Rabu, Oktober 28, 2020

Bagaimana Menyikapi Pembakaran Bendera di Garut?

Mimpi Adalah Kunci, Bro Giring!

Lagu yang Bro Giring Ganesha nyanyikan bersama mantan bandnya Nidji, melengkapi nuansa inspiratif dari cerita Laskar Pelangi. Salah satu OST yang paling pas dengan...

Keterlibatan Pemuda Mahasiswa Bersama Kelas Buruh (Bagian Akhir)

Pada tulisan sebelumnya, saya telah membahas bagaimana skema penghisapan yang dicanangkan imperialisme terhadap kelas pekerja. Melanjuti tulisan yang sempat bersambung, saya akan membahas bagaimana...

Mengapa Visi-Misi-Program Kandidat Harus Disusun Secara Partisipatif

Kebijakan pemerintah yang tidak nyambung dengan masalah yang dihadapi warga sudah menjadi cerita klasik yang terus terulang di berbagai tempat. Masalah kemacetan dan ketiadaan...

Kecemasan Membaca Berita Bencana Covid-19

Idealnya kegiatan membaca informasi berita akan menambahkan wawasan baru dalam bertindak menentukan sikap. Tetapi, bisa juga berdampak sebaliknya, justru menimbulkan kecemasan. Terutama pada informasi...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Beredar video yang berisi pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid. Bendera hitam yang konon disimbolkan sebagai bendera ISIS itu dirusak sebagai tanda bahwa mereka menolak keberadaan para pemberontak itu. Publik merespons cepat. Ada yang menganggap pembakaran itu sebagai aksi penolakan terhadap paham terorisme dan diperbolehkan. Sementara bagi yang lain itu merupakan penghinaan terhadap Islam, karena pelakunya merusak kalimat yang disucikan oleh kaum muslim.

Bagaimana semestinya kita menyikapi ini?

Pertama, perlu kita perlu mengakui bahwa bagi banyak umat muslim dua kalimat syahadat adalah simbol yang suci, sangat sakral. Maka segala sesuatu yang dilakukan untuk merusak, menghina, atau merendahkan simbol itu pasti akan direspons keras. Pertanyaannya, apakah respons itu perlu dengan kekerasan atau cukup dengan pendekatan kekeluargaan?

Kedua, kita cari tahu pelaku pembakaran bendera hitam itu sedang mengarahkan aksinya kepada siapa? Kepada umat muslim yang cinta damai? Atau kelompok teroris yang menggunakan simbol kalimat tauhid untuk membenarkan perilaku mereka seperti ISIS atau HTI? Apa maksud pembakaran itu dan mengapa mereka merekamnya secara sadar?

Ketiga, kita perlu memahami konteks peristiwa ini dengan mengambil jarak agar tetap bersikap waras. Apa yang membuat kita marah? Apakah pembakarannya dianggap menghina Islam? Jika iya, penghinaannya di mana? Jika tidak mengapa kita marah?

Ada beberapa respons yang muncul saat ini. Ada orang-orang yang menuntut agar para pelaku ini ditangkap, diproses hukum, karena dianggap melakukan penistaan terhadap agama Islam. Tapi apanya yang dinistakan atau dihina? Sebuah kalimat di bendera hitam dibakar, apanya yang menghina?

Ada yang lebih mengerikan daripada sekedar membakar bendera, yaitu bagaimana bendera itu digunakan. Kelompok HTI dan ISIS menggunakan simbol bendera ini. Mereka mengklaim dan mengkooptasi simbol tauhid untuk kepentingan mereka. Sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan simbol ini, jika kita melakukan kritik atau protes, dianggap melakukannya pada ajaran Islam.

Saya yakin dalam waktu dekat Felix Siauw dan seluruh simpatisan HTI akan merespons video pembakaran ini. Narasi yang akan digunakan: pemerintahan Joko Widodo zalim, membiarkan orang yang membakar kalimat tauhid tanpa proses hukum. Jika diproses hukum pun, dia akan tetap memprotesnya, kok hukumannya ringan? Sesudah semua itu dilakukan, ya jualan khilafah lagi.

