OUR NETWORK

Bravo! Sejuta Gundala “Preman” van Joko Anwar

Para “preman” mengembalikan hak orang miskin dari orang kaya. Kurang lebih begitulah kisah Gundala. Joko Anwar meramunya dengan momentum yang tepat: ketika para pejabat-baru akan segera dilantik.

Sering sekali kita mendefinisikan orang bebas itu adalah para preman. Dan, jika memang begitu adanya, barangkali sosok bintang di film Gundala adalah preman. Hal itu semakin menemui kebenarannya jika saja preman kita masukkan dengan satu premis utama: hidup di dunia jalanan.

Sancaka hidup dari jalanan. Jalanan sudah menjadi nadinya. Ia besar di sana, berguru dari sana, dan pada akhirnya mengabdi ke sana. Jalanan menjadi rumahnya, sekolahnya, dan maaf: kakusnya. Intinya, jalanan menjadi segalanya.

Nah, jika jalanan sudah menjadi segalanya, mentalnya pun akan mental jalanan, bukan? Maaf, saya tak sedang menghakimi orang jalanan di tulisan singkat ini. Siapa pun tahu, lingkungan mempengaruhi cara kerja batok kepala kita. Leluhur kita menyebutnya dengan kalimat paripurna: buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Orang Batak menyebutnya dang dao tubis sian bonana. Atau, supaya lebih ilmiah, Emile Durkheim mengalimatkannya demikian: karakter yang ada dalam individu-individu adalah social fait di mana orang dipaksa melakukan peran tertentu dan mengatribusikan dirinya pada hal yang sudah terlembaga dalam masyarakat.

Jalanan adalah lembaga, tentu saja, meski dengan pemahaman yang agak berbeda. Mari kita bercerita sebentar! Dahulu kala, hidup di jalanan adalah hidup jorok. Karena itu, manusia jalanan tak jarang disebut sebagai manusia jorok. Kita tak boleh berkelit karena memang begitulah adanya. Apalagi, konon, jalanan adalah ruang yang tak sistematis. Sebagai lembaga, ia tak bersistem apik. Denyut hidupnya dirangsang oleh mesin aksi-reaksi. Jika kau begitu, aku begini; jika kau begini, aku begitu.

Menjadi Antagonis

Sebagai perbandingan (meski tak sebanding), mari kita lihat alur kehidupan masa silam, yaitu ketika nenek moyang bangsa ini digusur dari rumahnya ke jalanan oleh bangsa kolonialis. Kolonialis membuat jalan dipermak sedemikian rupa untuk semakin modern. Maka, terbentuklah jalan mahadahsyat itu: Jalan Raya Daendels. Namun, orang-orang tergusur, yaitu nenek moyang kita, seperti gagap melihat jalanan megah itu. (Atau, apakah ini sebagai bentuk protes terselubung?) Betapa tidak, warga Nusantara membuat jalan itu sebagai tempat jorok.

Seorang penulis Belanda, Hendrik Tillema, bahkan sampai menyebut Jalan Raya Daendels sebagai sebuah “jamban raksasa” karena para pribumi dengan seenaknya berak di pinggir jalan atau membuang tahi dari rumah-rumah ke pinggir jalan. Baiklah, mari kita berbaik sangka bahwa itu hanyalah sebagai protes lantaran tanah sudah dirampas. Namun, kali ini, itu bukan poin saya. Yang ingin saya sebutkan di sini sebenarnya sederhana saja: begitulah jalanan, sumpek, tak terurus. Maka, agak mustahil lahir sosok lemah lembut dari rahim jalanan, bukan?

Walau begitu, kita tak bisa memicingkan mata pada fakta lain. Benar bahwa orang jalanan berkarakter kasar, bahkan mungkin buruk. Namun, beberapa yang lahir dari jalanan justru tampil heroik. Jalanan kadang menjadi sekolah yang jauh lebih canggih. Dari sana bisa lahir sosok yang ulet, tekun, gigih, perhatian, dan pejuang yang tangguh.

Sebaliknya, dari rumah atau sekolah mewah, bisa malah lahir generasi yang rapuh, tak punya inisiatif, apalagi mandiri. Mereka jadi generasi yang cengeng. Tak gigih. Malah lagi, mereka menjadi koruptor-koruptor hebat di masa depan.

Dengan kata lain, orang-orang yang lahir dari sekolah dan rumah mewah ini kadang malah menjadi antagonis bagi mereka yang lahir dari jalanan. Banyak literatur bercerita tentang ini: manusia yang dulunya disebut bajingan atau manusia jalanan malah tampil sebagai pahlawan evolusi. Yang populer barangkali adalah kisah Robin Hood. Hampir semua negara punya kisah serupa untuk semakin membuktikan bahwa jalanan tak selalu kisah-kisah jorok. Atau, bahwa orang-orang rumah yang bersekolah di gedung mewah tak selalu kisah-kisah bersih.

