OUR NETWORK

BLACKPINK dan Bakat Ajaib Para Orang Tua

BLACKPINK is revolution.

Saya kira orang tua punya bakat ajaib untuk khawatir terhadap tumbuh kembang anaknya. Orang tua saya misalnya, percaya karier yang baik lahir dari pekerjaan-pekerjaan mapan yang telah terbukti dalam masyarakat. Akuntan, dokter, atau pengusaha. Jadi, saat saya ingin jadi guru, mereka dengan bakat ajaib tadi, menjadi khawatir saya akan hidup sengsara, kurang makan, dan yang paling mengerikan hidup tidak bahagia.

Orang tua hari ini juga sama, mereka punya kekhawatiran-khawatiran baru yang ajaib, belakangan kekhawatiran itu lahir dari sumber yang nyaris komikal. Mereka takut pada vaksin, karena akan membuat anak mereka idiot atau autis. Karena vaksin terbuat dari babi, mereka takut anak-anaknya akan menjadi najis berjalan. Tapi yang paling ajaib, mereka percaya bahwa jika anak-anak berteman dengan orang-orang yang beda agama maka akan tumbuh menjadi kafir, durhaka pada orang tua, dan masuk neraka.

Apa yang lebih ajaib daripada orang tua yang takut anak-anaknya, yang kadang masih balita, masuk neraka hanya karena berkawan dengan mereka yang beda agama?

Saya kira ini cuma di Indonesia, bakat ajaib ini juga saya temukan di luar negeri. Di Amerika Serikat orang tua yang benci dengan vaksin banyak, mereka yang anti pengobatan modern bejibun, dan yang paling ajaib merasa bahwa anak-anaknya mudah dikorupsi jadi pemuja setan karena produk-produk budaya populer.

Dulu, di Amerika, orang-orang tua ketakutan karena anak-anak mereka menghabiskan banyak waktu membaca komik. Komik-komik ini, kata mereka, punya daya ajaib untuk merusak moral, menjadikan mereka dekaden, dan yang paling aduhai: mengajarkan mereka jadi pemuja iblis. Komik dari Marvel dan DC dilarang, mereka mesti lulus sensor. Tak boleh menampilkan kekerasan, narkoba, dan seksualitas.

Bertahun kemudian, orang-orang di Amerika gaduh lagi. Karena musik-musik bising yang dianggap manifestasi dari orang-orang antigereja, pemuja hedonisme, dan perusak mental. Salah seorang yang kemudian dimintai pertanggunghawaban adalah Dee Snider, vokalis band Twisted Sister. Ia dituduh memuja sadomasokisme, menganjurkan kekerasan, pemberontakan, dan video musiknya dianggap mengajarkan anak-anak untuk jadi begundal.

Dee Snider yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga kristen menyanggah itu semua. Musik yang dianggap kasar dan mengajarkan sadomasokisme tadi ternyata bercerita tentang pengalaman dioperasi oleh seorang dokter. Sementara video musik “We’re Not Gonna Take It,” adalah parodi komikal dari Will E Coyote, sebuah kartun produksi Warner Bros. Tuduhan-tuduhan orang tua yang dianggap terlalu takut anaknya korup tadi, dibantah secara terbuka, hingga terang-benderang.

Di Indonesia juga tak kurang keajaiban semacam itu. Saat anggota SNSD akan dihadirkan dalam acara pra Asean Games Agustus lalu, psikolog anak Elly Risman, menganggap ide itu kurang mendidik. Ia mempertanyakan apa kreatifnya mengundang personil SNSD? Sikap ini tentu melahirkan protes, kebanyakan dari penggemar K-Pop, sisanya ya dari netizen. Tapi mengapa kita mudah sekali takut pada yang asing, yang terbuka, dan yang berbeda?

Beberapa hari terakhir muncul petisi untuk menarik iklan Shopee yang dibintangi girl band Korea Selatan, BLACKPINK. Dalam protes itu disebutkan bahwa BLACKPINK adalah “Sekelompok perempuan dengan baju pas-pasan,” yang gemar “mengangkat baju tinggi-tinggi dengan lirikan menggoda”.

Deskripsi ini, tidak hanya bagus, tapi juga menunjukkan bahwa si pembuat petisi demikian fokus terhadap Blackpink. Si pembuat petisi juga bertanya, “Nilai bawah sadar seperti apa yang hendak ditanamkan pada anak-anak dengan iklan seronok dan mengumbar aurat ini? Baju yang dikenakan tidak menutup paha. Gerakan dan ekspresi pun provokatif. Sungguh jauh dari cerminan nilai Pancasila yang beradab.” Tulis petisi itu.

Ada yang salah dari pemahaman ini. Kita menganggap bahwa anak-anak kita itu secara terberi kriminil, jika menonton sesuatu yang seronok, ia akan terpancing untuk berbuat kejahatan. Ketakutan kita bahwa tayangan iklan bisa membuat moral anak-anak jadi bobrok, menggambarkan bahwa kita kurang percaya diri dengan pendidikan yang diberikan pada anak kita. Bahwa kita tak bisa mengajarkan anak kita untuk menghormati tubuh perempuan, menundukkan pandangan, dan menjaga diri.

Peradaban kita memang punya kadar ajaib dalam menentukan prioritas kepedulian. Tentu bahwa masalah moral itu penting, tapi menganggap bahwa masalah pendidikan anak tak boleh menyentuh hal tabu seperti seksualitas itu berbahaya. Padahal melalui pendidikan seksualitas kita bisa mengajarkan anak-anak bahwa tubuh perempuan harus dihormati. Kita bisa mengajarkan pada anak kita bahwa hanya karena berpakaian pas-pasan ia tak boleh dilecehkan.

Dengan adanya iklan Blackpink kita bisa mengajarkan pada anak-anak kita untuk menjelaskan apa itu otoritas tubuh, bahwa perempuan berhak memakai apa pun yang ia anggap nyaman dan baik. Kita juga bisa mengajarkan anak-anak kita tentang hormon tubuh, bahwa terangsang merupakan hal alamiah, tapi tidak memberikan hak untuk melakukan pelecehan. Dan jika kamu merasa tak mampu menahan nafsu, alihkan pandangan ke arah yang lain.

Kita tentu bisa mengajarkan pada anak-anak kita tentang standar kecantikan yang dibuat oleh industri media. Mengajarkan kepada mereka bahwa objektifkasi tidak hanya melalui kulit putih, rambut lurus, atau angkat paha tinggi-tinggi, tapi juga melalui doktrin tentang perempuan tak harus pintar, mau dipoligami, tunduk pada suami dengan dalil agama. Kita juga bisa mengajarkan mereka bahwa seperti juga perempuan berhak memakai jilbab, burqa, dan cadar, perempuan berhak memakai apa pun yang ia rasa nyaman, tanpa harus merasa takut dipersekusi dan mengalami kekerasan.

Sekian. BLACKPINK is revolution.

Arman Dhani
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…