Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Bagaimana Jokowi Ditikam Dari Segala Penjuru

Menjadikan Science sebagai Common Denominator Spiritualitas

Ketika mendengar atau membaca nama Jalaluddin Rumi, saya langsung teringat pada jalan cinta menuju Tuhan yang diusungnya. Jalan cinta menuju Tuhan adalah jalan utama yang...

Unek-Unek Buruh Media Digital Setelah Polemik Tuyul Tribunnews

Tulisan ini sekelumit komentar saya sebagai seorang buruh media, sesudah hadir dalam diskusi Sindikasi, "Siapa Cepat Dia Dapat:Di Mana Publik dalam Industri Media Digital?"....

Meneliti Livi Zheng (Bagian 3)

KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU, menyampaikan kabar pada 25 Juli 2019 tentang sebuah film yang belum ada: The Santri. Di sebelahnya Livi...

Pemenang Indonesian Idol 2018 Adalah Kita

Jokowi-JK saja boleh mengklaim diri mereka adalah kita, mengapa kita tak boleh mengklaim Maria pemenang Indonesian Idol 2018 demikian? Klaim adalah kunci. Kalau tidak...
Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial

Tampaknya banyak yang tidak suka jika Indonesia maju. Banyak yang kebakaran celana dalam jika negeri ini membangun.

Di Timur, tiba-tiba gerakan separatisme menggila. Mereka membantai pekerja yang hendak membangun Papua. Padahal di Papua terhampar sumberdaya alam yang selama ini dikuasai asing. Ketika Jokowi memerintahkan agar proses divestasi Freeport HARUS selesai sebelum tutup tahun, tiba-tiba keberingasan meledak. Entah dari mana mereka bergerak.

Tujuannya jelas. Slogan Jokowi untuk membangunan Papua, hendak dicoreng.

Di bagian Barat, kelompok radikal sedang memainkan taringnya. Lihat saja. Kelompok pendukung khilafah dan kaum Islam politik tumbuh subur di Sumatera. Orang-orang digiring dengan kebencian agama. Tujuannya sama, mengganggu konsolidasi pembangunan.

Dari luar negeri, statemen duta besar Saudi yang menuduh Ansor organisasi sesat BUKAN TANPA sengaja. Berhasil merangsek langsung ke jantung emosi umat NU. Penjaga NKRI ini sedang dikoyak martabatnya.

Osama Al-Suaib memang telah mengedit tuitnya. Tapi ia tak kunjung minta maaf telah memasuki permasalahan internal negeri kita. Sesuatu yang diharamkan dalam adab diplomasi internasional.

Repotnya, para bakul politik ikut menabuh genderang yang memicu keributan. Prabowo di Singapura bicara soal korupsi seolah negeri ini mau hancur. Ia ingin memeloroti kepercayaan asing pada Indonesia. Padahal partainya paling banyak mengajukan Caleg mantan koruptor.

Singapura termasuk negara yang terganggu dengan pembangunan Indonesia. Usaha pemerintah untuk menarik seluruh aset warga dari luar negeri ke dalam sistem fiskal nasional –dengan amnesti pajak– sangat menganggu ekonomi negeri Singa itu. Belum lagi beroperasinya pelabuhan besar di Sumatera Utara. Kapal-kapal yang sebelumnya bersandar di Singapura kini bisa langsung masuk Indonesia. Pendapatan negeri itu melorot.

Jika mereka memberi panggung pada Prabowo untuk meracau tentang keburukan Indonesia, bahkan memakai data yang salah, rasanya bisa dimaklumi. Singapura terganggu dengan kebangkitan Indonesia yang dikomandoi Jokowi. Mereka ingin Indonesia seperti dulu. Indonesia yang gampang dikibuli. Di tangan Prabowo-Sandi, harapan itu disandarkan.

Membangkitkan harga diri bangsa, memang bukan jalan mudah. Nasionalisme bisa diartikan sebagai ancaman kepentingan asing. Kemajuan ekonomi Indonesia juga dianggap ancaman. Tantangan inilah yang dihadapi Jokowi.

Lelaki kurus tukang kayu ini tidak muluk-muluk berfikirnya. Ia hanya ingin Indonesia bisa sejajar dengan negara lain. Ia ingin kesejahteraan rakyat meningkat pesat. Ia ingin meletakkan pondasi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Justru karena itulah Jokowi dimusuhi.

Asing memusuhinya, karena Jokowi sangat telaten menjaga kekayaan alam Indonesia. Elit lokal memusuhinya karena Jokowi menutup semua celah yang biasa mereka nikmati untuk menggarong kekayaan rakyat.

Kelompok garis keras memusuhi, karena garis politik Jokowi menghambat pergerakan mereka. Sumber daya ekonomi mereka juga dipotong. Jokowi mengeluarkan UU yang melarang Ormas radikal ada di Indonesia.

Indonesia adalah negara kaya yang selama ini dikelilingi perompak. Semua berebut menikmati bancakan. Dulu elitnya masa bodoh, bahkan ikut beramai-ramai menghabisi kekayaan Indonesia. Rakyat gigit jari.

Kini Jokowi membuka mata semua orang, bahwa kita bisa berdiri di kaki sendiri. Kita bisa mengelola kekayaan sendiri untuk kesejahteraan rakyat.

Sepanjang pemerintah mau kerja serius, mau bersusah-susah menjaga harta rakyat, kita punya peluang untuk maju. Tapi ingat, tidak semua orang suka dengan rakyat yang cerdas dan bermartabat. Apalagi kemajuan ini berakibat pada tertutupnya sumber nafkah mereka.

Itulah yang dihadapi Jokowi sekarang. Apakah kita akan membiarkannya berjalan sendirian?

“Mas, Jokowi tidak akan sendirian. Ia bukan jelangkung, yang datang gak dijemput, pulang gak diantar. Ia Presiden kita, mas,” ujar Abu Kumkum.

Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

Civil Society, Pariwisata Nasional, dan Dikotomi Ekonomi Vs Kesehatan

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata telah menjadi sumber pendapatan devisa terbesar nomor dua (280 triliun Rupiah pada 2019) di Indonesia untuk kategori non-migas. Ini...

PKI dan Narasi Sejarah Indonesia

Bagaimanakah kita menyikapi narasi PKI dalam sejarah Indonesia? Sejarah resmi mencatat PKI adalah organisasi politik yang telah menorehkan “tinta hitam” dalam lembaran sejarah nasional,...

Janji Manis Penyelesaian HAM

Setiap memasuki bulan September, negeri ini selalu dibangkitkan dengan memori tentang sebuah tragedi kelam yang terjadi sekiranya 55 tahun silam. Peristiwa diawali dengan terbunuhnya enam...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.