Ada Ken Arok di Indonesia, Ned Kelly di Australia, Billy the Kid di Amerika Serikat, Salvatore, Giuiliano di Italia, Pancho Villa di Meksiko, Phoolan Debi di India, Hassanpoulia di Turki, dan masih banyak lagi. Mereka ini merupakan penjahat yang setelah mati dikenal menjadi pahlawan. Ken Arok dalam saduran Pramoedya Ananta Toer dan Muhammad Yamin bahkan dideskripsikan secara heroik. Padahal kita tahu, Ken Arok merupakan orang yang “licik”. Ned Kelly di Australia memasuki sejarah sebagai perampok, pembunuh, musuh kekal polisi.

Tapi, pada akhirnya, dia justru dikenal sebagai sumber inspirasi. Pelukis termasyhur Sidney Nolan menampilkannya dalam kanvas-kanvas yang memukau: Ned Kelly dalam topeng pelindungnya yang persegi dan penuh teka-teki. Tetapi begitulah, betapapun dalam sejarahnya mereka terkenal sebagai “bandit”, pada prinsipnya mereka bukan bandit. Seumpama begini, ada orang berpakaian religius, tetapi pada saat yang sama malah mencuri uang rakyat untuk memakmurkan kolega dan diri sendiri.

Di sisi lain, ada orang berpakaian “preman”, boleh jadi dia mencuri, tetapi seperti para bandit dalam evolusi tadi, mereka “merampas” harta orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin. Dengan kata lain, mereka mengembalikan hak orang miskin dari orang kaya. Kurang lebih begitulah kisah Gundala. Joko Anwar meramunya dengan momentum yang tepat: ketika para pejabat-baru akan segera dilantik. Mereka ini tentu bukan manusia jalanan. Mereka ini jauh dari deskripsi manusia kotor.

Namun, siapa pun tahu, di balik jubah yang bersih ini ada setumpuk hati yang teramat kotor. Mereka barangkali sudah mulai menyiapkan siasat bagaimana mencuri harta masyarakat. Mereka sudah menyiapkan trik bagaimana mempertengkarkan rakyat. Namun, Joko Anwar, melalui film terbarunya, apalagi bergenre superhero, seperti sedang melakukan perlawanan secara lunak, paling tidak sedang menunjukkan bahwa pada dasarnya ada banyak masyarakat yang lahir dari jalanan yang selama ini tak terjamah yang siap-siap memberi perhitungan.

Saya tak akan banyak bercerita tentang kualitas film tersebut dan jumlah penontonnya yang sudah melampaui 1 juta. Joko Anwar tak perlu lagi diragukan soal membuat film. Memang, supaya tak mengundang kecewa, sebaiknya film ini jangan dibandingkan dengan film buatan Marvel dengan tokoh-tokoh ikoniknya. Kita belum sampai ke level itu. Namun, peluang itu tetap berbinar. Perwajahan atau tampilan visual film ini sudah apik. Joko Anwar bahkan seperti sengaja menghilangkan beberapa cerita untuk disisipkan ke cerita seri selanjutnya. Hal itu hanya trik untuk mengundang tanya di masa depan.

Yang pasti, supaya film ini tak semata pertukaran gambar demi gambar dengan balutan musik dan suara, supaya film ini tak semata rebut-rebutan jumlah penonton paling banyak demi gengsi, kita harus melihat film ini sebagai realita. Ya, beginilah realita kehidupan. Joko Anwar mengangkatnya dari kisah fiksi untuk menggambarkan realita hidup: bahwa yang berdasi tak selamanya menggambarkan kemewahan dan keanggunan sikap; bahwa yang lahir dari jalanan tak selamanya kisah manusia-manusia buruk.

Kadang orang-orang besar lahir dari kejamnya jalanan, atau, pembebasan justru lahir dari jalanan, bukan dari gedung DPR. Sebaliknya, kadang orang-orang picik justru lahir dari rumah-rumah mewah, atau malau dari DPR. Begitu! Mungkin Anda tak percaya. Tetapi, lihatlah kenyataan, Bro! Adakah kenyataan yang berbohong?

Baca juga

Pengabdi Setan dan Jalan Pikir Joko Anwar

Gundala Putra Petir dan Hak Kekayaan Intelektual

Jakarta Keras dan Seram dari Thread di Twitter?

Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Doloksanggul, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…