Padahal ISIS ya menggunakan bendera rasulullah itu sebagai latar saat melakukan pemenggalan, pembunuhan, peledakan manusia, dan membakar manusia hidup-hidup. Pernah kita dengar orang-orang HTI memprotes ISIS menggunakan kalimat tauhid untuk perbuatan jahiliyah macam itu? Enggak ada.

Ada gejala memprihatinkan dari bagaimana kita merespons pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid itu. Beberapa orang ngotot bahwa bendera itu bukan bendera ISIS, tapi kalimat tauhid yang suci bagi umat islam. Lha iya, secara visual memang sama, tapi sekali lagi apakah bendera itu dibakar sebagai bentuk ekspresi protes menolak HTI/ISIS atau yang lain?

Untuk mengetahuinya ya perlu proses penyelidikan. Saya setuju bahwa orang-orang yang membakar tadi perlu diperiksa. Dipenjara? Ya enggak perlu, tidak ada yang terbunuh dalam proses pembakaran bendera itu. Pun jika ada upaya menggugat penistaan agama, perlu dibuktikan, apakah benar si pelaku berniat menista agama. Jangan sampai kejadian seperti Ahok dipenjara terulang lagi.

Tapi apakah simbol tauhid itu benar-benar penting? Bagaimana jika seseorang membakar masjid atau menggunakan sobekan Qur’an untuk ditempelkan pada senjata? Apakah itu bentuk penistaan bagi ajaran islam? Pertanyaan ini penting untuk mengukur sebenarnya mutu iman kita sejauh mana.

Apakah iman kita turun karena sebuah masjid atau kalimat tauhid dibakar? Jika tidak, mengapa protes? Tentu ada yang akan bilang begini: “Sekarang yang dibakar masjid atau bendera, besok apa?” Ini adalah narasi ketakutan dan kebencian.

Bagi saya, yang perlu ditanya bukan apa yang akan dibakar besok, taoi ada pertanyaan yang jauh lebih penting, “Jika iman dan kesabaranmu demikian mudah hancur karena kalimat tauhid dibakar, sebenarnya seberapa kuat mutu imanmu?”

Dalam sejarah Islam ada orang-orang yang menggunakan simbol agama untuk kepentingannya sendiri. Dalam perang Shiffin, Amr bin Ash menggunakan sobekan Alquran yang ditempel pada lembing untuk memerangi Imam Ali, khalifah sah saat itu. Mereka membuat umat Imam Ali untuk ragu berperang. Mereka takut merusak Alquran sehingga nanti masuk neraka.

Nabi Muhammad sendiri sebenarnya telah memberikan teladan bahwa keimanan tidak diukur dari apa yang tampak. Dua kali ia memberikan contoh bahwa simbol dalam agama bisa jadi tidak penting.

Pertama, saat ada orang badui yang mengencingi masjid, ia tidak marah, malah menganjurkan sahabat untuk membersihkan masjid itu. Kedua, saat pembakaran Masjid al-Dhirar yang dibangun oleh kelompok munafik. Jika memakai standar moral dan iman hari ini, saat ada orang yang kencing dan membakar masjid, bisa jadi orang itu akan dipancung di jalanan.

Tapi apakah dengan ini pembakaran kalimat tauhid diperbolehkan? Ya tentu saja tidak. Semua benar-benar tergantung pada niat. Saat proses pengarsipan Alquran, kitab-kitab yang tidak masuk standar kemudian dimusnahkan. Praktiknya dikubur dan atau dibakar, apakah kemudian para pelakunya menista ajaran nabi?

Di sini kita berlu bersikap dingin. Penegak hukum harus memproses para pembakar bendera itu, menanyakan maksud mereka, mengapa membakar, dan perlu menjelaskan kepada publik. Setelahnya ya meminta maaf jika memang dianggap menyakiti umat islam.

Jangan lupa, banyak dari kita yang ingin Ratna Sarumpaet dimaafkan, masak kita ngga mau memaafkan pelaku pembakaran bendera jika dia tidak berniat jahat?

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.