Jumat, Januari 22, 2021

Ali Mochtar Ngabalin Cawapres Jokowi, Kenapa Tidak?

Surat Terbuka untuk Susi Pudjiastuti Tentang Tuduhan Sampah Plastik di Pulau Tabuhan Banyuwangi

Perkenalkan bu. Nama saya Rachmawati. Tapi biasa dipanggil Iraa dengan doubel a di belakang. Sederhana karena saya suka matatahari. Di Yunani, masyarakatnya menyebutnya Raa....

ASN Zaman Now: Malas dan Korupsi?

Selama mengikuti Latihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) beberapa waktu lalu, saya selalu mendengar dengungan yang berulang dan agaknya penuh semangat dari widyaiswara:...

Apa Salah Menghina Presiden?

Negeri ini penuh muslihat. Itulah yang saya tangkap dari cerita RJ Lino tentang control room yang dikutip Rhenald Kasali. Isinya begini. Menjelang akhir Juni...

Cerdik, Bukan Auto-Baik

“Apakah Jokowi itu orang yang baik?” Selain bukan hal sederhana untuk dijawab, pertanyaan tersebut telah berkontribusi membelah publik dalam menyikapi posisi politik Jokowi berkenaan...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Siapa Cawapres Jokowi yang ideal? Beberapa saat saya punya pertanyaan itu. Saya akhirnya mencari siapa kira-kira figur ideal. Saya tidak bicara ideal secara politik. Artinya, orang yang bisa diterima oleh para elite partai dan para oligarkh yang menguasai negeri ini. Saya bicara soal kemampuan. Soal naluri politik (gut feeling). Soal kemampuan membangkitkan kegairahan. Soal kemampuan berbicara dan kemampuan menarik perhatian orang.

Menurut saya, wakil presiden Jokowi harus orang yang muda. Tidak ada gunanya memiliki wakil presiden yang umurnya lebih dari 70 tahun, misalnya. Presiden ini sudah berpengalaman memerintah selama 5 tahun. Dia sudah tahu persis peta politik Jakarta.

Selama ini presiden terlihat terampil mengayuh di antara karang dan onak duri politik. Menurut saya, keterampilannya ini jauh lebih hebat dari Soeharto. Karena apa? Karena presiden yang sekarang ini tidak punya senjata yang dia pakai untuk menodong lawan-lawannya.

Presiden ini juga tampaknya menguasai dan memegang kendali penuh atas kabinetnya. Selama ini, kecuali sebentar di masa-masa awal, tidak ada saling potong dan saling tabrakan antara anggota kabinet. Artinya, mereka terkoordinasi dengan baik. Program-program presiden jalan. Dan para anggota kabinet tampaknya menyampaikan hasil (delivered) yang juga lumayan bagus.

Jika semua hal itu sudah berjalan dengan baik, wakil presiden macam apa yang dibutuhkan Jokowi? Menurut saya, presiden ini sebenarnya membutuhkan seorang wakil yang bisa menjelaskan kepada publik segala macam kebijakannya. Dia adalah jurkam dan sekaligus humas tertinggi bagi presiden. Dia sekaligus juga adalah penjaga dan pembela presiden yang paling tangguh. Dia juga bisa menjadi penyerang yang lihai untuk oposisi. Dia bisa menyampaikan hal-hal rumit dalam kebijakan dengan bahasa yang jelas dan dipahami publik.

Tidak banyak orang yang berada dalam kualitas itu. Salah satunya adalah Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si.

Kaget? Boleh. Asal jangan kejang-kejang.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton wawancara singkat BBC Indonesia dengan Ali Mochtar Ngabalin. Terus terang, ini pertama kali saya mengikuti gaya politisi ini dari dekat.

Kalau Anda sempat memperhatikan, lihatlah gayanya. Cara dia menceritakan bagaimana presiden memintanya untuk bergabung dengan KSP. “Beliau menelepon bulan puasa tahun lalu, Kawan!” katanya. Perhatikan sebutan egaliter ‘kawan’ itu. “Brader, bukan ujuk-ujuk seperti orang tidak punya apa-apa kemudian langsung datang!” sahutnya berapi-api.

Lihatlah kerlingan matanya. Juga gerakan tangannya yang seperti menari ketika mengucapkan “Quote and quote.” (Menit 1:02)

Ali Ngabalin: "Saya pertaruhkan nyawa untuk Jokowi".

#Video: Ali Ngabalin, antara 'kutu loncat' dan buka serban…Ali Mochtar Ngabalin berpaling dari kubu Prabowo, menjadi staf ahli Presiden Joko Widodo di Kantor Staf Presiden. Jurnalis BBC Indonesia, Heyder Affan berbincang khusus dengan Ali Ngabalin, membahas sikap politik dan gaya hidupnya.Simak berita selengkapnya di tautan ini: http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44384109

BBC News Indonesia 发布于 2018年6月14日周四

Dia kontroversial, iya. Dia bisa menjengkelkan, itu benar. Lihatlah jawaban dia atas tuduhan sebagai ‘kutu loncat.’ Dia menyergah, “Ini politik, kawan!” Politisi selalu berbohong. Yang membedakan seringkali adalah apakah kebohongan itu disampaikan dengan elegan atau tidak.

Ngabalin mengatakan, “Nyawa saya pertaruhkan kepada Bapak (presiden, maksudnya), sepanjang kebenaran dan kejujuran yang Bapak laksanakan.” Siapakah yang percaya bahwa ada orang yang beberapa tahun lalu menjadi pengkritik Jokowi paling keras dan kemudian sekarang berani mempertaruhkan nyawa untuk dia? Ngabalin mampu menyampaikannya dengan elegan.

Ditambah lagi dengan kondisionalitas, “Sepanjang kebenaran dan kejujuran.” Tentu kondisionalitasnya ini sangat sumir. Apakah yang benar dan jujur itu? Persoalan pendefinisian ini sangat sulit untuk dicari batasannya. Di kemudian hari, ketika kepentingannya berubah, dia bisa mencari celah bahwa kebenaran dan kejujuran sudah dicederai.

Dr. Ali Mochtar Ngabalin jadi cawapres Jokowi? Mengapa tidak? Dia Muslim. Dia mengaku bahwa dia ingin menjadi jembatan untuk umat Islam, atau paling tidak antara para mubaligh dengan pemerintah. Dia berpendidikan baik. Dia juga punya naluri politik yang bagus. Setidaknya terlihat dari pembacaannya terhadap situasi politik masa kini yang dilihatnya tidak punya masa depan untuk dirinya kalau terus berada di oposisi.

Mungkin yang lebih penting lagi adalah bahwa dia berasal dari Fakfak, Papua. Dr. Ngabalin mungkin akan membuat politik Indonesia semakin berwarna-warni. Walaupun kita tahu bahwa Dr. Ngabalin tidak banyak bicara soal bangsa Papua dan penderitaannya. Namun, hal seperti itu tentu bisa dipelajari.

Apakah Dr. Ngabalin punya kans? Mungkin tidak. Namun setidaknya, dengan memikirkan kemungkinnya, kita merangsang otak kita berpikir tentang wakil presiden yang pantas untuk Jokowi. Saya melihat banyak pembantu dekat presiden justru tidak membela presiden ketika terdesak. Ali Mochtar Ngabalin terbukti mampu melakukan itu.

Bukan begitu?

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.