Minggu, April 11, 2021

Bodoh Tidak Apa-apa

Ujian Nasional, Diselenggarakan untuk Siapa?

Kemendikbud baru saja menyelenggarakan ujian serentak yang biasa di sebut Ujian Nasional (UN), untuk para siswa sekolah dasar dan menengah. Banyak berita yang menginformasikan...

Kedewasaan Umat Beragama dan Toleransi Anak TK

Berita ini bertubi-tubi menghiasi lini masa saya. Banyak teman saya menangis terharu karenanya. Tapi, siapa yang tidak? Anak-anak dari TK Katolik mengunjungi saudara-saudaranya sesama...

Bukan Revolusi Akhlaq Tapi Menyempurnakan Akhlaq

Rasulullah saw: kakek buyut para Habib, Sayyid, dan Syarif diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Pada dirinya terdapat akhlaq yang luhur sebagai sebab diutusnya untuk menyempurnakan...

Menjaga Integritas Ala LBH

Saat riset tentang LBH Jakarta, saya menemukan hal yang membuat saya malu sebagai individu. Bagaimana bisa sebuah lembaga berjuang membela nilai secara konsisten meski...
Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.

Forrest Gump adalah karakter film yang digambarkan sebagai orang bodoh. Ia tidak mempermasalahkan bila disebut bodoh. “Stupid is as stupid does,” katanya kalau ada yang mengatainya bodoh. Ia sadar bahwa ia bodoh. Tapi sebenarnya ia tak bodoh dalam segala hal. Ada satu hal yang dia pandai, yaitu berlari. “Run, Forrest, run!” Cuma itu pesan Jenny yang sangat ia cintai. Larilah, jangan melihat ke belakang. Kelak Forrest Gump juga pintar bermain ping pong.

Sebenarnya pintar itu apa, dan bodoh itu apa? Dari kecil kita biasa mendefinisikan bahwa yang pintar itu adalah yang nilai rapornya tinggi. Lebih khusus lagi, yang nilai matematikanya tinggi. Yang nilainya rendah dianggap bodoh. Melly Goeslaw (kalau tidak salah) pernah dilecehkan orang karena pernah tinggal kelas. Saat dewasa ia menantang,”Dulu yang juara kelas dan melecehkan saya, sekarang jadi apa?”

Forrest Gump yang bodoh itu ternyata hidupnya lebih baik dari orang kebanyakan. Ia kaya, dan tentu saja kakinya utuh, tidak seperti Letnan Dan, atasannya saat wajib militer di Vietnam, yang kehilangan kedua kakinya, padahal dia jauh lebih pintar dari Forrest Gump. Persis seperti anak yang sering dihina di kelas karena bodoh, tapi kelak justru dialah yang sukses.

Saya pernah hampir jadi presiden direktur di sebuah perusahaan manufaktur. Dalam proses seleksi, saya diwawancarai oleh pemilik perusahaan. Dalam obrolan tak tampak orang ini pintar (dalam pengertian umum). Wawasannya tampak kurang, menyebut satu dua istilah saja salah. Dalam pikiran saya sempat terbersit sesuatu. “Masa saya harus bekerja di bawah orang ini,” pikir saya sombong. Tapi kesadaran saya mengingatkan bahwa orang ini punya sejumlah perusahaan, yang tentu saja tak saya miliki.

Usai wawancara atau obrolan itu, saya diajak makan oleh direktur perusahaan tadi. Dia paham pikiran saya. “Ya memang kayak gitu beliau itu, tapi kita harus akui bahwa beliau sangat pandai berbisnis,” katanya.

Ada berbagai jenis orang. Ada yang pandai dalam sejumlah hal. Lebih tepat lagi, pandai dalam hal-hal yang tampak oleh orang banyak. Misalnya saya ini. Bagi banyak orang di dunia maya, saya ini tampak pandai. Saya tak akan membantah itu. Nilai tes saya untuk urusan verbal memang tinggi. Saya bisa dengan cepat menemukan kata-kata yang pas untuk mengungkapkan sesuatu. Saya bisa bicara 3 jam tanpa kehabisan bahan.

Tapi sebenarnya saya tak pandai matematika, meski saya doktor fisika. Bukan tak pandai benar. Kalau diukur masih agak di atas rata-rata orang kebanyakan. Tapi kalau kumpul di tengah orang-orang yang menggeluti bidang fisika, saya masuk papan bawah.

Dalam hal apa saya bodoh? Seni. Kalau nyanyi saya pekak nada. Main musik apapun saya tak bisa. Saya masuk level idiot untuk musik.

Kenapa orang seperti saya tampak pintar? Karena masyarakat biasa membuat kategori bahwa yang pintar itu yang seperti ini. Dalam hal agama, misalnya, yang pintar itu adalah yang banyak hafal kitab, bahkan sampai ke nomor halamannya. Padahal ada orang dengan kelainan otak yang sanggup hafal isi buku telepon.

Orang yang pandai melukis hanya sering disebut pelukis, bukan orang pintar. Demikian pula yang pandai main musik, main bola, memasak, dan sebagainya. Kita terbiasa menghargai sedikit saja jenis kepintaran.

Pentingkah pintar itu? Sebenarnya tak penting benar. Bagi saya sebenarnya tak ada orang bodoh. Yang ada hanyalah orang yang hanya pintar di suatu bidang yang sangat khusus, yang orang lain bahkan tak paham. Yang disebut pintar, adalah orang yang mahir pada suatu hal yang terlihat oleh banyak orang.

Sebenarnya tak penting soal pintar itu. Yang penting adalah bagaimana ia memanfaatkan apa yang ia punya untuk hidup. Christian Ronaldo dan Lionel Messi mungkin tak pintar matematika. Mereka jadi orang hebat, karena memilih jalan hidup yang sesuai dengan kemahirannya. Pengusaha yang saya sebut tadi pun begitu. Ia memilih jalan hidup di mana ia memiliki kemampuan. Ia jadi pengusaha.

Lalu siapa orang bodoh yang sebenarnya? Yaitu orang yang tak menjalani hidup sesuai dengan kekuatan atau kemahiran yang ia miliki. Lebih menyedihkan lagi, ia bahkan tak tahu ia unggul dalam bidang apa. Ia menjalani hidup yang bukan hidup dia. Ia hidup seadanya.

Ada pula orang bodoh jenis lain, yaitu mencoba menampilkan diri yang bukan dirinya. Sudah sukses di dunia militer, masih pula ingin tampak cerdas di bidang akademik, memaksakan diri untuk punya gelar doktor. Memaksa untuk menjadi pengarang lagu pula, misalnya.

Kita hanya perlu tahu diri. Saya sadar bahwa saya tidak pintar bermusik. Bisa saja saya berlatih, saya akan bisa sampai level tertentu. Tapi saya tidak akan jadi musisi hebat.

Tahu diri saja, jangan memaksakan untuk tampil dalam hal-hal yang bukan kekuatan kita. Kalau tidak pandai, lebih baik mengaku. Tidak usah kecil hati. Setiap orang pasti punya wilayah di mana dia bodoh. Tidak ada orang yang pintar dalam segala hal. Lebih penting untuk mencari di bagian mana kita pintar ketimbang menutupi bagian bodoh kita.

Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.