OUR NETWORK

Benarkah Yogyakarta Baik-baik Saja?

Jika ada kasus intoleransi, korban cenderung diam ….

Beberapa tahun terakhir, saya selalu agak segan berkomentar tentang Yogyakarta. Beberapa teman dan kenalan selalu punya resistensi tinggi kalau dibilang Jogja kurang aman terhadap minoritas. Mereka selalu pakai standar diri dan teman sendiri untuk mengukur keadaan.

“Kancaku Kristen tapi aman kok.”
“Aku lahir nganti saiki ora tau diganggu.”
“Kowe sing nang Jakarta ora ngerti kondisi Yogya.”
Semacam itu.

Mulai dari kekerasan terhadap orang Papua, hingga yang paling baru pemotongan simbol salib saat pemakaman. Tapi belakangan saya sadar, mungkin ini bukan soal privilise. Tentu jika kamu muslim, laki-laki, orang asli Yogya dan bukan pendatang, atau bergabung dengan organisasi kepemudaan, punya saudara ningrat atau preman, ya akan merasa aman. Tapi bagaimana jika tidak?

Mungkin memang karena saya enggak pernah menghabiskan waktu yang lama di Yogya untuk bisa merasakan benarkah ada intoleransi? Kalau ada pada siapa? Toh, banyak orang yang datang ke Yogya hanya untuk liburan, seminggu dua minggu setelah itu pulang. Tapi bagaimana mereka yang sudah sejak lahir ada? Jangan-jangan memang pada dasarnya Yogya itu damai dan kekerasan itu hanya anomali kecil.

Saya cinta Yogyakarta dan yakin banyak orang lain yang pernah mampir ke kota ini merasakan hal yang sama. Agak tidak adil mengomentari sesuatu yang kamu enggak pahami. Yogya kerap kali jadi antagonis hanya karena laporan-laporan media. Misalnya, dalam kasus pelari dan bapak tua kampung yang ternyata salah paham. Mungkin media enggak utuh melakukan verifikasi, tapi apa iya terus-terusan?

Ada banyajk lapisan cerita dalam sebuah peristiwa yang kadang tak bisa disajikan secara utuh. Dalam kasus pemotongan nisan berbentuk salib di Kotagede, kita hanya bisa mengira-ngira, hanya bisa meraba, mana yang benar dan mana yang salah. Di media sosial beragam cerita muncul. Misalnya, jenazah yang kristen itu dibantu oleh keluarga muslim mulai dari mengurus di rumah sakit hingga mengantarkan ke pemakaman. Tapi masalahnya, apakah kemudan dengan muslim berbaik hati menjadikan mereka punya hak untuk memotong kayu nisan itu?

Di Twitter Gusti Kanjeng Hayu mendorong publik, terutama orang Yogya untuk tidak terpancing berita miring tentang intoleransi. Saya sepakat. Ia meminta agar orang-orang Yogya berbuat sebisanya untuk warga sekitar. Meski demikian, setelah berulang kali banyak laporan tentang intoleransi dan berbagai kasus kekerasan yang dialami kelompok minoritas, apa iya tidak ada masalah sama sekali di sana? Atau konflik yang ada diredam hingga menjadi laten?

Saya pernah diundang ke Yogya untuk menghadiri diskusi tentang urgensi perlindungan perempuan oleh salah satu organisasi setempat. Mereka merahasiakan lokasi diskusi karena tema yang dibahas sangat sensitif, mengenai aborsi. Mereka bilang kalau terbuka akan ada kemungkinan diprotes atau bahkan kekerasan. Lho, memangnya sampai segenting itu?

Beberapa aktivis yang saya ajak ngobrol berkata, kadang jika ada kasus intoleransi, korban cenderung diam. Mereka tak berani bicara. Misalnya dalam kasus pembubaran pesantren waria Jogja, korban memilih bungkam karena takut konfrontasi susulan. Tapi apa terus-menerus mau diam?

Beberapa teman juga menganjurkan untuk membiarkan dan tak memberitakan kasus bukan karena mereka menerima perlakuan kasar itu. Tapi bagi para korban, mereka tak punya tempat lain, jika melawan dan melaporkan kasus, kekerasan susulan sangat mungkin terjadi.

Hal yang membuat saya sedih adalah beberapa orang masih ngotot bahwa Yogyakarta baik-baik saja. Saya enggak menyalahkan mereka. Seperti saya bilang, selama di Yogya, sebagai laki-laki, muslim, hetero, dan punya uang, hidup saya enak betul. Makanan murah, mau minum alkohol sambil teriak-teriak di kosan juga enggak masalah. Coba kalau saya orang Papua, Kristen … Wah, bisa dibilang mengganggu masyarakat.

Komentar-komentar sengit tentang laporan intoleransi Yogyakarta justru datang dari orang Yogya sendiri. Mereka merasa Yogya aman, enggak pernah ada kekerasan, terlepas demikian banyak kejadian dan laporan kekerasan pada kelompok minoritas Kristen, LGBT, dan Mahasiswa Papua yang menyebutkan sebaliknya.

Dulu saya pernah bermimpi, alangkah bahagianya menjadi tua di Yogyakarta. Dengan kenangan masa muda yang berisi berbagai ingatan dari banyak cerita, berdiskusi di sudut-sudut angkringan, jatuh cinta untuk kemudian ditinggalkan, menghadiri berbagai acara kesenian, bergurau dengan kawan-kawan dari bermacam latar belakang, naluri untuk selalu berkembang dalam kebersahajaan, dan kehidupan yang lambat itu selalu memberimu bahan bakar untuk membuat sesuatu yang baru. Ia tidak harus seambisius menyelamatkan dunia, ia bisa saja berbentuk keluguan-keluguan yang pada akhirnya melahirkan pundi uang, yang mesti tidak seberapa, cukup untuk membuatmu makan malam dengan nasi sayur di burjo.

Saya berharap, sungguh sangat berharap, mereka yang menganggap Yogyakarta aman, enggak perlu merasakan kesedihan serupa kelompok minoritas tadi. Disakiti dan diinjak haknya hanya karena berbeda.

Arman Dhani
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…