Rabu, Desember 2, 2020

Bea Siswa Berkat Christine Hakim

Apa Salah Menghina Presiden?

Negeri ini penuh muslihat. Itulah yang saya tangkap dari cerita RJ Lino tentang control room yang dikutip Rhenald Kasali. Isinya begini. Menjelang akhir Juni...

Mencari Tuhan di Tengah Pandemi Corona

Dunia seketika kalang kabut, kehidupan umat manusia di seluruh negara menjadi redup, nyaris mati. Sebuah virus yang mematikan datang dan menyebar tak terbendung dari...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

STM dan Akar Kekerasan Di Ruang Publik.

Presidennya bilang gebuk. Mentrinya bilang pembunuh Theys Pahlawan. Mentrinya akan buldozer yang hambat sawit. Polisinya bilang melanggar HAM boleh. Terus pada kaget, prihatin, dan...
Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik

Christ! Sapa saya pada Christine Hakim sambil tersenyum.

Saya panggil bintang film Tjoet Nyak Dhien itu. Kebetulan saya pernah bertemu dengannya di sebuah diskusi film yang dimotori Eros Djarot tahun 1991.

Ada apa Fachry? Timpal bintang Daun di Atas Bantal itu.

Saya mau sekolah. Cariin duit dong? Kata saya. Surat undangan sekolah dari Prof. Ricklefs di Monash University, Australia, sudah saya terima.

Christine bersemangat mau membantu saya. Senang saya melihat sikapnya.

“Saya mintakan kepada Pak Bustanil Arifin ya!” Jawab Christine serius. Bustanil Arifin saat itu Menteri Koperasi.

Oke — kata saya, sambil mengucapkan terima kasih.

Saya dan Christine sudah lama kenal. Ketika ada rencana membuat film Tjoet Nyak Dhien, Christine bersama Eros Djarot dan Setiawan Djodi datang berkonsultasi kepada saya di LP3ES. Ismed Hasan Putro yang mengantarkan mereka.

Beberapa hari kemudian, Christine menelpon saya.

“Kamu ditunggu Pak Bus.”

Saya pun datang ke kantor Departemen Koperasi di Kuningan.

Sampai di kantor Depkop, ternyata Pak Bus tidak ada di tempat. Seorang pegawai Depkop dengan baik hati menolong saya mencari keterangan keberadaan Pak Bus.

Sementara dia mencari informasi di mana Pak Bus, saya teringat seseorang. Orang itu selalu berada di belakang Pak Bus jika memberi keterangan di TVRI. Tapi, saya tidak tahu namanya.

Saya pun bertanya kepada seorang pegawai Depkop sambil menjelaskan ciri-cirinya, siapa nama orang itu.

Itu lho?! Yang ganteng dan suka senyum — kata saya.

‘Oooo itu,’ kata orang baik hati ini. Ia tahu siapa yang saya tanya.

‘Itu Pak Subiakto. Mari saya antar,’ katanya.

Maksud saya mencari Subiakto adalah untuk minta tolong mempertemukan saya dengan Pak Bus.

Di ruang kerja Biakto, kami disambut sekretarisnya. Biakto rupanya telah menjadi Dirjen. Karena Biakto tidak ada, sang sekretaris membuat jadwal untuk saya.

Usai membuat jadwal bertemu dengan Biakto, saya mendapat keterangan bahwa Pak Bus ada di Bulog. Saya kejar ke sana.

Begitu bertemu Pak Bus, pertanyaan pertama yg diajukan kepada saya adalah: ‘Kamu pacarnya Christine Hakiem ya?!’

Saya terkejut. ‘Kenapa ada kesimpulan seperti itu?’ Saya balik bertanya kepada Pak Bus.

Pak Bus bilang: ‘Bagaimana tidak. Tiap hari dia telpon saya dan bilang: Pak Bus harus tolong Fachry.’

Ringkasnya berkat Christine, Pak Bus melalui Yayasan Malem Putra yg dia pimpin, bersedia membiayai studi saya di Melbourne. Dengan lega, saya tinggalkan gedung Bulog.

Beberapa hari kemudian, menjelang test kesehatan ke Australia, datang telpon dari sekretaris Biakto. Bahwa ia menerima saya pada hari Rabu, pukul 14.00.

‘Nah lho,’ seru saya dalam hati.
Saya harus ngomong apa? Sebab, urusan dengan Pak Bus sudah selesai.

Karena sdh terlanjur, saya penuhi pertemuan itu. Biakto sangat ramah dan sopan. Ia bukan saja menyatakan membaca tulisan-tulisan saya, melainkan memanggil saya, waktu itu, ‘dik’.

Biakto bertanya: ‘Ada yang bisa saya bantu dik?’

Saya jawab bahwa saya datang karena kangen. Lama tak bertemu. Dia tersenyum.

Lalu pembicaraan ngalor-ngidul sampai akhirnya saya bertanya:

‘Pak Biakto umur berapa sekarang?’

Dia menjawab: 45 tahun.

‘Masih muda,’ kata saya. ‘Pak Biakto ada kans menjadi menteri.’

Dia tertawa. ‘Ah, tidak mungkin, dik,’ sanggahnya. Lalu saya pamit.

Ketika saya sudah menjadi mahasiswa di Monash University, Australia, saya dengar Subiakto Tjakrawedaja ditunjuk sebagai Menteri Koperasi oleh Pak Harto, menggantikan Pak Bus. Tahun 1992.

Ramalan iseng. Tapi terbukti!

Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.