Minggu, Oktober 25, 2020

Akrobat Berebut Kursi: Megawati-Prabowo dan Anies-Paloh

Delusi Prabowo dan Marwah Pers Indonesia

PERISTIWA reuni alumni 212 yang digelar di Monas, Minggu (2/12) lalu, oleh mereka yang bangga dengan event tersebut, disebut sebagai peristiwa "spektakuler". Spektakuler, sebab mereka...

TVRI, Televisi Tanpa Visi?

Dunia pertelevisian di Indonesia pernah mencapai puncaknya, yaitu saat frekwensinya dibuka untuk penyiaran TV swasta. Sejak itulah para pebisnis TV swasta bersaing merebut uang...

Wanita dalam Media, Ada Apa?

Gender selalu menjadi hal yang tidak ada habis-habisnya untuk dibicarakan. Sadar ataupun tidak sadar kita sudah dikotakkan oleh gender bahkan sebelum kita lahir ke...

Mencari Arti dan Cara Dunia Bekerja Melalui Film Parasite

Parasite adalah film Bong Joon-ho yang tidak bertele-tele. Efisien. Pengenalan karakter berlangsung cepat. Plotnya gegas. Premis cerita segera kita pahami sebagian tak sampai sepertiga durasi....
Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial

Inilah politik. Semua serba cair. Ada wajah politik yang tampil di permukaan, ada juga yang ada di belakang panggung. Mungkin di antara keduanya bisa saja berbeda lakonnya.

Catatan yang penting buat kita, jangan gunakan kacamata hitam-putih untuk menilai semua fenomena politik. Jangan terlalu naif, kalau enggak mau stres berkepanjangan. Cukuplah kita menikmati manuver-manuver seperti ini dengan kepala dingin. Jangan pol-polan.

Maka, kemarin kita saksikan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dan orang dekatnya menerima Prabowo Subianto di rumahnya. Prabowo datang bukan sebagai pribadi, tetapi sebagai Ketua Umum Partai Gerindra. Ia didampingi Ahmad Muzani, sekretaris jenderal Gerindra.

Simbol diterimanya Prabowo di kediaman Megawati, Menteng, menandakan bahwa kehadiran Gerindra disambut dengan tangan terbuka oleh PDI Perjuangan. Ada peluang Gerindra akan ikut masuk ke koalisi Jokowi-Ma’ruf.

Tentu saja pertemuan itu membuat gerah parpol koalisi Jokowi. Dua hari ketua-ketua parpol saling bertemu. Ada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), NasDem, Golkar, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Simbol apa yang kita bisa baca dari pertemuan ketua parpol tersebut? Mereka khawatir kehadiran Gerindra akan mengurangi jatah mereka.

Gubernur Anies Baswedan dan Ketua Umum NasDem Surya Paloh.

Bukan hanya itu. Respons keras juga datang dari Surya Paloh, Ketua Umum Partai NasDem. Kemarin Paloh menerima Gubernur Jakarta Anies Baswedan di kantor NasDem. Bersamaan dengan pertemuan Megawati dan Prabowo. Bahkan Paloh dan Anies sempat membahas soal Pemilu 2024 segala dan NasDem siap mencalonkan Anies pada Pilpres 2024.

Bagi yang terbiasa memakai kacamata hitam-putih pasti gagap melihat suasana seperti ini. Nasdem adalah partai pertama yang mendukung Basuki Tjahaja Purna alias Ahok untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Jadi, pertemuan ketua umumnya dengan Anies Baswedan kemarin siang mengisyaratkan bahwa mereka bisa berbeda dengan PDI Perjuangan dalam memilih jalan politik.

Tapi, mari kita baca pertemuan-pertemuan itu sebagai bahasa simbolis untuk saling meningkatkan daya tawar dari masing-masing kekuatan politik. Komposisi pos-pos penting di eksekutif maupun legislatif pada 2019 ini diperkirakan akan menentukan arah permainan pada 2024.

Saya melihat ini sebagai sesuatu yang biasa saja. Permainan-permainan ini tidak menunjukan makna banyak, selain mencari kesepatan-kesepatan baru untuk pos-pos baru baik di legislatif maupun eksekutif.

Yang menjadi perhatian saya adalah partai apa yang akan berposisi sebagai oposisi? KIta tahu, di antara semua partai hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sudah mantap menjadi oposisi. Sedangkan Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat sudah merengek-rengek minta masuk ke koalisi Jokowi.

Apa dampaknya? Jika PKS dibiarkan bermain sendirian sebagai oposisi, mereka akan mendapat berkah elektoral besar pada Pemilu 2024 nanti. Sebagai partai yang sering menggunakan politik identitas, sepertinya PKS punya peluang mengumpulkan banyak dukungan dari pendukung Prabowo yang kecewa.

Sudah menjadi rahasia umum Pemilihan Presiden 2019 lalu dikotori dengan geliat politisasi agama. Sebagai partai berbasis agama, kalau PKS menjadi oposisi akan berdampak makin menguatkan polarisasi isu agama di masa datang. Bayangkan kalau PKS cuma sendiri menjadi oposisi, apa enggak makin menguatkan isu tersebut?

Saya berharap jika saja Gerindra diajak masuk ke koalisi Jokowi-Ma’ruf, tetap harus disisakan parpol lain untuk menempati posisi oposisi. Jangan biarkan PKS sendiri. Biarkan PAN, Demokrat, dan PKS berada di luar pagar. Jikapun pembicaraan bagi-bagi kursi dilakukan, saya berharap pos untuk Gerindra bukan di kabinet, tetapi cukup di legislatif. Posisi ketua MPR dan wakil ketua DPR sepertinya cukup.

Baca juga

Nasib Oposisi Pasca Jokowi-Prabowo Cipika-Cipiki

Menakar Kekuatan Oposisi Pasca Pemilu 2019

Pak Jokowi, Ini Lho Untung-Rugi Rekonsiliasi

Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.