Selasa, Januari 26, 2021

Tentang Gairah Nyinyir yang Tak Sudah-sudah

Laut Menyatukan Nusantara

Hari ini 62 tahun yang lalu, 13 Desember 1957, Indonesia pernah menggetarkan dunia. Ya, Deklarasi Djuanda, sebuah peneguhan atas politik kewilayahan Indonesia sebagai negara...

Indonesia Maju Tak Lepas dari Pendidikan!

Ada pepatah yang mengatakan bahwa untuk membangun suatu bangsa, maka faktor yang paling penting adalah membangun manusianya. Hal ini tentu sangat sesuai dengan Undang-Undang...

Waspada Gambar dan Video Hoax di Media Sosial

Seeing is believing, kata pepatah. Artinya, melihat itu lebih meyakinkan. Satu gambar bisa mengalahkan seribu kata. Karena itu, banyak pihak memakai berbagai efek visual...

Neno Warisman dan Imprimatur Amerika untuk Politik Indonesia

Kalau berita Neno Warisma akan deklarasi #2019GantiPresiden di Amerika Serikat itu benar, ia akan jadi salah satu langkah yang paling ganjil dalam politik Indonesia....
Avatar
Harri Gieb
menjual buku yang tidak ada di toko buku! #SufiKakiLima #PulangKerja #JakartaItuKeras
Bagaimana kita bisa menjelaskan sebuah tubuh bisa membuat seisi negara membicarakannya.
 
Dari peristiwa VA ini, kita bisa menyaksikan betapa kekuasaan mampu menggapai, menembus dan mengontrol individu sampai pada kenikmatan-kenikmatan yang paling intim. Kita dipahamkan, di seputar hubungan intim itu telah dibangun perlengkapan serta mesin untuk memproduksi kebenaran. Artinya seks ternyata bukan hanya masalah sensasi dengan kenikmatan, atau hukum dan larangan. Tetapi di dalam seks dipertaruhkan masalah benar dan salah.
 
Bicara seks, tak afdol kalau tak mengutip Foucault. Fatwa beliau dalam La Volonte de Savoir: Histoire de la Sexualite (Seks dan Kekuasaan: Sejarah Seksualitas, terj.), ada konspirasi kekuasaan-pengetahuan sehingga kekuasaan menjangkau sampai pada perilaku yang paling individual dan intim. Di media, seks selalu ada dan menjadi kolom yang tak terlewatkan. Kolom itu biasa diasuh oleh seorang pakar: dokter, psikolog, psikiater. Kehadiran pakar ini adalah ilustrasi betapa kekuasaan-pengetahuan merambah kehidupan paling intim subyek.
Lalu kelihatan bahwa kekuasaan terhadap seks hanya bisa membuat larangan atau hanya bisa mengatakan tidak. Kekuasaan bisa mengambil bentuk instansi yang mengatur. Dalam hal ini, kekuasaan memberi peraturan, sah atau tidak, boleh atau dilarang. Dengan demikian, seks dipahami hanya dalam kerangka hukum. Kekuasaan membentuk lingkaran larangan sangat beragam, dari jangan berbicara; jangan mendekat; jangan menyentuh; sampai pada jangan melakukan. Tujuan lingkaran larangan ini ialah agar seks meninggalkan dirinya.
 
Foucault memberikan contoh, salah satu dimensi larangan adalah sensor. Logika sensor yang terpateri dalam larangan bisa mempunyai tiga bentuk, yaitu menyatakan tidak boleh; menghalangi jangan sampai dikatakan; menyangkal bahwa ada. Ketiga hal ini merupakan bentuk mekanisme sensor. Cara beroperasi sama di semua tingkat. Kekuasaan atas seks beroperasi dengan cara yang sama pada setiap tingkat, yaitu mereproduksi hukum, larangan dan sensor.
Cara beroperasi ini berjalan secara sama baik di tingkat negara, keluarga, agama, penguasa, ayah, pengadilan atau semua instansi dominasi sosial. Jadi kekuasaan adalah banyaknya hubungan kekuatan yang melekat pada bidang di mana ia beroperasi; permainan melalui perjuangan dan bentrokan tanpa henti untuk mengubah, memperkuat dan membalikkan. Kekuasaan itu menyebar, ada di mana-mana.
 
