Senin, Januari 18, 2021

Ahok: PSI Partai Kecil Omong Gede?

Adakah Hak Asasi Manusia untuk Pelaku Teror?

Menyatakan bahwa satu sistem pemerintahan lebih baik daripada yang lain itu pendapat, bukan kejahatan. Tapi Mengajak orang untuk melakukan tindakan pembunuhan atas nama Tuhan...

Mengapa Kalian Membenci SJW?

Kadang saya jengkel dengan orang-orang yang mengejek secara berlebihan terhadap apa yang namanya SJW (Social Justice Warriors). Entah karena apa, saya sering bersimpati pada...

Sandiaga Uno dan Erick Thohir, Bintang Pemilu 2024

Cukup lama tak terdengar kiprahnya usai gelaran Pilpres 2019, nama Sandiaga Uno tiba-tiba kembali mencuat. Presiden Jokowi menyebut Sandi sebagai tokoh yang patut diperhitungkan...

Neno Warisman, #2019GantiPresiden, dan Gerakan Liar Demokrasi Kita

Acara gerakan #2019GantiPresiden kembali mendapat penolakan di Pekanbaru. Banyak orang membela kelompok yang dimotori oleh Mardani Ali Sera dan Neno Warisman ini dengan alasan...
Avatar
Taftazani
Pengamat politik patikelir

Ahok adalah “manusia kontroversial abadi”. Kapan dan di mana pun dia berada, pikiran dan mulutnya tak berjarak. Bahkan, untuk sedikit menimbang manfaat dan mudaratnya, baik bagi dirinya maupun pihak lain.

Adalah sepenuhnya hak Ahok dengan segala alasan yang dibikinnya untuk memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Tapi apa perlunya harus berkata kasar terhadap Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hanya sekedar menolak ajakannya untuk bergabung? Bukankah yang dilakukan PSI normal belaka? Terlebih karena atas kesadaran prinsipilnya sendiri PSI pernah mengambil resiko dukung Ahok di momen-momen paling genting karirnya sebagai figur politik?

Nyablak sepertinya memang sudah bawaan orok Ahok. Ya, ia jujur dengan pikirannya, bahkan untuk perkara yang tak ada urgensinya untuk dikatakan. Sering tanpa kemasan pula! Ada nasehat lama: “Yang dikatakan harus benar, tetapi tidak setiap yang benar harus dikatakan” sepertinya tak berlaku buat orang seperti Ahok. Tak perduli dia orang lain teriris, marah, dan murka. Bodo amat!

Ahok tak butuh nasehat. Ia telah mengalami (mungkin berlanjut) jatuh-bangun dalam karir politiknya: sebagai wakil gubernur, gubernur, pernah dipenjara, lalu bebas dan sekarang menjadi Komisaris Pertamina! Nasehat dia (itu pun kalau dia mau), adalah menarik pesan dari puncak-puncak pengalaman dramatiknya sendiri. Bukan dari orang lain.

Saya masih menyisakan sedikit respek pada kejujuran pikirannya pada hal-hal yang sepenuhnya terkait dengan isu-isu publik yang strategis. Tak mudah buat figur politik yang mengidap “triple minority” (Cina, Kristen, dan orang sebrang) bisa omong tegas dan vulgar untuk sesuatu yang diyakininya benar, walau harus menanggung prahara.

Itu masih jauh lebih baik dari kebanyakan politisi atau pejabat publik yang gemar berkata bohong (walau terbebas dari tekanan dan prahara)– misalnya demi sembunyikan integritas dan kapasitasnya yang cekak seraya amankan “isi tas” agar tetap membengkak.

Tapi Ahok bukanlah jenis “role model” yang layak buat dicontoh, lepas dari sisi baiknya. Ia rada-rada mengidap semacam “delusi personal” pada apa yang diyakininya benar. Penyakit yang membuat dia sukar, lost control untuk menyaring mana yang penting harus dikatakan dan mana yang harus disimpan, walau itu benar dalam pikirannya.

Cerita Ahok masih akan belum selesai, dan kita masih punya banyak kesempatan untuk menyaksikannya pada episode-episode berikutnya. Tapi dapat dipastikan angle ceritanya akan selalu bermula dari pikiran dan mulutnya yang tak berjarak. Saya diam-diam sering merasa terhibur, kecuali dalam kasus PSI.

Tapi reaksi yang diberikan PSI, seperti yang dipertontonkan Sis Danik lewat video “Danik Eka Rahmaningtyas: PSI Menjawab Ahok adalah hiburan lain yang tak kalah pentingnya: cool, terjaga, tak emosional, dan sebenarnya menyiratkan pikiran serta mental besar dari sebuah partai kecil.

Perkara partai “gede” dan “kecil” bukanlah takdir yang given. Selamanya gede dan selamanya kecil. Ia buah dari ikhtiar para protagonisnya di segala medan dan cuaca. Niat baik dan pikiran baik punya kakinya sendiri untuk bekerja pada momennya sendiri.

PSI, lebih dari sekedar partai adalah sebuah “deklarasi kesaksian” tentang perlunya etos baru dalam berpolitik. Klaim ini yang memang harus selalu dirawat. Sebagai partai, dia harus eksis; harus menari dengan disiplinnya sendiri di atas pentas. Tapi memang belum menjadi “partai hari ini” yang diperhitungkan betul –walau mulai dirasa serupa “kerikil dalam sepatu” bagi banyak pelaku oligarki culas di daerah-daerah tertentu (misalnya di DKI).

Sebagai partai trade-mark anak-anak muda terdidik, modern, urban based, PSI harus terus mengambil pelajaran secara kreatif dari pengalamannya yang belum panjang tapi teramat penting itu ke depannya.

PSI mengorganisasikan ide-ide progresifnya, seraya menjalankan langkah yang tak terburu-buru untuk apa yang dibayangkan akan memperkuat dirinya, seperti berhadapan denga orang seperti Ahok.

Avatar
Taftazani
Pengamat politik patikelir
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.