OUR NETWORK

Ahok: PSI Partai Kecil Omong Gede?

Tapi Ahok bukanlah jenis “role model” yang layak buat dicontoh, lepas dari sisi baiknya. Ia rada-rada mengidap semacam “delusi personal” pada apa yang diyakininya benar. Penyakit yang membuat dia sukar, lost control untuk menyaring mana yang penting harus dikatakan dan mana yang harus disimpan, walau itu benar dalam pikirannya.

Ahok adalah “manusia kontroversial abadi”. Kapan dan di mana pun dia berada, pikiran dan mulutnya tak berjarak. Bahkan, untuk sedikit menimbang manfaat dan mudaratnya, baik bagi dirinya maupun pihak lain.

Adalah sepenuhnya hak Ahok dengan segala alasan yang dibikinnya untuk memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Tapi apa perlunya harus berkata kasar terhadap Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hanya sekedar menolak ajakannya untuk bergabung? Bukankah yang dilakukan PSI normal belaka? Terlebih karena atas kesadaran prinsipilnya sendiri PSI pernah mengambil resiko dukung Ahok di momen-momen paling genting karirnya sebagai figur politik?

Nyablak sepertinya memang sudah bawaan orok Ahok. Ya, ia jujur dengan pikirannya, bahkan untuk perkara yang tak ada urgensinya untuk dikatakan. Sering tanpa kemasan pula! Ada nasehat lama: “Yang dikatakan harus benar, tetapi tidak setiap yang benar harus dikatakan” sepertinya tak berlaku buat orang seperti Ahok. Tak perduli dia orang lain teriris, marah, dan murka. Bodo amat!

Ahok tak butuh nasehat. Ia telah mengalami (mungkin berlanjut) jatuh-bangun dalam karir politiknya: sebagai wakil gubernur, gubernur, pernah dipenjara, lalu bebas dan sekarang menjadi Komisaris Pertamina! Nasehat dia (itu pun kalau dia mau), adalah menarik pesan dari puncak-puncak pengalaman dramatiknya sendiri. Bukan dari orang lain.

Saya masih menyisakan sedikit respek pada kejujuran pikirannya pada hal-hal yang sepenuhnya terkait dengan isu-isu publik yang strategis. Tak mudah buat figur politik yang mengidap “triple minority” (Cina, Kristen, dan orang sebrang) bisa omong tegas dan vulgar untuk sesuatu yang diyakininya benar, walau harus menanggung prahara.

Itu masih jauh lebih baik dari kebanyakan politisi atau pejabat publik yang gemar berkata bohong (walau terbebas dari tekanan dan prahara)– misalnya demi sembunyikan integritas dan kapasitasnya yang cekak seraya amankan “isi tas” agar tetap membengkak.

Tapi Ahok bukanlah jenis “role model” yang layak buat dicontoh, lepas dari sisi baiknya. Ia rada-rada mengidap semacam “delusi personal” pada apa yang diyakininya benar. Penyakit yang membuat dia sukar, lost control untuk menyaring mana yang penting harus dikatakan dan mana yang harus disimpan, walau itu benar dalam pikirannya.

Cerita Ahok masih akan belum selesai, dan kita masih punya banyak kesempatan untuk menyaksikannya pada episode-episode berikutnya. Tapi dapat dipastikan angle ceritanya akan selalu bermula dari pikiran dan mulutnya yang tak berjarak. Saya diam-diam sering merasa terhibur, kecuali dalam kasus PSI.

Tapi reaksi yang diberikan PSI, seperti yang dipertontonkan Sis Danik lewat video “Danik Eka Rahmaningtyas: PSI Menjawab Ahok adalah hiburan lain yang tak kalah pentingnya: cool, terjaga, tak emosional, dan sebenarnya menyiratkan pikiran serta mental besar dari sebuah partai kecil.

Perkara partai “gede” dan “kecil” bukanlah takdir yang given. Selamanya gede dan selamanya kecil. Ia buah dari ikhtiar para protagonisnya di segala medan dan cuaca. Niat baik dan pikiran baik punya kakinya sendiri untuk bekerja pada momennya sendiri.

PSI, lebih dari sekedar partai adalah sebuah “deklarasi kesaksian” tentang perlunya etos baru dalam berpolitik. Klaim ini yang memang harus selalu dirawat. Sebagai partai, dia harus eksis; harus menari dengan disiplinnya sendiri di atas pentas. Tapi memang belum menjadi “partai hari ini” yang diperhitungkan betul –walau mulai dirasa serupa “kerikil dalam sepatu” bagi banyak pelaku oligarki culas di daerah-daerah tertentu (misalnya di DKI).

Sebagai partai trade-mark anak-anak muda terdidik, modern, urban based, PSI harus terus mengambil pelajaran secara kreatif dari pengalamannya yang belum panjang tapi teramat penting itu ke depannya.

PSI mengorganisasikan ide-ide progresifnya, seraya menjalankan langkah yang tak terburu-buru untuk apa yang dibayangkan akan memperkuat dirinya, seperti berhadapan denga orang seperti Ahok.

Taftazani
Pengamat politik patikelir

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.