Romo Haryatmoko dalam sebuah kuliah tentang Foucault pernah menyampaikan, prosedur kebenaran menurut Foucault, ialah cara bagaimana suatu praktik sosial mendapat legitimasi. Hanya prosedur itu sangat ditentukan oleh struktur pemaknaan suatu jaman dan konteks tertentu, yang pada gilirannya, menentukan cara berpikir, bertindak dan menilai. Dua prosedur untuk memproduksi kebenaran seks: pertama, ars erotica (Cina, Jepang, India, Roma, Arab-Islam); dan kedua, scientia sexualis (Barat). Dalam ars erotica, kebenaran digali dari kenikmatan itu sendiri sebagai praktik dan dikumpulkan sebagai pengalaman.
Perspektif ini tidak dipahami dalam kerangka hukum (boleh-dilarang) atau kriteria kegunaan. Seks dipahami dalam kenikmatan, intensitas, kualitas khas, keberlangsungan, pantulan dalam tubuh dan jiwa. Sedangkan, dalam scientia sexualis, yang dikembangkan adalah prosedur yang mengatur bentuk kekuasaan-pengetahuan. Kekuasaan pengetahuan ini mengurus masalah pengakuan. Ritus-ritus dibuat untuk memproduksi kebenaran (teknik pengakuan, prosedur penuduhan, interogasi, penghilangan bukti kesalahan, sumpah, duel, pengadilan Tuhan). Pengakuan dihargai sebagai sarana menghasilkan kebenaran.
Tubuh menjadi kajian politik karena kegiatan intim yang dilakukan dengan gembira. Hidup menjadi bagian arena kontrol pengetahuan dan campur tangan kekuasaan. Kekuasaan tidak lagi hanya berurusan dengan subyek hukum, tetapi fokusnya pada makhluk hidup. Jadi tanggung jawab atas kehidupan memberi akses kekuasaan masuk sampai pada tubuh. Tubuh adalah politik karena seks.
 
Karena tubuh VA, saya jadi teringat Al Masih ketika berhadapan dengan orang-orang yang ingin merajam Maria Magdalena. Al Masih dengan tegar mengucapkan, “Siapa yang merasa dirinya tidak pernah berdosa, silakan jadi orang yang pertama merajam Maria Magdalena!”.
 
Jangan menyerah, VA. Kita, yang fana ini, acap kali akan tenggelam suatu saat bersama suara kereta yang berisik namun menyimpan memori puitis itu. Dalam fana, ada sebuah harap. Bahwa yang tenggelam tak pernah hilang total. Ia akan selalu kembali. Mungkin semacam Sisiphus dalam cerita Albert Camus itu. Suatu waktu, mungkin kita akan berada, seperti dalam sajak Subagio Sastrawardojo, ‘ruang kosong dan angin pagi’. Sebab, ada hal-hal yang tak bisa ditaklukkan oleh kata (baca: nyinyiran).
 
Dalam hidup yang redup, kita menemukan kembali kebenaran sebagai proses, bukan sebagai kesimpulan. Kesimpulan (dari kata “simpul”, yang mengikat), mengimplikasikan adanya kekuasaan untuk menetapkan dan mengikat, adanya pemaksaan untuk menutup tafsir. Di hadapan wacana yang seperti itu, kita adalah keterbukaan kepada yang tak rapi terumuskan, yang tak ternamai. Terkadang itu berarti keterbukaan kepada hening yang bukan kosong, kepada suwung yang sebenarnya berisi. Ganbate, VA!

Avatar
Harri Gieb
menjual buku yang tidak ada di toko buku! #SufiKakiLima #PulangKerja #JakartaItuKeras
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.