Sabtu, Oktober 24, 2020

Ahok: PSI Partai Kecil Omong Gede?

Prabowo Subianto Membawa Kembali Orde Baru, Mungkinkah?

Calon presiden penantang petahana Prabowo Subianto kerap dicitrakan mewakili sisa-sisa Orde Baru. Ia dituding akan mengembalikan gaya pemerintahan Orde Baru. Pertanyaannya, benarkah itu yang...

Kami Bersama Mas Pur Tukang Ojek Pengkolan dan Juga Novita

Sebagai penonton (agak) setia TOP alias Tukang Ojek Pengkolan yang menemani perjalanan Mas Pur dan Novita dari mulai PDKT, jadian, sampai akhirnya putus ditinggal...

RKUHP: Dari Rasa Kolonial Kembali ke Zaman Batu

Presiden Jokowi akhirnya mendengarkan suara publik soal penolakan terhadap Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Presiden meminta penundaan pengesahan oleh DPR dan memerintahkan Menkumham...

Benarkah Kerja di Bank itu Riba?

Sore tadi didatangi seorang teman lama. Wajahnya tampak kusam seperti menyimpan masalah besar. "Ah, kabar kurang baik ini..." pikirku. Aku mempersilakan dia masuk. Kami ngobrol...
Avatar
Taftazani
Pengamat politik patikelir

Ahok adalah “manusia kontroversial abadi”. Kapan dan di mana pun dia berada, pikiran dan mulutnya tak berjarak. Bahkan, untuk sedikit menimbang manfaat dan mudaratnya, baik bagi dirinya maupun pihak lain.

Adalah sepenuhnya hak Ahok dengan segala alasan yang dibikinnya untuk memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Tapi apa perlunya harus berkata kasar terhadap Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hanya sekedar menolak ajakannya untuk bergabung? Bukankah yang dilakukan PSI normal belaka? Terlebih karena atas kesadaran prinsipilnya sendiri PSI pernah mengambil resiko dukung Ahok di momen-momen paling genting karirnya sebagai figur politik?

Nyablak sepertinya memang sudah bawaan orok Ahok. Ya, ia jujur dengan pikirannya, bahkan untuk perkara yang tak ada urgensinya untuk dikatakan. Sering tanpa kemasan pula! Ada nasehat lama: “Yang dikatakan harus benar, tetapi tidak setiap yang benar harus dikatakan” sepertinya tak berlaku buat orang seperti Ahok. Tak perduli dia orang lain teriris, marah, dan murka. Bodo amat!

Ahok tak butuh nasehat. Ia telah mengalami (mungkin berlanjut) jatuh-bangun dalam karir politiknya: sebagai wakil gubernur, gubernur, pernah dipenjara, lalu bebas dan sekarang menjadi Komisaris Pertamina! Nasehat dia (itu pun kalau dia mau), adalah menarik pesan dari puncak-puncak pengalaman dramatiknya sendiri. Bukan dari orang lain.

Saya masih menyisakan sedikit respek pada kejujuran pikirannya pada hal-hal yang sepenuhnya terkait dengan isu-isu publik yang strategis. Tak mudah buat figur politik yang mengidap “triple minority” (Cina, Kristen, dan orang sebrang) bisa omong tegas dan vulgar untuk sesuatu yang diyakininya benar, walau harus menanggung prahara.

Itu masih jauh lebih baik dari kebanyakan politisi atau pejabat publik yang gemar berkata bohong (walau terbebas dari tekanan dan prahara)– misalnya demi sembunyikan integritas dan kapasitasnya yang cekak seraya amankan “isi tas” agar tetap membengkak.

Tapi Ahok bukanlah jenis “role model” yang layak buat dicontoh, lepas dari sisi baiknya. Ia rada-rada mengidap semacam “delusi personal” pada apa yang diyakininya benar. Penyakit yang membuat dia sukar, lost control untuk menyaring mana yang penting harus dikatakan dan mana yang harus disimpan, walau itu benar dalam pikirannya.

Cerita Ahok masih akan belum selesai, dan kita masih punya banyak kesempatan untuk menyaksikannya pada episode-episode berikutnya. Tapi dapat dipastikan angle ceritanya akan selalu bermula dari pikiran dan mulutnya yang tak berjarak. Saya diam-diam sering merasa terhibur, kecuali dalam kasus PSI.

Tapi reaksi yang diberikan PSI, seperti yang dipertontonkan Sis Danik lewat video “Danik Eka Rahmaningtyas: PSI Menjawab Ahok adalah hiburan lain yang tak kalah pentingnya: cool, terjaga, tak emosional, dan sebenarnya menyiratkan pikiran serta mental besar dari sebuah partai kecil.

Perkara partai “gede” dan “kecil” bukanlah takdir yang given. Selamanya gede dan selamanya kecil. Ia buah dari ikhtiar para protagonisnya di segala medan dan cuaca. Niat baik dan pikiran baik punya kakinya sendiri untuk bekerja pada momennya sendiri.

PSI, lebih dari sekedar partai adalah sebuah “deklarasi kesaksian” tentang perlunya etos baru dalam berpolitik. Klaim ini yang memang harus selalu dirawat. Sebagai partai, dia harus eksis; harus menari dengan disiplinnya sendiri di atas pentas. Tapi memang belum menjadi “partai hari ini” yang diperhitungkan betul –walau mulai dirasa serupa “kerikil dalam sepatu” bagi banyak pelaku oligarki culas di daerah-daerah tertentu (misalnya di DKI).

Sebagai partai trade-mark anak-anak muda terdidik, modern, urban based, PSI harus terus mengambil pelajaran secara kreatif dari pengalamannya yang belum panjang tapi teramat penting itu ke depannya.

PSI mengorganisasikan ide-ide progresifnya, seraya menjalankan langkah yang tak terburu-buru untuk apa yang dibayangkan akan memperkuat dirinya, seperti berhadapan denga orang seperti Ahok.

Avatar
Taftazani
Pengamat politik patikelir
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.