

Harapannya didasari sama sekali tanpa dimensi “ketuhanan.” Ia hanya berharap apa yang dilakukannya semata-mata untuk keselamatan bersama, hingga akhirnya wabah sampar mereda di Oran.

Maka bagaimana kita bersikap atas kondisi pandemi corona ini? Albert Camus memberi pesan lewat Rieux bahwa hal yang penting di tengah wabah adalah “menyadari ketidakmampuan manusia dalam menafsirkan segala hal.”

Di tengah mencuatnya segala macam pandangan isi kepala masyarakat, lebih baik terima keadaan ini sewajarnya dan mencoba tetap hidup bahagia. Tidak perlu panik berlebihan namun tetap waspada. Bagi Camus, wabah malah bisa dianggap titik balik kehidupan yang membuat kita mampu berkenalan dengan kemanusiaan. Boleh jadi itu pula yang terjadi dengan pandemi corona. Intensitas kemanusiaan kita akan semakin meningkat.

Pandangan ketiga tokoh di atas walaupun berseberangan dan berbeda, pada akhirnya akan disatupadukan oleh keadaan, dan bahu membahu menangkal dan menangani wabah secara bersama-sama. Pemerintah, kaum agamawan, ilmuwan, dan masyarakat umum yang “terpaksa” menjadi subjek yang teralienasi ini harus sadar bahwa pemberontakan melawan pandemi corona yang terjadi di Indonesia sekarang merupakan pesan utama Camus perlu dilakukan untuk tidak tunduk pada keadaan.

Yang perlu dilakukan hari ini oleh masyarakat umum adalah diam di rumah walaupun itu terlihat sia-sia. Untuk yang terpanggil hatinya bantulah mengatasi situasi ini, lakukanlah walau itu terkesan utopia. Karena bagi Camus, berada di tengah penderitaan bersama orang lain berarti terpanggil untuk hidup yang bersemangatkan compassion. Hanya dengan semangat itulah manusia dapat memahami dan menyikapi penderitaan sebagai pribadi yang otentik.

Alumni Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pegiat literasi di Lingkar Studi Filsafat Nahdliyyin. Ngabdi di Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum NU Kota Bandung dan Jatman Kota Bandung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…