Jumat, Februari 26, 2021

Bea Siswa Berkat Christine Hakim

Harga Menjadi Seorang Environmentalis

Kebakaran hutan dan lahan masih banyak terjadi di banyak titik di Indonesia, mencakup wilayah Sumatera, Riau, dan Kalimantan. Sepanjang tahun 2019 saja, seperti yang...

Islam Kaffah Bukan Dicapai Tapi Dicari

“Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan sebilah pedang,” begitulah kata Yesus yang termaktub dalam Matheus (10:34). ‘Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mengucapkan Lailaha...

Salafi Pemegang Otoritas Sertifikasi Sunah dan Bid’ah, Antum Siapa?

Bermula dari sabda baginda Nabi Muhammad saw: "Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah...

Pembajakan Buku Membunuh Pekerjaan Banyak Orang

Penerbit, penulis, dan semua yang terlibat dalam industri perbukuan menjadi resah karena pembajakan buku. Tidak tanggung-tanggung buku bajakan tersebut dijual bebas di toko buku...
Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik

Christ! Sapa saya pada Christine Hakim sambil tersenyum.

Saya panggil bintang film Tjoet Nyak Dhien itu. Kebetulan saya pernah bertemu dengannya di sebuah diskusi film yang dimotori Eros Djarot tahun 1991.

Ada apa Fachry? Timpal bintang Daun di Atas Bantal itu.

Saya mau sekolah. Cariin duit dong? Kata saya. Surat undangan sekolah dari Prof. Ricklefs di Monash University, Australia, sudah saya terima.

Christine bersemangat mau membantu saya. Senang saya melihat sikapnya.

“Saya mintakan kepada Pak Bustanil Arifin ya!” Jawab Christine serius. Bustanil Arifin saat itu Menteri Koperasi.

Oke — kata saya, sambil mengucapkan terima kasih.

Saya dan Christine sudah lama kenal. Ketika ada rencana membuat film Tjoet Nyak Dhien, Christine bersama Eros Djarot dan Setiawan Djodi datang berkonsultasi kepada saya di LP3ES. Ismed Hasan Putro yang mengantarkan mereka.

Beberapa hari kemudian, Christine menelpon saya.

“Kamu ditunggu Pak Bus.”

Saya pun datang ke kantor Departemen Koperasi di Kuningan.

Sampai di kantor Depkop, ternyata Pak Bus tidak ada di tempat. Seorang pegawai Depkop dengan baik hati menolong saya mencari keterangan keberadaan Pak Bus.

Sementara dia mencari informasi di mana Pak Bus, saya teringat seseorang. Orang itu selalu berada di belakang Pak Bus jika memberi keterangan di TVRI. Tapi, saya tidak tahu namanya.

Saya pun bertanya kepada seorang pegawai Depkop sambil menjelaskan ciri-cirinya, siapa nama orang itu.

Itu lho?! Yang ganteng dan suka senyum — kata saya.

‘Oooo itu,’ kata orang baik hati ini. Ia tahu siapa yang saya tanya.

‘Itu Pak Subiakto. Mari saya antar,’ katanya.

Maksud saya mencari Subiakto adalah untuk minta tolong mempertemukan saya dengan Pak Bus.

Di ruang kerja Biakto, kami disambut sekretarisnya. Biakto rupanya telah menjadi Dirjen. Karena Biakto tidak ada, sang sekretaris membuat jadwal untuk saya.

Usai membuat jadwal bertemu dengan Biakto, saya mendapat keterangan bahwa Pak Bus ada di Bulog. Saya kejar ke sana.

Begitu bertemu Pak Bus, pertanyaan pertama yg diajukan kepada saya adalah: ‘Kamu pacarnya Christine Hakiem ya?!’

Saya terkejut. ‘Kenapa ada kesimpulan seperti itu?’ Saya balik bertanya kepada Pak Bus.

Pak Bus bilang: ‘Bagaimana tidak. Tiap hari dia telpon saya dan bilang: Pak Bus harus tolong Fachry.’

Ringkasnya berkat Christine, Pak Bus melalui Yayasan Malem Putra yg dia pimpin, bersedia membiayai studi saya di Melbourne. Dengan lega, saya tinggalkan gedung Bulog.

Beberapa hari kemudian, menjelang test kesehatan ke Australia, datang telpon dari sekretaris Biakto. Bahwa ia menerima saya pada hari Rabu, pukul 14.00.

‘Nah lho,’ seru saya dalam hati.
Saya harus ngomong apa? Sebab, urusan dengan Pak Bus sudah selesai.

Karena sdh terlanjur, saya penuhi pertemuan itu. Biakto sangat ramah dan sopan. Ia bukan saja menyatakan membaca tulisan-tulisan saya, melainkan memanggil saya, waktu itu, ‘dik’.

Biakto bertanya: ‘Ada yang bisa saya bantu dik?’

Saya jawab bahwa saya datang karena kangen. Lama tak bertemu. Dia tersenyum.

Lalu pembicaraan ngalor-ngidul sampai akhirnya saya bertanya:

‘Pak Biakto umur berapa sekarang?’

Dia menjawab: 45 tahun.

‘Masih muda,’ kata saya. ‘Pak Biakto ada kans menjadi menteri.’

Dia tertawa. ‘Ah, tidak mungkin, dik,’ sanggahnya. Lalu saya pamit.

Ketika saya sudah menjadi mahasiswa di Monash University, Australia, saya dengar Subiakto Tjakrawedaja ditunjuk sebagai Menteri Koperasi oleh Pak Harto, menggantikan Pak Bus. Tahun 1992.

Ramalan iseng. Tapi terbukti!

Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.