OUR NETWORK

Bodoh Tidak Apa-apa

Tahu diri saja, jangan memaksakan untuk tampil dalam hal-hal yang bukan kekuatan kita. Kalau tidak pandai, lebih baik mengaku. Tidak usah kecil hati. Setiap orang pasti punya wilayah di mana dia bodoh.

Forrest Gump adalah karakter film yang digambarkan sebagai orang bodoh. Ia tidak mempermasalahkan bila disebut bodoh. “Stupid is as stupid does,” katanya kalau ada yang mengatainya bodoh. Ia sadar bahwa ia bodoh. Tapi sebenarnya ia tak bodoh dalam segala hal. Ada satu hal yang dia pandai, yaitu berlari. “Run, Forrest, run!” Cuma itu pesan Jenny yang sangat ia cintai. Larilah, jangan melihat ke belakang. Kelak Forrest Gump juga pintar bermain ping pong.

Sebenarnya pintar itu apa, dan bodoh itu apa? Dari kecil kita biasa mendefinisikan bahwa yang pintar itu adalah yang nilai rapornya tinggi. Lebih khusus lagi, yang nilai matematikanya tinggi. Yang nilainya rendah dianggap bodoh. Melly Goeslaw (kalau tidak salah) pernah dilecehkan orang karena pernah tinggal kelas. Saat dewasa ia menantang,”Dulu yang juara kelas dan melecehkan saya, sekarang jadi apa?”

Forrest Gump yang bodoh itu ternyata hidupnya lebih baik dari orang kebanyakan. Ia kaya, dan tentu saja kakinya utuh, tidak seperti Letnan Dan, atasannya saat wajib militer di Vietnam, yang kehilangan kedua kakinya, padahal dia jauh lebih pintar dari Forrest Gump. Persis seperti anak yang sering dihina di kelas karena bodoh, tapi kelak justru dialah yang sukses.

Saya pernah hampir jadi presiden direktur di sebuah perusahaan manufaktur. Dalam proses seleksi, saya diwawancarai oleh pemilik perusahaan. Dalam obrolan tak tampak orang ini pintar (dalam pengertian umum). Wawasannya tampak kurang, menyebut satu dua istilah saja salah. Dalam pikiran saya sempat terbersit sesuatu. “Masa saya harus bekerja di bawah orang ini,” pikir saya sombong. Tapi kesadaran saya mengingatkan bahwa orang ini punya sejumlah perusahaan, yang tentu saja tak saya miliki.

Usai wawancara atau obrolan itu, saya diajak makan oleh direktur perusahaan tadi. Dia paham pikiran saya. “Ya memang kayak gitu beliau itu, tapi kita harus akui bahwa beliau sangat pandai berbisnis,” katanya.

Ada berbagai jenis orang. Ada yang pandai dalam sejumlah hal. Lebih tepat lagi, pandai dalam hal-hal yang tampak oleh orang banyak. Misalnya saya ini. Bagi banyak orang di dunia maya, saya ini tampak pandai. Saya tak akan membantah itu. Nilai tes saya untuk urusan verbal memang tinggi. Saya bisa dengan cepat menemukan kata-kata yang pas untuk mengungkapkan sesuatu. Saya bisa bicara 3 jam tanpa kehabisan bahan.

Tapi sebenarnya saya tak pandai matematika, meski saya doktor fisika. Bukan tak pandai benar. Kalau diukur masih agak di atas rata-rata orang kebanyakan. Tapi kalau kumpul di tengah orang-orang yang menggeluti bidang fisika, saya masuk papan bawah.

Dalam hal apa saya bodoh? Seni. Kalau nyanyi saya pekak nada. Main musik apapun saya tak bisa. Saya masuk level idiot untuk musik.

Kenapa orang seperti saya tampak pintar? Karena masyarakat biasa membuat kategori bahwa yang pintar itu yang seperti ini. Dalam hal agama, misalnya, yang pintar itu adalah yang banyak hafal kitab, bahkan sampai ke nomor halamannya. Padahal ada orang dengan kelainan otak yang sanggup hafal isi buku telepon.

Orang yang pandai melukis hanya sering disebut pelukis, bukan orang pintar. Demikian pula yang pandai main musik, main bola, memasak, dan sebagainya. Kita terbiasa menghargai sedikit saja jenis kepintaran.

Pentingkah pintar itu? Sebenarnya tak penting benar. Bagi saya sebenarnya tak ada orang bodoh. Yang ada hanyalah orang yang hanya pintar di suatu bidang yang sangat khusus, yang orang lain bahkan tak paham. Yang disebut pintar, adalah orang yang mahir pada suatu hal yang terlihat oleh banyak orang.

Sebenarnya tak penting soal pintar itu. Yang penting adalah bagaimana ia memanfaatkan apa yang ia punya untuk hidup. Christian Ronaldo dan Lionel Messi mungkin tak pintar matematika. Mereka jadi orang hebat, karena memilih jalan hidup yang sesuai dengan kemahirannya. Pengusaha yang saya sebut tadi pun begitu. Ia memilih jalan hidup di mana ia memiliki kemampuan. Ia jadi pengusaha.

Lalu siapa orang bodoh yang sebenarnya? Yaitu orang yang tak menjalani hidup sesuai dengan kekuatan atau kemahiran yang ia miliki. Lebih menyedihkan lagi, ia bahkan tak tahu ia unggul dalam bidang apa. Ia menjalani hidup yang bukan hidup dia. Ia hidup seadanya.

Ada pula orang bodoh jenis lain, yaitu mencoba menampilkan diri yang bukan dirinya. Sudah sukses di dunia militer, masih pula ingin tampak cerdas di bidang akademik, memaksakan diri untuk punya gelar doktor. Memaksa untuk menjadi pengarang lagu pula, misalnya.

Kita hanya perlu tahu diri. Saya sadar bahwa saya tidak pintar bermusik. Bisa saja saya berlatih, saya akan bisa sampai level tertentu. Tapi saya tidak akan jadi musisi hebat.

Tahu diri saja, jangan memaksakan untuk tampil dalam hal-hal yang bukan kekuatan kita. Kalau tidak pandai, lebih baik mengaku. Tidak usah kecil hati. Setiap orang pasti punya wilayah di mana dia bodoh. Tidak ada orang yang pintar dalam segala hal. Lebih penting untuk mencari di bagian mana kita pintar ketimbang menutupi bagian bodoh kita.

Penulis dan pekerja profesional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…