Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Al Qur’an dan Pom Bensin

Dari Wiranto, Akbar, Randi, ISIS, Sampai Wamena

Percobaan pembunuhan dengan sebilah pisau yang menimpa Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto (10/10/2019), menjadi topik pembicaraan hangat hari-hari ini. Tersangka pelaku penusukan yang...

PKI Tak Pernah Bangkit Sebab Tak Pernah Mati, Muhammadiyah Melawan Lupa

Karl Popper pernah berkata, keliru adalah manusiawi, dan saya berbuat manusiawi sekaligus dua. Maka tesis Daniel Bell tentang The end of ideology pun patah....

Fenomena Pindah Agama, Dakwah, dan Dilema Kita

Seorang selegram perempuan pindah agama, sebagian (besar) warganet berontak. Bahkan tidak sedikit yang keranjingan menghujat di layar gawai mereka. Pasalnya, selebgram yang bersangkutan dulunya menganut...

Hanung Bramantyo dan Politik Keaktoran dalam Film

Kemunculan cuplikan film Bumi Manusia baru-baru ini telah mendapatkan sambutan positif dan negatif dari para netizen. Bagaimana tidak, setelah menanti bertahun-tahun lamanya, akhirnya mahakarya...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Foto pom bensin yang memberikan bonus dua liter gratis bagi pembeli yang apal dua jus al Quran jadi perbincangan publik. Beberapa menilai sebagai gimmick marketing, strategi itu sukses mendapatkan perhatian banyak orang. Sementara beberapa berpendapat bahwa hal itu diskriminatif karena hanya muslim, atau mereka yang hapal Qur’an saja yang bisa mendapatkan bonus tersebut.

Dalam hal ini kita perlu melihat fenomena ini dengan jarak yang lebih jauh. Mereka yang mendukung gimmick marketing ini berpendapat bahwa, karena pom bensin dimiliki perseorangan, maka itu adalah hak sepenuhnya si pemilik dan tak ada diskriminasi di sana. Sementara mereka yang menolak menganggap bahwa promosi berbasis SARA di saat isu sektarian demikian genting berpotensi mempertajam sentimen antara agama.

Dua argumen ini mesti diperiksa secara menyeluruh. Misalnya apa yang dianggap diskriminatif? Apakah privilej tentang membaca dua jus Al Qur’an? Dalam foto tersebut tidak ada ketentuan bahwa seseorang yang hendak menghafal Qur’an prasyaratnya beragama islam. Siapapun, yang hapal dua jus boleh mendapatkan bensin sebanyak dua liter. Maka di sini kompetisinya setara dan fair, siapapun anda, asal hapal dua jus dalam Qur’an berhak mendapatkan bensin gratis.

Jadi masalah dan diskriminatif jika kemudian SPBU itu hanya menjual bensin untuk mereka yang hapal dua jus Al Qur’an, atau hanya pada umat muslim. Sejauh ini gratis bagi penghapal Qur’an hanya marketing gimmick belaka, tidak ada larangan bagi orang lain yang hendak membeli bensin dengan uang. Artinya secara umum SPBU itu tidak melakukan kesalahan apapun.

Hanya saja, promosi dengan mendorong identitas keagamaan punya potensi berbahaya. Apalagi saat populisme konservatif agama di Indonesia sedang kuat-kuatnya. Identitas keislaman, sebagai muslim, sebagai agama mayoritas banyak dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Misalnya melalui aksi 212 yang awalnya dianggap untuk aksi umat, belakangan kemudian mendukung Prabowo.

Gimmick marketing semestinya tidak memanfaatkan sentimen keagamaan yang berpotensi melahirkan konflik. Pom Bensin itu tidak melarang non muslim untuk membeli bahan bakar, bahkan tidak ada larangan bagi non muslim untuk ikut serta dalam kompetisi hapal Qur’an, tapi ia punya potensi privilej. Mereka yang lahir sebagai muslim, tumbuh dengan ajaran islam, punya potensi lebih besar untuk mendapatkan promosi itu daripada mereka yang tidak.

Sejauh ini sebagian muslim meributkan atribut natal bagi umat muslim yang dipakai sebagai gimmick marketing saat natal. Padahal ya tidak ada paksaan bagi muslim untuk masuk kristen atau otomatis menjadi murtad hanya karena pakai topi santa clause. Sentimen agama dimanfaatkan, dibesarkan, dan dikembangkan untuk dua hal. Mendorong konsumsi kapitalis dan konservatif religius.

Temuan lain yang cukup mengkhawatirkan adalah beberapa Perguruan Tinggi Negeri menganjurkan penghafal Qur’an untuk diterima tanpa ujian akademik. Ada yang salah dari kebijakan ini. Jika Universitas adalah lembaga pendidikan yang memproduksi lulusan akademik, mengapa tolok ukur diterima atau tidaknya adalah penghafalan ayat kitab suci? Sebagai ilustrasi, universitas itu juga tidak melarang non muslim untuk mendaftar, bahkan dalam pamflet promosinya tidak ada syarat muslim untuk bisa ikut kompetisi hafal Qur’an, tapi diprotes ya karena tidak sesuai kaidah akademik.

Kekhawatiran bahwa promosi dengan menggunakan sentimen agama akan berujung pada perpecahan adalah hal yang wajar. Beberapa tempat di Indonesia mengalami upaya islamisasi dan menolak kemajemukan. Indikasi yang bisa diukur seperti maraknya perumahan khusus muslim, pemakaman khusus muslim, desa khusus muslim, dan sejenisnya. Sentimen agama ini tentu punya potensi dimaknai berbeda, seperti ekslusifitas, anti perbedaan, dan upaya meliyankan yang bukan islam.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.