Minggu, Maret 7, 2021

Bagaimana Jokowi Ditikam Dari Segala Penjuru

Islam Kaffah Bukan Dicapai Tapi Dicari

“Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan sebilah pedang,” begitulah kata Yesus yang termaktub dalam Matheus (10:34). ‘Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mengucapkan Lailaha...

Mengapa Harga Buku Mahal?

Banyak yang bertanya-tanya, kenapa harga buku "mahal"? Ya, kalau dibandingkan dengan bajakan, memang jauh. Karena saya sendiri bukan orang bisnis, belakangan saya tanya-tanya kepada beberapa...

Agar Agama Tak Jadi Kutukan

Imagine there’s no country And no religion too Imagine all the people Living life in peace (John Lennon dalam “Imagine”) Marxisme pernah memimpikan anarkisme, masyarakat tanpa negara. Jauh, sebelum...

100 Dokter: Berlanjut atau Berhenti?

Sudah 100 Dokter gugur dalam menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia. Entah berapa lagi untuk membuat kita sadar dan sedikit berempati. Dengan rasio dokter dan...
Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial

Tampaknya banyak yang tidak suka jika Indonesia maju. Banyak yang kebakaran celana dalam jika negeri ini membangun.

Di Timur, tiba-tiba gerakan separatisme menggila. Mereka membantai pekerja yang hendak membangun Papua. Padahal di Papua terhampar sumberdaya alam yang selama ini dikuasai asing. Ketika Jokowi memerintahkan agar proses divestasi Freeport HARUS selesai sebelum tutup tahun, tiba-tiba keberingasan meledak. Entah dari mana mereka bergerak.

Tujuannya jelas. Slogan Jokowi untuk membangunan Papua, hendak dicoreng.

Di bagian Barat, kelompok radikal sedang memainkan taringnya. Lihat saja. Kelompok pendukung khilafah dan kaum Islam politik tumbuh subur di Sumatera. Orang-orang digiring dengan kebencian agama. Tujuannya sama, mengganggu konsolidasi pembangunan.

Dari luar negeri, statemen duta besar Saudi yang menuduh Ansor organisasi sesat BUKAN TANPA sengaja. Berhasil merangsek langsung ke jantung emosi umat NU. Penjaga NKRI ini sedang dikoyak martabatnya.

Osama Al-Suaib memang telah mengedit tuitnya. Tapi ia tak kunjung minta maaf telah memasuki permasalahan internal negeri kita. Sesuatu yang diharamkan dalam adab diplomasi internasional.

Repotnya, para bakul politik ikut menabuh genderang yang memicu keributan. Prabowo di Singapura bicara soal korupsi seolah negeri ini mau hancur. Ia ingin memeloroti kepercayaan asing pada Indonesia. Padahal partainya paling banyak mengajukan Caleg mantan koruptor.

Singapura termasuk negara yang terganggu dengan pembangunan Indonesia. Usaha pemerintah untuk menarik seluruh aset warga dari luar negeri ke dalam sistem fiskal nasional –dengan amnesti pajak– sangat menganggu ekonomi negeri Singa itu. Belum lagi beroperasinya pelabuhan besar di Sumatera Utara. Kapal-kapal yang sebelumnya bersandar di Singapura kini bisa langsung masuk Indonesia. Pendapatan negeri itu melorot.

Jika mereka memberi panggung pada Prabowo untuk meracau tentang keburukan Indonesia, bahkan memakai data yang salah, rasanya bisa dimaklumi. Singapura terganggu dengan kebangkitan Indonesia yang dikomandoi Jokowi. Mereka ingin Indonesia seperti dulu. Indonesia yang gampang dikibuli. Di tangan Prabowo-Sandi, harapan itu disandarkan.

Membangkitkan harga diri bangsa, memang bukan jalan mudah. Nasionalisme bisa diartikan sebagai ancaman kepentingan asing. Kemajuan ekonomi Indonesia juga dianggap ancaman. Tantangan inilah yang dihadapi Jokowi.

Lelaki kurus tukang kayu ini tidak muluk-muluk berfikirnya. Ia hanya ingin Indonesia bisa sejajar dengan negara lain. Ia ingin kesejahteraan rakyat meningkat pesat. Ia ingin meletakkan pondasi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Justru karena itulah Jokowi dimusuhi.

Asing memusuhinya, karena Jokowi sangat telaten menjaga kekayaan alam Indonesia. Elit lokal memusuhinya karena Jokowi menutup semua celah yang biasa mereka nikmati untuk menggarong kekayaan rakyat.

Kelompok garis keras memusuhi, karena garis politik Jokowi menghambat pergerakan mereka. Sumber daya ekonomi mereka juga dipotong. Jokowi mengeluarkan UU yang melarang Ormas radikal ada di Indonesia.

Indonesia adalah negara kaya yang selama ini dikelilingi perompak. Semua berebut menikmati bancakan. Dulu elitnya masa bodoh, bahkan ikut beramai-ramai menghabisi kekayaan Indonesia. Rakyat gigit jari.

Kini Jokowi membuka mata semua orang, bahwa kita bisa berdiri di kaki sendiri. Kita bisa mengelola kekayaan sendiri untuk kesejahteraan rakyat.

Sepanjang pemerintah mau kerja serius, mau bersusah-susah menjaga harta rakyat, kita punya peluang untuk maju. Tapi ingat, tidak semua orang suka dengan rakyat yang cerdas dan bermartabat. Apalagi kemajuan ini berakibat pada tertutupnya sumber nafkah mereka.

Itulah yang dihadapi Jokowi sekarang. Apakah kita akan membiarkannya berjalan sendirian?

“Mas, Jokowi tidak akan sendirian. Ia bukan jelangkung, yang datang gak dijemput, pulang gak diantar. Ia Presiden kita, mas,” ujar Abu Kumkum.

Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.